Eksplorasi Kampong Gelam Lewat Warna Mural Haji Lane dan Anggunnya Bussorah Street

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Di balik gemerlap pencakar langit dan riuk-pikuk gaya hidup modern Singapura, Kampong Gelam berdiri membawa narasi masa lalu yang kaya. Dua koridor berdekatan di kawasan ini, yaitu Haji Lane dan Bussorah Street, hadir mewakili perpaduan harmonis antara sejarah, budaya, serta dinamika kehidupan urban kontemporer. Meski berada dalam satu lanskap, keduanya menawarkan karakter kontras yang justru saling melengkapi.

Kampong Gelam mencatatkan jejak pemukiman tertua di Singapura. Bermula dari desa persinggahan sementara para nelayan Melayu, kawasan ini berkembang menjadi pemukiman strategis yang terbuka bagi berbagai suku bangsa, khususnya dari kawasan Nusantara dan Timur Tengah. Sebagai salah satu distrik bersejarah tertua, Kampong Gelam sukses merawat perpaduan budaya Melayu-Arab yang berakulturasi dengan kreativitas modern masa kini.

Haji Lane tampil memikat dengan deretan rumah toko (shophouse) era kolonial Inggris yang dipenuhi mural warna-warni, kafe unik, dan ruang-ruang kreatif yang fotogenik. Di sisi lain, Bussorah Street menyajikan atmosfer yang lebih tenang, anggun, dan syarat akan nilai sejarah. Didominasi restoran khas Turki, kafe, serta toko suvenir berarsitektur klasik, koridor ini memancarkan kehangatan warisan multikultural Singapura secara autentik.

Baca juga: Penjaga Warisan Melayu di Kampung Gelam dan Jejak Gurih Nasi Padang Singapura

Menjelajahi kedua jalan ini pada sore hari memberikan pengalaman perjalanan yang mendalam. Langkah kaki di sini bukan sekadar berpindah dari satu titik ke titik lain, melainkan sebuah penelusuran sejarah panjang tentang perjumpaan bangsa-bangsa, tradisi, dan kebudayaan di Tanah Melayu.

Haji Lane: Titik Temu Seni dan Tradisi

haji lane

Aroma biji kopi yang baru digiling menyeruak ke udara saat melangkah masuk ke Coffee Donkee di Haji Lane 51. Sinar matahari sore menembus celah jendela rumah toko kolonial, menghadirkan suasana hangat dan intim berkat elemen interior kayu berkonsep minimalis ala Jepang. Kafe ini terasa seperti oase yang tenang di tengah riuk-pikuk Haji Lane.

Haji Lane dapat diibaratkan sebagai galeri seni terbuka. Dinding-dinding bangunan, pintu toko, hingga sudut jalan dimanfaatkan sebagai kanvas bagi para seniman mural lokal maupun internasional. Rangkaian butik, kafe, dan ruang kreatif menghidupkan lorong bebas kendaraan bermotor ini sepanjang hari. Rumah toko dua hingga tiga lantai yang telah direstorasi makin memperkuat kesan artistik kawasan.

Di tempat ini, saya menikmati segelas Pandan Coconut Coffee—menu andalan Coffee Donkee yang memadukan kopi hitam mantap dengan gurihnya kelapa dan keharuman pandan khas Asia Tenggara. Sambil menyeruput kopi di ruangan berkonsep terbuka tanpa pendingin udara, mata bebas mengamati para pengunjung dan pelancong yang hilir mudik di jalanan bermural. Rasanya sungguh rileks, menikmati ketenangan secangkir kopi di tengah denyut kreativitas kota.

Bussorah Street: Jejak Nusantara dan Timur Tengah

bussorah street

Bussorah Street mewakili tata ruang Islam tradisional, tempat jalan utama berfungsi sebagai penghubung antara pemukiman, kawasan komersial, dan pusat ibadah. Jalan ini membentang lurus dengan garis simetris yang mengarah tepat pada kubah emas Masjid Sultan yang ikonis.

Pada mulanya, koridor ini dikenal sebagai Sultan Street. Namanya kemudian diubah menjadi Bussorah Street pada tahun 1910 saat masa pemerintahan kolonial Inggris, merujuk pada Kota Basra—sebuah pelabuhan legendaris di Irak yang kala itu memiliki relasi perniagaan erat dengan Singapura.

Dalam catatan sejarah, Bussorah Street juga sempat dikenal sebagai Pilgrim Village atau Kampung Haji. Di sinilah ribuan calon jemaah haji dari seluruh Nusantara—termasuk Indonesia dan Malaysia—berkumpul untuk menunggu jadwal keberangkatan kapal menuju Jeddah, Arab Saudi. Selama masa tunggu yang bisa memakan waktu hingga satu bulan lebih, calon jemaah menginap di rumah-rumah warga, beribadah, serta mendapatkan bimbingan dari para syekh haji. Aktivitas ini pula yang memicu bertumbuhnya bisnis perlengkapan haji serta kedai makan halal beraroma Timur Tengah di sekitarnya.

Baca juga: Menembus Bukit Kapur Lembah Kinta Demi Segelas Kopi Putih dan Stasiun Tua Ipoh

Tradisi transit haji ini bertahan hingga awal dekade 1970-an, sebelum akhirnya beralih ke moda transportasi udara. Meski sempat mengalami masa penurunan kegiatan, pada awal tahun 1990-an kawasan ini ditata ulang secara masif oleh Pemerintah Singapura sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya Kampong Gelam.

Saat ini, Bussorah Street membentang sebagai koridor pejalan kaki yang rapi tanpa kendaraan bermotor. Deretan shophouse berarsitektur perpaduan gaya Tionghoa, Kolonial Inggris, dan ornamen Timur Tengah berdiri megah dengan fasad bermotif ukiran, jendela berdaun ganda, serta ventilasi kayu yang klasik. Elemen menarik lainnya adalah keberadaan five-foot way (kaki lima)—selasar beratap selebar 1,5 meter di depan ruko yang dahulu berfungsi melindungi pejalan kaki dari panas dan hujan.

Sambil menikmati segelas jus segar di salah satu restoran di Bussorah Street, pikiran saya melayang memikirkan bagaimana jejak sejarah Timur Tengah dan Nusantara dapat terawat begitu apik di tengah kota metropolitan dunia. Sebuah karakter kawasan yang kuat, dan rasanya kita bisa belajar banyak dari cara Singapura merawat warisan sejarahnya.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *