Singapura Dinobatkan sebagai Negara Paling Bising di Dunia, Apa Sebabnya?

Singapura Dinobatkan Sebagai Negara Paling Bising

Milenianews.com – Bayangkan sebuah negara dengan luas wilayah yang relatif terbatas, tetapi dipenuhi aktivitas manusia, kendaraan, wisatawan, hingga berbagai infrastruktur transportasi. Di satu sisi, kondisi tersebut membuat kehidupan di dalamnya bergerak cepat dan efisien. Namun di sisi lain, keramaian menjadi sesuatu yang sulit dihindari.

Gambaran tersebut dapat ditemukan di Singapura. Negara kota ini baru-baru ini menempati posisi pertama dalam pemeringkatan negara berdasarkan tingkat ketenangan yang disusun oleh agensi perjalanan Go2Africa.

Singapura memperoleh Quiet Score 6,78 dari 100, menjadi skor ketenangan terendah dalam pemeringkatan tersebut. Semakin rendah skor yang diperoleh, semakin kecil pula peluang sebuah negara menawarkan suasana yang tenang menurut indikator yang digunakan dalam indeks tersebut.

Namun, predikat sebagai negara paling bising perlu dipahami dengan tepat. Pemeringkatan tersebut tidak mengukur tingkat kebisingan secara langsung menggunakan satuan desibel. Penilaiannya menggunakan beberapa faktor yang dianggap berpengaruh terhadap kemungkinan seseorang menemukan suasana yang tenang.

Bukan Sekadar Soal Suara

Go2Africa menggunakan sejumlah indikator dalam menyusun Noise-Free Nations Index. Faktor yang diperhitungkan antara lain kepadatan penduduk, jumlah wisatawan, proporsi wilayah pedesaan, kawasan yang dilindungi, kepadatan kendaraan bermotor, keberadaan bandara, serta jaringan kereta api.

Dengan kata lain, istilah “paling bising” dalam pemeringkatan ini lebih menggambarkan seberapa sulit seseorang menemukan ketenangan, bukan klaim bahwa setiap sudut Singapura memiliki suara yang lebih keras dibanding negara lain.

Kondisi Singapura membuatnya cukup menonjol dalam sejumlah indikator tersebut. Negara ini memiliki kepadatan penduduk sekitar 8.436 jiwa per kilometer persegi. Jumlah wisatawan yang tinggi juga membuat kepadatan aktivitas di wilayahnya semakin terasa. Dalam data yang digunakan pemeringkatan, kepadatan pengunjung tercatat sekitar 23.609 jiwa per kilometer persegi.

Ketika jumlah penduduk dan pengunjung yang besar harus beraktivitas di wilayah yang terbatas, ruang publik pun menjadi lebih ramai. Kawasan perbelanjaan, destinasi wisata, stasiun transportasi, hingga berbagai pusat aktivitas perkotaan menjadi tempat bertemunya banyak orang dalam waktu yang bersamaan.

Baca juga: Ancol Targetkan Ribuan Pengunjung di Malam Perayaan Tahun Baru

Ruang Tenang yang Terbatas

Kepadatan penduduk bukan satu-satunya faktor. Luas wilayah pedesaan Singapura yang hanya sekitar 30 persen turut memengaruhi posisi negara tersebut dalam pemeringkatan.

Wilayah pedesaan dan ruang terbuka dapat memberikan alternatif bagi orang yang ingin menjauh dari kepadatan aktivitas perkotaan. Namun, dengan proporsi wilayah seperti itu, pilihan untuk mencari area yang benar-benar jauh dari hiruk-pikuk kota menjadi lebih terbatas.

Situasi tersebut semakin terasa karena Singapura juga memiliki sistem transportasi yang sangat berkembang. Jalan raya, jaringan kereta, dan lalu lintas udara menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat maupun wisatawan.

Infrastruktur yang padat memang membawa banyak keuntungan. Mobilitas menjadi lebih mudah dan berbagai kawasan dapat diakses dengan cepat. Namun, dalam sebuah pemeringkatan yang berusaha melihat peluang seseorang mendapatkan ketenangan, kepadatan infrastruktur justru menjadi salah satu faktor yang menurunkan skor.

Wisatawan Turut Menambah Aktivitas

Sebagai salah satu destinasi wisata populer, Singapura juga terus didatangi pelancong dari berbagai negara.

Kehadiran wisatawan membuat aktivitas di ruang-ruang publik semakin dinamis. Area wisata, pusat perbelanjaan, transportasi umum, dan berbagai fasilitas kota menjadi tempat berlangsungnya aktivitas manusia dalam jumlah besar.

Hal inilah yang turut menjelaskan mengapa Singapura mendapatkan skor ketenangan yang rendah. Bukan karena seluruh negara tersebut dipenuhi suara bising, melainkan karena kombinasi antara kepadatan penduduk, wisatawan, kendaraan, dan infrastruktur membuat ruang yang benar-benar sunyi relatif lebih sulit ditemukan.

Baca juga: Menjelajahi Joji’s Diner: Destinasi Kuliner Retro Terpopuler di Singapura

Maladewa hingga Lebanon Menyusul

Singapura bukan satu-satunya negara yang mendapatkan skor ketenangan rendah. Dalam daftar lima negara dengan skor terendah, posisi berikutnya ditempati Maladewa dengan skor 8,48, kemudian Barbados dengan 10,12, Qatar dengan 15,45, dan Lebanon dengan 18,13.

Di sisi berlawanan, Bhutan berada di posisi teratas sebagai negara dengan tingkat ketenangan tertinggi. Negara tersebut memperoleh Quiet Score 89,44 dari 100. Namibia, Botswana, Zambia, dan Gabon juga berada di jajaran negara dengan skor ketenangan tinggi.

Negara-negara tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dari Singapura, seperti kepadatan penduduk yang lebih rendah dan wilayah alami yang lebih luas. Kondisi tersebut memberikan lebih banyak ruang bagi wisatawan maupun masyarakat untuk menjauh dari pusat aktivitas manusia.

Meski demikian, Go2Africa juga mengingatkan bahwa skor ketenangan yang tinggi tidak otomatis menjadikan sebuah negara sebagai destinasi wisata yang paling ideal. Jumlah penduduk dan wisatawan yang rendah, misalnya, dapat menjadi salah satu faktor yang membuat suatu negara memperoleh skor tinggi.

Pada akhirnya, predikat “negara paling bising” yang diberikan kepada Singapura bukanlah ukuran sederhana tentang seberapa keras suara yang terdengar di jalanan.

Lebih dari itu, pemeringkatan tersebut menggambarkan konsekuensi dari sebuah negara kota yang hidup dalam ritme cepat dari ruang terbatas, aktivitas manusia padat, mobilitas tinggi, dan arus wisatawan yang terus bergerak.

Di tengah gemerlap gedung pencakar langit dan sistem transportasi yang serba terhubung, mungkin justru menemukan hening menjadi sebuah kemewahan tersendiri.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *