Budaya  

Ahmadun Yosi Herfanda: Novel  “Perang Gowa” Karya Andi Makmur Makka  Kaya Nilai Sejarah

Suasana talk show bertema "Mengkaji Novel Sejarah Perang Gowa dan Meneladani Perjuangan Pahlawan Bangsa"  di Sasana Budaya Rumah Kita Dompet Dhuafa, Philanthropy Building, Jakarta Selatan, 3 September 2026. Tampil sebagai nara sumber Dr. Anhar Gonggong, Dr. Andi Makmur Makka,  dan Ahmadun, dengan moderator Juperta Panji Utama. (Foto: Istimewa)

Milenianews.com, Jakarta– Banyak nilai sejarah yang patut diteladani dalam novel Perang Gowa karya Andi Makmur Makka, terutama kepahlawanan raja Gowa, Sombaya. Menurut sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda, Raja Gowa itu adalah pejuang yang pantang menyerah pada penjajah, meski dikejar-kejar sampai dianggap ghaib, dan rakyat Gowa melanjutkan perlawanan rajanya itu. “Novel ini penting untuk dibaca gerasi muda agar melek sejarah, agar mereka tidak buta sejarah,” katanya dalam talk show di Philanthropy Building, Jakarta, belum lama ini.

Novel Perang Gowa ini, menurut Ahmadun, juga menarik bagi generasi muda karena dikemas dalam bingkai romantisme cinta dua orang joki kuda balap, Patta Emba dan Bunga Rossi, sekaligus kepahlawanan raja Gowa, Sombaya, melawan kelicikan dan tipu muslihat para musuh kerajaan Gowa.

“Sombaya memang  kalah licik dan kalah dalam politik adu domba. Patriotisme yang diperlihatkan Sombaya, yang layak jadi teladan bagi anak bangsa, akhirnya harus takluk oleh kelicikan dan taktik adu domba penjajah,” tambahnya. “Perang Gowa ini mirip perang Aceh. Tjut Nyak Dien tidak menyerah meski harus hidup berpindah-pindah di hutan,” tuturnya.

Menurut Ahmadun, novel Perang Gowa  ini dapat dianggap sebagai versi ketiga diantara versi yang telah ada. Versi pertama,  adalah teks kolonial yang rinci namun berat sebelah dan menganggap para pejuang sebagai ekstrimis atau pemberontak, dan versi kedua adalah tradisi lisan rakyat setempat yang menganggap para pejuang sebagai pahlawan dan masih hidup di masyarakat, tapi sering tanpa bukti. “Novel karya Andi Makmur Makka ini dapat dianggap sebagai versi ketiga Perang Gowa,” katanya.

Talk show ini bertema “Mengkaji Novel Sejarah Perang Gowa dan Meneladani Perjuangan Pahlawan Bangsa”  di Sasana Budaya Rumah Kita Dompet Dhuafa, Philanthropy Building, Jakarta Selatan, 3 September 2026. Tampil sebagai nara sumber Dr. Anhar Gonggong, Dr. Andi Makmur Makka,  dan Ahmadun, dengan moderator Juperta Panji Utama.

Novel Andi Makmur Makka, kata Ahmadun, mengambil jalan bijak yakni jalan tengah: menafsir, bukan menyalin. “Inilah versi ketiga itu. Arsip kolonial  dijadikan kerangka waktu dan peristiwa, sementara tradisi lisan dan ingatan rakyat menjadi jiwa cerita,” katanya. “Novel semacam ini sangat penting untuk dibaca oleh generasi muda, sebagai literasi sejarah, agar mereka melek sejarah. Novel ini bisa juga jadi sarana untuk melawan lupa,” tambahnya.

Mantan pemimpin redaksi Republika, Andi Makmur Makka, menceritakan kembali jejak-jejak Perang Gowa, dan menunjukkan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya, dengan menayangkan gambar-gambar. Sementara Anhar Gonggong menjelaskan Perang Gowa dari tinjauan sejarah dan pengaruhnya bagi nasyarakat. Tampak hadir para mantan petinggi Republika, seperti Ikhwanul Kiram Mashuri (mantan pemimpin redaksi), Yayat Supriyatna, Anif Punto Utomo, Ahmadie  Thaha, Rahmat,  dan sejumlah mantan karyawan surat kabar yang pernah fenomenal itu.

Ditanya peserta tentang bagaimana agar generasi muda tertarik pada sejarah,  Ahmadun mengatakan, mengangkat sejarah ke dalam novel merupakan salah satu cara untuk membuat generasi muda tertarik pada sejarah. Tentu saja kemasan novel itu harus menarik. Jangan terkesan terlalu serius dan tidak enak dibaca.

Menurut Ahmadun, banyak novel sejarah yang sudah ditulis dalam khasanah sastra Indonesia dan menarik generasi muda, misalnya Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, Dyah Pitaloka karya Hermawan Aksan, Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi, Max Havelar karya Multatuli, Gadis Kretek karya Ratih Kumala, dan Laut Bercerita karya Laila S. Chudori.

Apalagi kalau novel-novel itu difilmkan, seperti Ronggeng Dukuh Paruk, yang difilmkan menjadi Sang Penari, dan Gadis Kretek. Film-film itu banyak menarik perhatian anak muda. Film Sang Penari malah sempat box office. 

Karena itu, Ahmadun sepakat dengan ide Ikhwanul Kiram untuk menfilmkan novel Perang Gowa. “Saya kira menarik untuk dijadikan beberapa film pendek. Digarap dengan baik untuk segmen anak muda,” katanya.

Talk show diawali dengan karya swara lagu-lagu kebangsaan bersama Ronna Qurrota’ayun, dan diakhiri pembagian door prize  berupa buku novel Perang Gowa. MC Stefanni D.P. Aznika dapat menghidupkan suasana acara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *