Milenianews.com, Bekasi – Bagi sebagian anak, perjalanan menuju sekolah mungkin hanya membutuhkan beberapa langkah dari rumah menuju kendaraan atau berjalan kaki melewati jalan yang tersedia.
Namun, bagi anak-anak di Muara Bendera, Desa Pantai Bahagia, Kabupaten Bekasi, perjalanan menuju sekolah memiliki cerita berbeda. Perahu menjadi bagian dari perjalanan mereka untuk menuntut ilmu.
Pemandangan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang membekas bagi Sinta, mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sekaligus mentor Tim 13 BSI Explore 2026 Desa Pantai Bahagia.
Selama menjalankan pengabdian, Sinta tidak hanya melihat bagaimana mahasiswa menjalankan program yang telah disiapkan. Ia juga berkesempatan menyaksikan secara langsung kehidupan masyarakat yang harus beradaptasi dengan kondisi geografis dan keterbatasan infrastruktur.
Dari pengalaman tersebut, muncul satu harapan: agar akses dan fasilitas di Pantai Bahagia mendapatkan perhatian lebih.
Ketika Perahu Menjadi Akses Pendidikan
Muara Bendera memiliki kondisi geografis yang berbeda dibandingkan kawasan perkotaan. Sebagian wilayahnya telah didominasi perairan sehingga akses melalui jalan darat menjadi sangat terbatas.
Kondisi tersebut turut memengaruhi kehidupan anak-anak yang tinggal di kawasan tersebut.
Sinta sebelumnya melihat bahwa siswa SDN Pantai Bahagia 02 yang berasal dari Muara Bendera masih menggunakan perahu untuk berangkat dan pulang sekolah.
Bagi anak-anak tersebut, perahu bukan sekadar alat transportasi. Ia menjadi bagian dari rutinitas untuk mendapatkan pendidikan.
Kondisi itu membuat Sinta memandang persoalan pendidikan di Pantai Bahagia dari sisi yang lebih luas. Menurutnya, pendidikan bukan hanya mengenai proses belajar di dalam kelas, tetapi juga mengenai akses anak untuk mencapai sekolah dan memperoleh fasilitas pendukung yang layak.
Harapan pada Infrastruktur Pantai Bahagia
Pengalaman berada langsung di lapangan membuat Sinta melihat bahwa perbaikan infrastruktur menjadi salah satu kebutuhan penting bagi masyarakat.
Ia menilai akses jalan yang lebih baik tidak hanya akan memudahkan mobilitas warga, tetapi juga dapat membuka peluang bagi potensi lingkungan yang dimiliki Desa Pantai Bahagia.
“Saya berharap infrastruktur di sini bisa ditingkatkan kembali. Jalanan di sini juga diperbarui lagi. Kalau jalannya bagus, sebenarnya ini bisa menjadi tempat wisata yang bagus, terutama mangrovenya. Di ujung sana juga masih ada lutung yang hidup di kawasan mangrove,” ujar Sinta dalam keterangan rilis yang diterima pada Jumat (21/8).
Menurutnya, keberadaan mangrove dan habitat lutung di Muara Bendera merupakan potensi yang dapat dikembangkan sebagai ruang edukasi sekaligus wisata berbasis lingkungan.
Dengan akses yang semakin baik, masyarakat tidak hanya akan lebih mudah menjalankan aktivitas sehari-hari. Kawasan tersebut juga berpeluang dikenal lebih luas sebagai wilayah yang memiliki kekayaan ekologis.
Baca juga: Sekolah di Tengah Perairan, BSI Explore 2026 Temukan Kisah Siswa yang Masih Andalkan Perahu
Ada Potensi Wisata di Balik Keterbatasan
Pantai Bahagia memperlihatkan dua sisi yang berjalan bersamaan.
Di satu sisi, masih terdapat persoalan akses yang membuat sebagian anak harus menggunakan perahu untuk pergi ke sekolah. Di sisi lain, terdapat ekosistem mangrove dan habitat lutung yang memiliki nilai ekologis sekaligus potensi untuk dikembangkan.
Bagi Sinta, kedua hal tersebut tidak seharusnya dilihat secara terpisah.
