Prof. Rokhmin Dahuri: Pesantren Lembaga yang sangat Tepat Selaraskan Imtaq dan Iptek

Rektor Universitas UMMI Bogor dan Guru Besar Kelautan dan Perikanan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS menjadi narasumber kegiatan Pelatihan Pelaku Didik Ke-43  di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Pondok Pesantren Al-Zaytun, Indramayu, Ahad (3/5/2026). (Foto: Dok Dulur Rokhmin)

Milenianews.com, Indramayu– Sejak masa keemasan peradaban Islam (The Golden Age of Moslem), pendidikan telah menjadi fondasi kemajuan Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi)  dan peradaban global, dengan tokohtokoh seperti Al-Ghazali, Ibn Sina, Ibn Khaldun, dan Ibn Al-Khawarizmi yang mengintegrasikan ilmu agama dan sains secara harmonis.

“Dalam konteks modern, khususnya di Indonesia, sistem pendidikan Islam memiliki potensi besar untuk menjawab tantangan ketertinggalan Iptek, kemiskinan, krisis moral, ketimpangan sosial, dan kerusakan lingkungan,” kata Rektor Universitas UMMI Bogor dan Guru Besar Kelautan dan Perikanan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS saat mengisi kegiatan Pelatihan Pelaku Didik Ke-43  di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Pondok Pesantren Al-Zaytun, Indramayu, Ahad (3/5/2026).

Acara itu dihadiri tak kurang dari 2.700 orang, termasuk  Syaykh Al Zaytun, Abdussalam Panji Gumilang beserta ummi.  Selain itu, Ketua Yayasan Pesantren Indonesia,  Imam Prawoto, MBA, CRBC; Rektor IAI Al Zaytun Indonesia beserta seluruh dosen; Ketua KSU Desa Kota Indonesia: Anis Khoirunnisa, S.Th.I. MAP;  Ketua Majelis Pengendali Asrama Pelajar (MPAP) beserta para Mudabbir Asrama; Ketua Majelis Guru beserta para kepala sekolah dan guru guru; para petani yang tergabung dalam P3KPI (Perkumpulan Petani Penyangga Ketahanan Pangan Indonesia);  para wali pelajar; serta para mahasiswa dan pelajar.

Prof. Rokhmin, yang membawakan makalah berjudul  “Mewujudkan Transformasi  Pendidikan Berasrama untuk Mendukung Indonesia Emas 20245”,  mengemukakan konsep dasar sistem pendidikan Islam sebagai berikut:

❖Sistem pendidikan Islam berlandaskan pada sumber utama yaitu Al-Qur’an dan Hadis, dengan tujuan utama membentuk insan kamil (manusia paripurna).

❖Karakteristik utama: (1) Tauhid sebagai fondasi (kesatuan ilmu dan kehidupan), (2) Integrasi ilmu agama dan sains, (3) Pendidikan sepanjang hayat (lifelong learning), dan (4) Keseimbangan dunia–akhirat.

 

Anggota DPR RI Periode 2024-2029 itu  juga menjabarkan  keunggulan sistem pendidikan Islam  sebagai berikut:

1) Pendekatan Holistik (Integral): Pendidikan Islam tidak memisahkan aspek intelektual, spiritual, dan moral. Hal ini menghasilkan individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beretika dan bertanggung jawab.

2) Pembentukan Karakter (Akhlak Mulia): Fokus utama bukan hanya knowing, tetapi being. Pendidikan diarahkan pada pembentukan akhlak seperti kejujuran, amanah, dan kepedulian sosial.

3) Keseimbangan Dunia dan Akhirat: Kesuksesan tidak hanya diukur dari materi, tetapi juga keberkahan dan kontribusi terhadap masyarakat.

4) Mendorong Keadilan Sosial: Konsep zakat, sedekah, dan keadilan sosial menjadi bagian dari pendidikan, sehingga mengurangi kesenjangan.

5) Berbasis Nilai Keberlanjutan (Sustainability):  Islam mengajarkan manusia sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di bumi) yang bertanggung jawab menjaga lingkungan.

Lalu, bagaiumanakah  implementasi sistem pendidikan Islam di Era Global (Khususnya Indonesia)? Menurut Prof. Rokhmin, sebagai berikut:

1) Integrasi Kurikulum (Agama + Sains + Teknologi): Model kurikulum terpadu yang menghilangkan dikotomi antara ilmu umum dan agama. Contoh implementasi: •STEM berbasis nilai Islam.

