Milenianews.com – Lebih dari 230 kilometer bukanlah jarak yang singkat. Namun, bagi seekor gajah jantan bernama Sulong, jarak tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk kembali ke kawasan hutan yang diyakini sebagai habitat asalnya.
Perjalanan seekor gajah liar di Malaysia ini menarik perhatian masyarakat setelah Sulong terlihat berjalan menyusuri Jalan Raya Timur-Barat (JRTB) yang menghubungkan Gerik dan Jeli. Di tengah perjalanan, satwa tersebut harus berhadapan dengan jalan raya, kendaraan, hingga pengawasan petugas yang berusaha mengarahkannya kembali ke dalam hutan.
Kisah Sulong juga memperlihatkan persoalan yang lebih besar. Ketika habitat alami semakin terdesak oleh aktivitas manusia, perjumpaan antara satwa liar dan manusia menjadi semakin sulit dihindari.
Dari Cagar Alam Menuju Hutan Asal
Sulong pertama kali menarik perhatian pengguna jalan pada 17 Agustus 2026. Saat itu, gajah jantan dewasa tersebut terlihat bergerak perlahan di sepanjang JRTB rute Gerik-Jeli menuju Kelantan di bagian timur laut Malaysia.
Sebelumnya, otoritas perlindungan satwa liar Malaysia telah memindahkan Sulong ke sebuah cagar alam di Gerik, Perak. Relokasi tersebut dilakukan setelah gajah itu beberapa kali memasuki kawasan perkebunan dan permukiman warga di sekitar Desa Chalil, Distrik Gua Musang, Kelantan.
Lokasi cagar alam tersebut berada lebih dari 230 kilometer dari kawasan hutan sekitar Desa Chalil. Wilayah itulah yang diduga kuat menjadi tempat Sulong berasal dan sebelumnya menjadi lokasi ia berkeliaran.
Namun, setelah dipindahkan, Sulong justru bergerak kembali ke arah Kelantan.
Perjalanannya kemudian menjadi perhatian publik. Melalui media sosial, masyarakat Malaysia mengikuti perkembangan gajah tersebut sekaligus menunjukkan rasa simpati dan kekhawatiran. Sulong diperkirakan telah menempuh perjalanan lebih dari 100 kilometer ketika pemantauan terbaru dilakukan.
Baca juga: Atasi Konflik Gajah dan Manusia, Para Akademisi dan Praktisi Konservasi Kolaborasi Lakukan Ini
Berkali-kali Kembali ke Jalan
Perjalanan Sulong tidak berlangsung tanpa hambatan. Petugas dari Jabatan Perlindungan Hidupan Liar dan Taman Negara (Perhilitan) terus memantau pergerakannya.
Petugas bahkan beberapa kali harus mengarahkan Sulong kembali ke kawasan hutan setelah gajah tersebut kembali muncul di jalan raya.
Perhilitan menyatakan bahwa operasi pengarahan dilakukan dua kali dalam sehari, baik siang maupun malam. Pergerakan serta kondisi fisik Sulong juga terus diamati untuk memastikan keselamatannya.
Upaya tersebut dilakukan bukan hanya untuk melindungi gajah, tetapi juga untuk mencegah terjadinya gangguan terhadap pengguna jalan.
Dalam perkembangan terakhir, Sulong dilaporkan telah kembali bergerak memasuki kawasan hutan di Kelantan.
Ada Luka di Kaki, tetapi Masih Mampu Mencari Makan
Di tengah perjalanan panjangnya, Sulong juga diketahui mengalami luka pada kaki depan sebelah kanan.
Hasil pemantauan lapangan menunjukkan luka tersebut mulai mengering dan memperlihatkan tanda-tanda penyembuhan. Secara keseluruhan, kondisi fisik serta perilaku Sulong masih dilaporkan normal.
Gajah tersebut masih dapat bergerak dan mencari makanan di sekitar kawasan tempatnya berada.
Meski begitu, petugas tetap meningkatkan kewaspadaan. Tim dokter hewan akan melakukan evaluasi untuk mengetahui kondisi luka secara lebih menyeluruh sekaligus menentukan apakah Sulong membutuhkan tindakan medis lebih lanjut.
Perjalanan panjang yang ditempuh Sulong dengan kondisi kaki yang terluka membuat pemantauan terhadapnya menjadi semakin penting.
Ketika Satwa Liar Berhadapan dengan Jalan Raya
Kemunculan Sulong di sepanjang JRTB bukan hanya menjadi tontonan bagi masyarakat. Kehadirannya juga menghadirkan risiko bagi keselamatan satwa dan pengguna jalan.
Karena itu, Perhilitan mengeluarkan sejumlah imbauan kepada pengendara yang melintasi jalur tersebut, khususnya di sekitar kawasan Rest & Recreation (R&R) Titiwangsa.
Pengendara diminta memperlambat kendaraan dan mengikuti arahan petugas yang berada di lokasi. Masyarakat juga dilarang berhenti hanya untuk mengambil foto atau merekam video Sulong karena aktivitas tersebut dapat mengganggu lalu lintas.
Pengendara juga tidak diperbolehkan memberikan makanan atau meninggalkan makanan di sepanjang jalan. Jika melihat gajah atau satwa liar lainnya di tepi jalan, pengendara diminta tetap berada di dalam kendaraan dan tidak melakukan tindakan yang dapat memancing respons satwa.
Bagi masyarakat yang menemukan keberadaan satwa liar, laporan dapat disampaikan kepada Perhilitan melalui hotline 1-800-88-5151 atau Sistem Pengurusan Aduan Awam (SISPAA).
Baca juga: Hari Gajah Sedunia 2026, Populasi Gajah Sumatera dan Kalimantan Kian Terancam
Perjalanan Pulang yang Mengingatkan tentang Habitat
Kisah Sulong tidak berhenti pada perjalanan seekor gajah dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Sebelum dipindahkan, gajah tersebut diketahui beberapa kali memasuki perkebunan dan permukiman warga. Relokasi dilakukan sebagai upaya mencegah konflik antara satwa liar dan manusia. Namun, Sulong kemudian bergerak kembali menuju wilayah yang diduga merupakan habitat asalnya.
Peristiwa tersebut menunjukkan betapa rumitnya persoalan ketika ruang hidup satwa liar beririsan dengan wilayah aktivitas manusia.
Di satu sisi, masyarakat membutuhkan ruang untuk tinggal dan menjalankan aktivitas. Di sisi lain, satwa liar membutuhkan habitat untuk bertahan hidup dan mencari makanan.
Kini, Sulong telah kembali memasuki kawasan hutan Kelantan dan masih berada dalam pemantauan petugas.
Perjalanannya mungkin akan segera menjauh dari jalan raya dan kembali ke dalam rimbunnya hutan. Namun, kisah gajah yang berjalan ratusan kilometer ini meninggalkan satu pertanyaan yang lebih besar: ketika seekor satwa harus menempuh perjalanan sejauh itu untuk mencari jalan pulang, seberapa banyak ruang yang masih tersisa bagi mereka di rumahnya sendiri?
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.