Perbaikan akses dan infrastruktur dapat menjadi pintu untuk membuka potensi yang ada, sementara kelestarian lingkungan tetap harus menjadi perhatian ketika kawasan tersebut dikembangkan.
Kawasan mangrove, menurutnya, dapat menjadi ruang yang bukan hanya memberikan perlindungan bagi pesisir, tetapi juga menjadi tempat masyarakat dan generasi muda belajar mengenal lingkungan.
Persoalan Pendidikan Tak Berhenti di Ruang Kelas
Selain persoalan infrastruktur, perhatian Sinta juga tertuju pada kebutuhan siswa di SDN Pantai Bahagia 02.
Selama berada di lapangan, ia menyampaikan bahwa sekolah tersebut berdasarkan informasi yang diketahuinya belum mendapatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Untuk program Makan Bergizi Gratis, setahu saya SDN Pantai Bahagia 02 ini belum mendapatkannya. Sebelumnya sekolah juga sudah menyampaikan harapan agar program tersebut bisa diberikan, tetapi sampai saat ini belum turun,” kata Sinta.
Catatan tersebut menjadi bagian dari pengalaman mahasiswa selama menjalankan BSI Explore 2026.
Apa yang mereka temukan menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak hanya berbicara mengenai materi pelajaran dan kegiatan belajar mengajar. Akses menuju sekolah, fasilitas pendukung, kebutuhan siswa, hingga kondisi lingkungan tempat mereka tinggal turut menjadi bagian dari ekosistem pendidikan.
Bagi anak-anak Pantai Bahagia, mendapatkan pendidikan berarti beradaptasi dengan kondisi yang ada.
Belajar dari Masyarakat, Bukan Hanya Mengajar
Kehadiran mahasiswa UBSI melalui BSI Explore 2026 kemudian memberikan pengalaman yang berbeda bagi para peserta.
Mahasiswa datang membawa sejumlah program pendidikan dan lingkungan. Namun, selama berada di tengah masyarakat, mereka juga mendapatkan pelajaran yang tidak selalu ditemukan di ruang perkuliahan.
Sinta melihat bagaimana masyarakat menjalani kehidupan di tengah keterbatasan akses. Ia juga melihat semangat anak-anak untuk tetap bersekolah, potensi lingkungan yang masih dapat dikembangkan, serta kebutuhan masyarakat yang membutuhkan perhatian berkelanjutan.
Pengalaman tersebut membuat makna pengabdian menjadi lebih luas.
Mahasiswa bukan hanya datang untuk memberikan sesuatu kepada masyarakat, tetapi juga mendengarkan, mengamati, dan memahami persoalan yang mereka temui secara langsung.
Pantai Bahagia dan Harapan yang Belum Selesai
Di Pantai Bahagia, sebuah perahu dapat menjadi kendaraan menuju sekolah. Jalan yang sulit dapat menentukan bagaimana masyarakat menjalankan aktivitas sehari-hari. Sementara di balik kondisi tersebut, mangrove dan habitat lutung menyimpan potensi yang dapat menjadi kekuatan desa.
Semua cerita itu menjadi bagian dari pengalaman Sinta selama mengikuti BSI Explore.
Ia berharap perhatian terhadap Pantai Bahagia tidak berhenti ketika program pengabdian mahasiswa selesai. Menurutnya, desa membutuhkan dukungan yang dapat membuka akses, memperkuat fasilitas pendidikan, sekaligus menjaga potensi lingkungan yang dimiliki.
Sebab, bagi anak-anak yang tinggal di Muara Bendera, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar persoalan pergi dan pulang. Ada kondisi geografis yang harus mereka hadapi setiap hari demi mendapatkan pendidikan.
Dan bagi mahasiswa BSI Explore 2026, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa masih ada banyak cerita masyarakat yang perlu didengar.
Terkadang, yang dibutuhkan sebuah desa bukan sekadar program yang datang dan kemudian pergi. Lebih dari itu, ada akses yang perlu dibuka, potensi yang perlu dirawat, serta perhatian yang membuat masyarakat merasa tidak berjalan sendirian.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













