Milenianews.com, Jakarta – Sebelum membahas lebih dalam tentang tren “sujud freestyle” yang merenggut nyawa, patut kita ketahui di era digital yang serba cepat ini, memberikan layar ponsel pintar kepada anak sering kali dianggap sebagai jalan pintas paling ampuh untuk membeli ketenangan. Saat anak rewel, berikan tontonan YouTube. Saat orang tua lelah setelah seharian bekerja, biarkan anak tenggelam dalam dunia game online. Rumah menjadi tenang, anak duduk manis, dan orang tua bisa bernapas sejenak.
Namun, ketenangan semu itu ternyata menyimpan bom waktu yang mematikan. Apa yang kita anggap sebagai hiburan digital tak berbahaya, baru-baru ini justru berubah menjadi malaikat maut. Fenomena konten digital dan game online yang mempertontonkan aksi berbahaya kini memakan korban jiwa dari kalangan yang paling rentan: anak-anak di bawah umur. Sebuah tren bernama “sujud freestyle” yang viral di media sosial telah menelan korban nyawa, menyisakan duka yang begitu dalam dan penyesalan yang tak lagi ada gunanya.
Baca juga: Cegah Dampak Gadget pada Anak, Dosen UBSI Beri Edukasi Kader Posyandu Tangerang
Tragedi Yang Mengoyak Hati Dari Lombok Timur
Kabar duka yang meremukkan hati ini datang dari Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Dua anak di bawah umur yang seharusnya masih asyik bermain tebak-tebakan atau kejar-kejaran di halaman, harus kehilangan nyawa karena meniru aksi freestyle dari media sosial dan game online.
Korban pertama adalah seorang siswa Taman Kanak-Kanak (TK) berinisial F. Di usianya yang masih sangat belia, ia meninggal dunia akibat cedera fatal pada tulang leher setelah mencoba melakukan aksi salto dan freestyle yang ia tonton dari layar kaca.
Tragedi serupa, dan mungkin terasa lebih menyesakkan dada, menimpa bocah berusia 8 tahun bernama Hamad Izan Wadi yang baru duduk di bangku kelas 1 SDN 3 Lenek. Hamad harus meregang nyawa setelah lehernya patah akibat meniru aksi freestyle yang diduga kuat terinspirasi dari game online populer, Garena Free Fire.

Menurut Kasi Humas Polres Lombok Timur, Iptu Lalu Rusmaladi yang dikutip dari radarsurabaya.id, Rabu (6/5), peristiwa nahas tersebut sebenarnya terjadi pada minggu lalu di rumah korban. Karena cedera leher yang sangat parah, keluarga sempat melarikan Hamad ke RS dr. Sudjono Selong sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Mataram. Namun, takdir berkata lain, nyawa bocah kecil itu tak tertolong.
Ada satu detail yang membuat kisah ini terasa semakin getir. Saat Hamad meregang nyawa karena patah leher di rumahnya sendiri, kedua orang tuanya sedang tidak ada di sisinya. Mereka adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang tengah memeras keringat di luar negeri.
Bisa dibayangkan betapa hancurnya hati orang tua yang banting tulang di negeri orang demi masa depan sang anak, namun sang anak justru pulang lebih dulu kepada Sang Pencipta akibat tren konyol di internet.
Baca juga: Ketahui Dampak dan Solusi Pengaruh HP Terhadap Anak di Bawah Umur
Bukan Kecelakaan Biasa: KPAI Tuntut Tanggung Jawab Platform Digital
Kematian dua bocah ini sontak mengejutkan publik. Tren “sujud freestyle” ini memang sangat berbahaya. Mengandalkan kepala sebagai tumpuan tubuh terbalik tentu berisiko tinggi menyebabkan patah tulang leher hingga gegar otak, apalagi jika dilakukan oleh anak-anak yang belum memiliki kekuatan otot dan pemahaman risiko yang memadai.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Aris Adi Leksono yang dikutip dari laman nuonline, Rabu (6/5), menyampaikan duka cita mendalam atas tragedi ini. Bagi Aris, peristiwa tragis ini tidak bisa dan tidak boleh hanya dipandang sebagai kecelakaan bermain biasa.
“Peristiwa tragis ini tidak bisa dipandang sebagai kecelakaan biasa, melainkan merupakan indikasi nyata lemahnya sistem perlindungan anak, khususnya dalam menghadapi derasnya paparan konten digital yang tidak ramah anak,” tegas Aris.
Ia dengan keras mendesak agar raksasa platform digital dan industri game online tidak lepas tangan. Mereka dituntut untuk bertanggung jawab memastikan adanya pembatasan usia yang ketat, peringatan risiko bahaya, dan sistem pengamanan konten yang bisa mendeteksi tren mematikan sebelum sampai ke mata anak-anak.













