Milenianews.com, Mombasa— Anggota Komisi IV DPR RI yang juga Guru Besar Kelautan dan Perikanan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS menjadi salah satu pembicara di forum Our Ocean Conference 2026 yang digelar di Mombasa, Kenya, 16-18 Juni 2026.
Konferensi ini menampilkan dialog tingkat tinggi yang menghadirkan kepala negara dan pemimpin dunia, anggota parlemen, praktisi konservasi, dan mitra internasional. Dari Indonesia, sambutan utama disampaikan oleh Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Sejumlah pembicara terkemuka dari Indonesia tampil di acara tersebut, termasuk Prof. Rokhmin Dahuri, Selasa (16/6/2026).
Ia membawakan makalah berjudul “Ekonomi Biru, Perencanaan Ruang Laut, dan Kawasan Konservasi Laut untuk Pembangunan Pantai dan Laut Berkelanjutan di Indonesia: Sebuah Contoh untuk Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan di Dunia”.
Prof. Rokhmin mengawali makalahnya dengan menjelaskan posisi Indonesia dalam Pembangunan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa dari perspektif Pembangunan Berkelanjutan, Indonesia dan negara berkembang lainnya berada di persimpangan jalan dalam pengembangan ekonomi pesisir dan laut mereka (Ekonomi Biru).
“Di satu sisi, Indonesia masih perlu memanfaatkan (mengembangkan) sumber daya pesisir dan lautnya untuk memproduksi barang (komoditas dan produk) serta jasa, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menyediakan lapangan kerja yang layak bagi kelas pekerja yang terus bertambah, mengurangi kemiskinan, dan mengubah status pembangunan dari negara berpenghasilan menengah menjadi negara maju dan berpenghasilan tinggi (sejahtera) pada tahun 2045 ( Indonesia Emas 245,” paparnya.


Di sisi lain, ia melanjutkan, keberlanjutan banyak ekosistem pesisir dan laut serta sumber daya alam yang terkandung di dalamnya terancam karena penangkapan ikan berlebihan; penangkapan ikan yang merusak; penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (IUU fishing); polusi; rusaknya ekosistem pesisir (muara, hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang); serta dampak Perubahan Iklim Global termasuk naiknya permukaan laut, pengasaman laut, cuaca ekstrem, El Nino, dan La Nina. “Solusinya adalah: menerapkan prinsip-prinsip Pembangunan Berkelanjutan!,” tegas Prof. Rokhmin yang juga Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI).
Prof. Rokhmin mengungkapkan, Indonesia adalah Negara Kepulauan terbesar di dunia dengan potensi Ekonomi Biru dan Karbon Biru (Penyerapan Karbon) yang besar. “Indonesian memiliki sekitar 50.875 km2 terumbu karang. Jika estimasi konservatif ini, akurat, maka berarti Indonesia memikiki 51% dari terumbu karang di wilayah Selatan Timur Raya (South East Asia Region) dan 18% (284.300 km2) dari terumbu karang di dunia,” kata Prof. Rokhmin mengutip data World Resources Institute.
Ia menambahkan, kekayaan terumbu karang bukan hanya berkontribusi pada kekayaan keanekaragaman hayati, tetapi juga untuk pembangunan ekonomi, ketahanan pangan, dan ilmu pengetahuan bagi Indonesia dan dunia.
Terkait Ekonomi Biru, Prof. Rokhmin mengaskan, “Ekonomi Biru terdiri dari semua kegiatan ekonomi (produksi, distribusi, dan konsumsi) yang terjadi di wilayah pesisir dan laut, serta kegiatan ekonomi di darat (daerah pedalaman) yang memanfaatkan sumber daya alam dari pesisir dan laut untuk menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan manusia dengan cara yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.”
Baca Juga : Prof. Rokhmin Dahuri: Atasi Deforestasi, Revisi UU Kehutanan Jadi Prioritas
Jadi, dia melanjutkan, Ekonomi Biru bukan cuma soal mengambil lebih banyak sumber daya dari laut. Lebih dari itu, ini tentang menciptakan kemakmuran yang berkelanjutan dengan menjaga integritas ekologis ekosistem pesisir dan laut sambil membuka peluang ekonomi untuk generasi sekarang dan yang akan datang.
”Dalam kerangka Ekonomi Biru, konservasi dan pembangunan ekonomi seharusnya tidak dilihat sebagai tujuan yang bertentangan. Malah, keduanya harus diakui sebagai pilar saling menguatkan dari pembangunan berkelanjutan. Laut yang sehat bukanlah penghalang bagi pertumbuhan ekonomi,” ujar Prof. Rokhmin yang juga Ketua Dewan Pakar ASPEKSINDO (Asosiasi Pemerintah Daerah Pesisir dan Kepulauan se-Indonesia).


Dalam makalahnya, Prof. Rokhmin juga membahas ancaman terhadap keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut Indonesia; dinamika global yang menentukan ekonmi dunia dan peradaban manusia; dan petunjuk untuk pengembangan pantai dan laut berkelanjutan di Indonesia, Ia juga membahas pentingnya meningkatkan kolaborasi internasional dalam Ekonomi Biru, perencanaan ruang laut, inovasi teknologi dan pembiayaan berkelanjutan. Tak lupa ia juga membahas tentang peran dan fungsi parlemen Indonesia dalam pengembangan Ekonomi Biru, konservasi keanekaragaman hayati laut, dan tata kelola laut.
Di akhir makalahnya, Prof. Rokhmin Dahuri yang juga Honorary Ambassador of Jeju Islands and Busan Metropolitan City, Korea Selatan menyampaikan hal-hal berikut:
- “Masa depan yang kita cari sudah jelas. Kami membayangkan lautan yang tetap sehat dan produktif. Kami membayangkan komunitas pesisir yang makmur, tangguh, dan berdaya. Kami membayangkan pertumbuhan ekonomi yang tidak mengorbankan keberlanjutan lingkungan. Kami membayangkan jalur pembangunan di mana konservasi dan kemakmuran maju bersama,” ujarnya.
- Untuk Indonesia, perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 tidak bisa hanya dicapai melalui industrialisasi di daratan. Ini juga harus didorong oleh pembangunan berkelanjutan dari sumber daya pesisir dan laut yang luas. “Laut menjadi salah satu peluang terbesar di abad dua puluh satu,” tegasnya.
- Jika dikelola dengan bijak, laut dapat menyediakan ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, ketahanan iklim, pelestarian keanekaragaman hayati, dan mata pencaharian berkelanjutan bagi generasi mendatang.
- Melalui konektivitas bio-ekologis dan oseanografi, penyerapan karbon, pengatur iklim, siklus hidrologi, siklus nutrien, dan fungsi lain yang mendukung kehidupan dari ekosistem pesisir dan laut Indonesia, serta transfer teknologi dan perdagangan, kesuksesan Pembangunan Ekonomi Biru dan konservasi Indonesia juga akan memberikan manfaat bagi pesisir dan lautan dunia serta masyarakat manusia.
- “Oleh karena itu, mari kita bekerja sama membangun masa depan di mana tata kelola laut terpadu menjadi dasar pembangunan berkelanjutan. Masa depan di mana Ekonomi Biru, Kawasan Konservasi Laut, dan Perencanaan Ruang Laut tidak hanya berfungsi sebagai instrumen kebijakan, tetapi juga sebagai jalan menuju dunia yang lebih makmur, adil, dan berkelanjutan,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri.














