Milenianews.com, Bogor– Ratusan murid kelas 4, 5, dan 6, SD IT Dinamika Umat, Telaga Kahuripan, Bogor, Jawa Barat, menjadi dhuyufurrohman (Tamu-tamu Allah Yang Maha Pengasih, red), pada peragaan manasik haji yang digelar pada Senin, (25/5/2026) bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1447 H.
Kegiatan yang dipusatkan di lapangan utama SIT Dinamika Umat — Model Sekolah Bersih Tanpa Cleaning Service — ini diawali shalat Dhuha di Masjid Dinamika Umat. Setelah itu, acara yang bertajuk ”Manasik Haji Menumbuhkan Cita-Cita Mulia Menunaikan Rukun Islam ke-Lima” dibuka oleh Kepala SD IT Dinamika Umat, Ustadz Asep Kusnadi, M.Pd.I.


Selanjutnya, koordinator acara, Leli Amelia M.Pd, yang juga Kepala Pusat Informasi dan PMB Yayasan Dinamika Umat (YDU) memandu kegiatan Manasik Haji di lembaga yang sudah 23 tahun berkiprah di dunia pendidikan ini dengan pemaparan materi tatacara menunaikan ibadah haji.
Mulai dari miqot, sebagai titik awal untuk menunaikan ibadah haji, dilanjutkan berihram. Wukuf di Padang Arafah, sebagai puncak ibadah haji, bermalam (mabit, red) di Muzdalifah, mengambil batu kerikil di Mina, untuk melontar Jumroh Aqobah.
Baca Juga : SD IT Dinamika Umat Gelar Performance Day, Angkat Budaya Nusantara
Dilanjutkan thawaf sebanyak tujuh putaran mengelilingi Ka’bah. Lalu sai’ (berlari-lari kecil) antara bukit Safa dan Marwah dilanjutkan melontar Jumroh Ula, Wustha dan Aqabah, masing-masing tujuh butir batu kerikil. Tahalul atau mencukur atau memotong sebagian rambut kepala.
”Pertama miqat lalu menuju Padang Arafah, berdiam diri pada 9 Dzulhijjah. Kemudian bermabit di Mina – Muzdalifah mengambil beberapa batu kerikil sebanyak tujuh butir. Lalu melakukan thawaf tujuh putaran. Setelah itu sai’ menuju bukit Safa dan Marwah, lalu menuju tiga jamarat (ula-wustha-aqabah), cukur rambut tahalul, minum air zam-zam dan makan kurma,” papar Leli Amelia, M.Pd.


Sementara itu, kepala SD IT Dinamika Umat, Asep Kusnadi, M.Pd.I., mengatakan tujuan dilaksakan manasik haji untuk praktek langsung ibadah haji. ”Tujuan manasik di sekolah adalah untuk mengenalkan praktik ibadah haji secara langsung kepada murid,” kata Asep seperti dalam rilis yang diterima Milenianews.com, Senin, (25/5/2026).
Lebih lanjut, kata pria kelahiran Bogor, 45 tahun silam ini rangkaian ibadah haji ini hanya sebagian saja tetapi rangkaiannya sesuai syarat dan rukun. ”Ini hanya sebagian saja, tapi ini rangkaiannya merupakan gambaran dari ibadah haji yang sesungguhnya,” ujarnya.
”Makanya murid dikenalkan oleh sekolah. Apa yang namanya thawaf, sai, lontar jumroh, ini bukan pembelajaran yang main-main, ini pelajaran yang serius walaupun begitu dikemas santai. Murid belajar praktek ibadah secara langsung dan ini bagian dari praktik ibadah yang kami ajarkan di sekolah,” tandas Asep.














