Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Pulau Sabu adalah salah satu pulau kecil di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berada di Laut Sawu, tidak jauh dari Pulau Rote, pulau paling selatan Indonesia. Diapit Laut Sawu dan Samudra Hindia, pulau ini menawarkan lanskap yang berbeda dari banyak destinasi wisata Indonesia. Alamnya kering, savananya luas, dan pantainya bersih dengan pasir putih yang membentang panjang.
Berwisata ke Sabu bukanlah perjalanan mencari kemewahan kota atau keramaian kawasan wisata populer. Pulau ini menawarkan pengalaman yang lebih sederhana; mengenal budaya lokal, menikmati ketenangan alam, serta melihat bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan kondisi alam yang keras namun penuh berkah.
Sabu dikenal sebagai Tanah Lontar. Julukan ini bukan tanpa alasan. Pohon lontar tumbuh hampir di seluruh penjuru pulau dan menjadi bagian penting kehidupan masyarakat. Dari pohon inilah dihasilkan gula lontar yang menjadi pemanis tradisional. Daunnya digunakan sebagai bahan kerajinan, atap rumah, hingga pembungkus makanan. Bahkan bagian lain pohon ini dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.
Baca juga: Ambon Manise, Menyusuri Laut, Pasar dan Rasa di Tanah Maluku
Musim kemarau di Pulau Sabu berlangsung lebih panjang dibanding musim hujan. Hamparan savana kecokelatan dan perbukitan batu kapur mendominasi pemandangan. Namun justru kondisi inilah yang menciptakan keindahan khas Sabu. Di kejauhan terlihat laut biru yang jernih berpadu dengan garis pantai yang masih alami dan sepi dari keramaian.
Masyarakat Sabu juga memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Hawu. Bahasa ini masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian penting identitas budaya masyarakat setempat. Syair adat, ritual tradisional, hingga berbagai bentuk kesenian masih menggunakan Bahasa Hawu sebagai media pewarisan nilai-nilai leluhur.
Saya tiba di Bandara Tardamu menggunakan pesawat perintis dari Kupang. Bandara kecil itu tampak sederhana, bersih, dan tenang. Dari sana perjalanan menuju pusat kota hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit. Jalan yang dilalui tidak terlalu lebar, tetapi cukup nyaman untuk menikmati pemandangan khas Pulau Sabu yang terbuka dan luas.
Ke padang garam, melihat laut menjadi penghidupan


Salah satu alasan utama saya datang ke Pulau Sabu adalah melihat langsung proses pembuatan garam tradisional yang telah menjadi bagian kehidupan masyarakat selama berabad-abad.
Di pulau ini, garam bukan sekadar komoditas ekonomi. Garam adalah bagian dari budaya. Alam yang kering, musim kemarau yang panjang, dan sinar matahari yang melimpah menjadikan Sabu tempat ideal untuk memproduksi garam secara alami.
Pagi itu saya berdiri di kawasan tambak garam ketika para petani mulai bekerja. Matahari baru naik, tetapi panasnya sudah mulai terasa. Air laut yang sedang pasang dialirkan melalui saluran-saluran kecil menuju petakan tambak yang telah disiapkan sebelumnya.
Kilauan air laut memantulkan cahaya matahari pagi. Di tengah hamparan tambak yang luas, para petani bergerak tenang mengikuti ritme pekerjaan yang sudah mereka lakukan sejak lama.
Bagi masyarakat Sabu, laut bukan hanya bentang alam yang indah untuk dipandang. Laut adalah sumber kehidupan. Dari laut mereka mendapatkan ikan, rumput laut, dan garam yang menjadi salah satu sumber penghasilan utama keluarga.
Proses pembuatan garam di Sabu masih dilakukan secara tradisional. Air laut yang masuk ke tambak dibiarkan menguap secara alami oleh panas matahari. Hari demi hari berlalu hingga air semakin menyusut dan meninggalkan kristal-kristal garam di dasar petakan.
