Megahnya Jembatan Merah Putih dan Uniknya Tradisi Santap Ikan Keramba Teluk Ambon

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Kota Ambon dan Teluk Ambon adalah dua wilayah yang tak dapat dipisahkan. Kota Ambon sebagai ibu kota Provinsi Maluku berkembang di kedua sisi teluk. Bisa dibayangkan ada teluk yang dibatasi oleh dua daratan menyerupai jari yang menjulur; ruang di antara dua daratan inilah yang disebut Teluk Ambon Dalam, sedangkan pesisir bagian luar disebut sebagai Teluk Ambon Luar.

​Kota Ambon tumbuh dan berkembang karena keberadaan Teluk Ambon. Kombinasi antara bentang alam perbukitan hijau, perairan biru yang luas, serta perjalanan sejarah yang panjang membuat Ambon menjadi kota pesisir paling indah dan penting di Indonesia bagian timur.

​Lantaran teluk di bagian dalam diapit oleh dua daratan, air lautnya menjadi lebih tenang. Oleh karena itu, di teluk bagian dalam berkembang pelabuhan alami yang strategis sejak masa kejayaan rempah-rempah, berlanjut ke masa kolonial, hingga saat ini.

​Mengikuti kontur lanskap dan laut yang tenang, pusat pemerintahan, kawasan perdagangan, serta pemukiman warga lebih banyak berkembang di sekitar teluk bagian dalam. Sampai tahun 2016, masyarakat yang ingin bepergian dari satu sisi teluk ke sisi teluk yang lain harus mengelilingi teluk terlebih dahulu. Perjalanan tersebut bisa memakan waktu satu hingga dua jam, tergantung dari titik keberangkatan dan lokasi tujuan.

Baca juga: Ambon Manise, Menyusuri Laut, Pasar dan Rasa di Tanah Maluku

​Sebelum tahun 2016—ketika Jembatan Merah Putih (JMP) belum berdiri—Teluk Ambon dianggap sebagai penghalang alami yang membelah Ambon menjadi dua kawasan utama, yaitu Jazirah Leihitu di utara dan Jazirah Leitimur di selatan. Sebelum JMP beroperasi, perjalanan dari pusat Kota Ambon menuju seberang teluk, misalnya ke Bandara Pattimura, membutuhkan waktu sekitar satu jam dengan jarak tempuh sejauh 35 km. Setelah JMP beroperasi, perjalanan tersebut hanya membutuhkan waktu singkat sekitar 15 menit.

Jembatan Merah Putih Mempercepat Perkembangan Kota di Kedua Sisi

jembatan merah putih

​Sebelum JMP beroperasi, masyarakat yang ingin menyeberangi teluk memiliki dua pilihan: menggunakan kapal feri penyeberangan yang terikat jadwal dengan waktu tempuh 20 menit, atau memutar melalui jalan darat sejauh 35 km dengan waktu tempuh satu jam.

​Sementara itu, Kota Ambon terus tumbuh dengan pesat. Arus kendaraan dan distribusi barang makin besar, jumlah penduduk bertambah, serta aktivitas warga makin beragam sehingga mobilitas penduduk terus meningkat. Ketergantungan pada jalur darat yang memutar dan angkutan feri yang makin tinggi menyebabkan kemacetan, waktu tempuh yang tidak pasti, serta biaya transportasi yang mahal. Pada akhirnya, hal ini sempat menghambat perkembangan Kota Ambon secara keseluruhan.

​Pada tahun 2011, pemerintah memulai pembangunan Jembatan Merah Putih yang menghubungkan kedua sisi Teluk Ambon. Begitu jembatan ini diresmikan pada tahun 2016, waktu perjalanan memendek drastis dari satu jam menjadi hanya 15 menit. Kehadirannya memperlancar arus perpindahan barang, menekan biaya logistik, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Kota Ambon menjadi makin maju dan bercahaya, memperkokoh posisinya sebagai ikon Indonesia Timur.

​Jembatan ini dibangun sepanjang 1.140 meter dan terdiri dari tiga bentangan. Bagian utama jembatan menggunakan sistem cable-stayed yang melintas langsung di atas perairan Teluk Ambon dengan bentang sepanjang 300 meter. Sistem cable-stayed berarti lantai jembatan tidak hanya bertumpu pada pilar di bagian bawah, tetapi juga menggantung pada kabel-kabel yang ditarik dari pilon (tiang utama) menuju lantai jembatan.

​Lantai JMP terdiri dari dua arah yang masing-masing memiliki tiga lajur jalan dengan lebar keseluruhan 22,5 meter. Pilon atau tiang utama JMP memiliki tinggi sekitar 90 meter, setara dengan tinggi gedung Hotel Grand Hyatt Jakarta. Pilon inilah yang tampak anggun dan menjadi elemen visual dominan ketika JMP dilihat dari arah Teluk Ambon.

​Rampungnya jembatan ini membuat mobilitas masyarakat makin produktif. Penghematan waktu yang tercipta dapat dimanfaatkan untuk bekerja, belajar, beristirahat, ataupun menjalankan kegiatan ekonomi lainnya. Manfaat lainnya adalah biaya operasional kendaraan dan biaya perjalanan menjadi lebih murah, mulai dari penggunaan bahan bakar, usia pakai ban, hingga suku cadang kendaraan. Manfaat JMP tidak hanya dirasakan oleh penumpang, tetapi juga oleh pemilik kendaraan pribadi maupun angkutan umum.

​Dari sisi tata kota, JMP memberikan pengaruh penting terhadap perubahan wajah kota, khususnya bagi kawasan Poka dan Rumah Tiga. Area ini awalnya terkesan berada jauh di seberang jika dilihat dari pusat kota. Setelah JMP beroperasi, jarak geografis bukan lagi menjadi hambatan. Area Poka dan Rumah Tiga menjadi jauh lebih terintegrasi dengan pusat aktivitas dan komersial Kota Ambon.

​Terbangunnya JMP meningkatkan daya tarik kawasan untuk terus berkembang. Tumbuhlah pemukiman baru, pusat perdagangan, industri jasa, usaha kuliner, serta berbagai kegiatan ekonomi lainnya. Berkurangnya pengguna jasa penyeberangan memang membuat usaha perahu penyeberangan kehilangan penumpang, tetapi hadirnya jembatan ini membuka peluang ekonomi baru yang lebih luas di sepanjang koridornya.

Memilih Ikan Hidup Segar Langsung dari Keramba di Teluk Ambon

ikan bakar

​Setelah turun dari jembatan ke arah Poka, mobil yang kami tumpangi belok ke kanan dan tiba di tujuan. Saya sampai di sebuah restoran yang luas, sederhana, berkonsep terbuka, dan terletak persis di tepi teluk. Ada bangunan utama yang cukup lapang lengkap dengan peralatan musik, serta beberapa saung di sekitarnya. Saya berada di Walang Resto, di mana daya tariknya justru dimulai sebelum makanan tersaji di meja. Kami naik perahu yang ditarik menggunakan tali menuju keramba untuk memilih langsung ikan laut hidup yang ada di sana. Petugas menjaring ikan yang kami tunjuk, yaitu ikan laut jenis kuwe dalam kondisi segar dan hidup.

​Ini merupakan pengalaman pertama saya, belum pernah menemukan restoran di mana pembeli memilih sendiri ikan laut yang masih hidup dan diambil langsung dari keramba. “Ini ikan yang dibesarkan mulai dari ukuran dua jari,” kata petugas ketika saya bertanya. Konsep restoran ini memperkuat tradisi kuliner pesisir Kepulauan Maluku. Kesegaran ikan menjadi bintang utama, sementara bumbu dan sambal berfungsi mempertegas cita rasa.

Baca juga: Berlayar ke Saparua: Menyusuri Tanah Perjuangan Rakyat Maluku dan Bentang Alam yang Lestari

​Dari restoran ini, JMP terlihat sangat jelas dari sisi bawah. Dari meja di saung, bentang utama jembatan tampak melintasi teluk, menghubungkan kawasan Poka dan Galala. Tiang utamanya dipadukan dengan pendar lampu berwarna merah yang terlihat kokoh dengan untaian kabel yang tertata indah. Menunggu hidangan tiba sambil menikmati keindahan malam JMP menjadi momen yang menyenangkan.

​Sebelumnya, saya telah melihat keutuhan indah JMP dari atas melalui jendela hotel, serta merasakan sendiri kekokohan dan lebarnya saat melintas di atasnya. Dari restoran ini, JMP terlihat dari sudut bawah pada malam hari—tampak monumental berada dalam satu bingkai bersama Teluk Ambon dan pendar cahaya Kota Ambon di belakangnya.

​Ikan bakar dan masakan ikan kuah kuning akhirnya tersaji di meja. Sebagai menu tambahan, ada cumi, tumis kangkung, dan tak ketinggalan sambal colo-colo yang menjadi pasangan wajib ala Ambon untuk menikmati ikan. Untuk pilihan karbohidratnya, tersedia papeda dan nasi putih. Saya memilih papeda dan belajar kilat cara menghidangkannya: memindahkan papeda dari wadah utama ke atas piring menggunakan gumpit (sepasang sumpit kayu/bambu besar). Butuh gerakan yang cepat dan tepat—sebuah ritual unik tersendiri.

​Ambon dan Walang Resto memiliki keunikan yang sulit ditiru oleh restoran di Jakarta atau kota besar lainnya. Selain sajian ikan hidup yang diambil langsung dari keramba perairan teluk, jamuan makan malam berlangsung dalam balutan lanskap yang indah dan berkesan: suara riak ombak kecil, sejuknya udara teluk, desir angin laut, megahnya Jembatan Merah Putih, serta santapan ikan segar yang lezat. Sebuah perpaduan pengalaman menikmati Ambon yang sangat khas dan berkesan.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *