Milenianews.com, Badung – Di bawah langit Badung, Bali, sebuah tubuh terhempas keras ke atas tanah berlumpur. Tubuh itu milik Ferry Alberto Lesar, seniman sekaligus koreografer contemporary dance asal Manado, Sulawesi Utara. Dengan kondisi tubuh terikat material transparan, ia bergerak teatrikal, seolah sedang bertarung melawan jeratan yang tak kasatmata.
Namun, material transparan yang mengikat tubuh Eyi—sapaan akrabnya—bukanlah produk sintetis konvensional. Itu adalah TeloBag, kantong ramah lingkungan berbahan dasar singkong yang sengaja ia adaptasi menjadi kostum pertunjukan. Melalui karya terbarunya yang bertajuk “Roller Coaster”, seniman yang juga merupakan bagian dari Yayasan Seni Tari Indonesia (YSTI) ini tengah mengubah material menjadi tubuh, dan tubuh menjadi medium kritik.
Baca juga: Perjalanan Eyi Lesar Wujudkan Residensi Tari Kontemporer di Manado
Kolaborasi unik antara seni gerak kontemporer dan inovasi ekologis ini lahir dari keresahan Eyi yang mendalam terhadap tanah Bali. Bagi Eyi, Pulau Dewata memiliki ruang yang teramat rapuh di balik keindahannya yang dipuja dunia.
“Bali adalah kota yang istimewa, dan seharusnya juga diperlakukan secara istimewa,” ujar Eyi dalam keterangan rilis yang diterima milenianews.com, Minggu (17/5).
Atas dasar keistimewaan itulah, Eyi memandang bahwa inovasi ramah lingkungan seperti kantong singkong ini sudah sepatutnya mengambil alih peran plastik konvensional yang merusak bumi.
“Akan jauh lebih baik apabila seluruh gerai toko dan penggunaan plastik konvensional dapat perlahan diganti dengan material berbahan dasar singkong ini. Selain dapat larut di dalam air, material ini juga aman apabila termakan oleh organisme laut maupun darat,” tambahnya.
Metafora Janji yang “Dimuntahkan”
Namun, gagasan ideal itu nyatanya masih sebatas karya di atas panggung. Pada kenyataannya, kepedulian pemerintah dan masyarakat terhadap isu ekologi dirasa masih sangat minim, sementara isu sampah di Bali semakin masif dan menumpuk di hampir setiap sudut kota.
Jarak yang lebar antara panggung seni dan realitas itulah yang dieksplorasi secara simbolis dalam “Roller Coaster”. Sebelum aksi utama dimulai, dua penari pria, David dan Malim, berkomunikasi dengan penonton mengenai keresahan mereka terhadap bumi. Penonton kemudian menuliskan harapan serta keresahan mereka di atas potongan kertas kecil berbahan dasar singkong yang mudah larut.
Kertas-kertas penuh asa itu lalu dimasukkan ke dalam wadah berisi air. Di sinilah klimaks teatrikal terjadi. Eyi meminum air larutan harapan masyarakat tersebut, hanya untuk memuntahkannya kembali ke tanah. Aksi ini menjadi sebuah metafora satir yang tajam mengenai janji-janji pemerintah yang kerap memantul dan mental terhadap kritik serta saran rakyat Bali.
Di sudut lain, atmosfer pementasan mendadak magis saat Asty, penari lainnya, melangkah anggun menuju tepi sungai. Dengan penuh khidmat, ia menaburkan lilin-lilin apung ke atas permukaan air yang mengalir, membawa pesan kontras tentang sebuah harapan agar air membawa doa-doa mereka menuju kemurnian hidup yang seutuhnya. Melalui kombinasi lumpur, air, dan api lilin, Eyi ingin menegaskan bahwa tanah yang dipijak dan udara yang dihirup adalah bagian fundamental kehidupan yang harus dijaga oleh setiap entitas manusia.
Baca juga: Seni Pertunjukan Tradisional Jadi Tantangan Menarik Minat Penonton di Era Digital
Mengetuk Kesadaran Kolektif
Lewat karya ini, Eyi tidak ingin penonton pulang hanya dengan mengacungkan telunjuk ke arah pemangku kebijakan. Menyalahkan pemerintah semata dirasanya terlalu mudah. Sebab dalam realitasnya, masyarakat sendiri adalah produsen utama sampah yang terus menumpuk setiap hari.
Gerakan tubuh Eyi di atas lumpur Badung pada akhirnya bukan sekadar tontonan estetis. Ia adalah alarm. “Roller Coaster” menjadi sebuah kesimpulan pahit sekaligus peringatan terbuka: bahwa krisis ekologi di Bali bukan hanya tentang kegagalan sebuah sistem birokrasi, tetapi merupakan tamparan keras atas kegagalan kesadaran kolektif kita bersama sebagai manusia.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.