Saat kristal garam mulai terbentuk, para petani mengumpulkannya menggunakan alat sederhana. Garam kemudian ditumpuk, dikeringkan, dan dimasukkan ke dalam karung sebelum dijual kepada pengepul.
Yang menarik, pekerjaan ini tidak dilakukan sendirian. Banyak aktivitas di tambak garam berlangsung secara komunal. Para petani saling membantu membuka saluran air, membersihkan tambak, mengumpulkan hasil panen, hingga mengangkut garam ke tempat penyimpanan.
Tradisi gotong royong yang kuat masih hidup di sini. Kebersamaan menjadi bagian penting dari proses produksi garam. Hubungan antarwarga terasa hangat dan akrab. Di tengah teriknya matahari, mereka bekerja sambil bercanda dan berbagi cerita.
Garam akhirnya tidak hanya menjadi hasil panen, tetapi juga menjadi simbol hubungan manusia dengan alam dan sesama. Dari hamparan tambak garam inilah saya melihat bagaimana masyarakat Sabu bertahan dan berkembang di lingkungan yang keras namun penuh peluang.
Wollapa, kudapan sederhana yang kaya cerita


Setelah puas menjelajahi tambak garam, saya berkenalan dengan salah satu kuliner tradisional khas Pulau Sabu yang bernama Wollapa.
Kudapan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan cerita panjang tentang kehidupan masyarakat setempat. Wollapa dibuat dari bahan-bahan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari warga, yaitu tepung beras, gula lontar, dan air.
Semua bahan dicampur menjadi adonan sebelum dibungkus menggunakan daun kelapa muda. Setelah itu adonan dikukus hingga matang. Proses berikutnya cukup unik karena Wollapa dijemur di bawah sinar matahari agar teksturnya menjadi lebih padat.
Penggunaan daun kelapa sebagai pembungkus bukan hanya karena praktis, tetapi juga karena bahan tersebut mudah ditemukan di Pulau Sabu. Tradisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di sekitar mereka.
Ketika matang, aroma gula lontar langsung terasa. Harumnya khas, manis alami, dan berbeda dari gula pada umumnya. Rasa Wollapa juga sederhana namun hangat di lidah. Tidak berlebihan, tetapi meninggalkan kesan yang sulit dilupakan.
Bagi masyarakat Sabu, Wollapa bukan sekadar makanan ringan. Kudapan ini sering hadir dalam berbagai kegiatan keluarga, pertemuan adat, hingga acara-acara penting lainnya. Kehadirannya menjadi bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sama seperti pohon lontar yang menjadi simbol kehidupan masyarakat Sabu, Wollapa juga mencerminkan kesederhanaan dan kearifan lokal yang tumbuh dari alam sekitar.
Senja yang memantul di hamparan garam
Menjelang sore saya kembali ke kawasan tambak garam. Matahari perlahan turun menuju ufuk barat. Cahaya keemasan menyapu permukaan tambak dan menciptakan pantulan yang indah.
Hamparan garam berubah menjadi cermin raksasa yang memantulkan warna langit senja. Angin laut bertiup perlahan. Di kejauhan terlihat para petani berjalan pulang sambil memikul hasil panen hari itu.
Baca juga: Penang: Ketika Sejarah Disajikan di Setiap Meja Makan
Pemandangan tersebut terasa sederhana, tetapi justru itulah daya tarik Pulau Sabu.
Pulau ini mungkin tidak memiliki pusat perbelanjaan besar atau kawasan wisata modern. Namun Sabu menawarkan sesuatu yang jauh lebih berharga; ketenangan, keaslian budaya, dan pelajaran tentang bagaimana manusia hidup selaras dengan alam.
Di tengah hamparan garam yang memutih, di bawah langit senja yang perlahan berubah warna, saya memahami bahwa keindahan tidak selalu hadir dalam kemewahan. Kadang-kadang keindahan justru lahir dari kerja keras, kesederhanaan, dan kebersamaan.
Sabuku, sabu kita.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.