2) Penguatan Pendidikan Karakter: Mengintegrasikan nilai akhlak dalam semua mata pelajaran, bukan hanya pelajaran agama. •Etika dalam teknologi (AI, bioteknologi, dll.)D. Implementasi di Era Global (Khususnya Indonesia).

3) Digitalisasi Pendidikan Islam: Pemanfaatan teknologi: •E-learning berbasis nilai Islam •Konten dakwah edukatif •Platform pembelajaran.

4) Penguatan Lembaga Pendidikan Islam: Modernisasi: •Pesantren kewirausahaan •Sekolah Islam unggulan •Kolaborasi dengan industri.

5) Kebijakan Publik yang Mendukung: Peran pemerintah: berbasis •Integrasi pendidikan nasional dengan nilai religius •Akses pendidikan yang merata •Insentif bagi pendidikan Islam

“Pendidikan berasrama (pondok pesantren) merupakan implementasi sistem pendidikan Isam di Indonesia,” tegas Prof. Rokhmin yang juga Ketua Umum MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia).

 

Ia mengutip data  publikasi Kemenag RI (2025) yang menyebutkan bahwa  jumlah Ponpes di Indonesia mencapai 42.391 lembaga dengan total santri lebih dari 1.6 juta jiwa. “Data menunjukkan bahwa Pulau Jawa masih mendominasi sebagai wilayah dengan jumlah Ponpes tertinggi di Indonesia,” ungkapnya Prof. Rokhmin yang juga Ketua Dewan Pakar ASPEKSINDO (Asosiasi Pemerintah Daerah Pesisir dan Kepulauan se Indonesia)

Prof. Rokmin mengungkapkan ponpes berkontribusi besar dalam pembangunan nasional. Ia menguraikan alasannya sebagai berikut:

  1. Pondok pesantren berkontribusi besar dalam pembangunan nasional melalui fungsi utamanya sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
  2. Dalam bidang pendidikan, pesantren membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pembinaan akhlak, kedisiplinan, serta penguasaan ilmu agama dan pengetahuan umum.
  3. Dalam bidang ekonomi, banyak pesantren mengembangkan kewirausahaan santri, UMKM, koperasi, serta pemberdayaan keuangan masyarakat sekitar.
  4. Dalam bidang sosial, pesantren menjadi pusat pembinaan masyarakat melalui kegiatan dakwah, bantuan sosial, serta penguatan nilai gotong royong dan solidaritas.

Pesantren, tegas  Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu  merupakan lembaga yang sangat tepat untuk menyelaraskan Imtaq dan Iptek:

  • Pesantren menjadi tempat terbaik untuk membangun IMTAQ melalui pembelajaran agama, pembinaan akhlak, dan pembiasaan ibadah secara konsisten.
  • Banyak pesantren kini turut mengembangkan IPTEK melalui pendidikan formal, penguasaan sains, literasi digital, dan keterampilan modern.
  • Perpaduan nilai keagamaan dan ilmu pengetahuan menjadikan pesantren ideal dalam mencetak generasi cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi perkembangan zaman.

“Pesantren terus bertransformasi, dari pendidikan tradisional menuju sistem modern yang memadukan nilai keislaman, kurikulum nasional, dan teknologi digital. Masa depan pesantren bertumpu pada tiga hal, yaitu kurikulum unggul, SDM berkualitas, dan kemandirian ekonomi agar mampu mencetak generasi berdaya saing global,” kata Prof. Rokhmin.

Prof. Rokhmin menjabarkan transformasi pendidikan berasrama yang harus dilakukan sebagai berikut:

  1. Modernisasi Kurikulum Integratif: Menggabungkan pendidikan akademik, kepemimpinan, karakter, literasi digital, dan wawasan kebangsaan agar peserta didik.
  2. Pemberdayaan dan Kemandirian Santri: Mendorong kemandirian melalui pendekatan project based learning, kewirausahaan, problem solving, serta keterampilan hidup.
  3. Digitalisasi Sistem Pembelajaran: Pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran interaktif, monitoring perkembangan siswa, komunikasi dengan orang tua, serta manajemen asrama yang lebih efektif.
  4. Peningkatan Kompetensi Pendidik dan Pengasuh: Guru dan pembina asrama perlu ditingkatkan kapasitasnya dalam pedagogi modern, konseling, mentoring, serta penanganan kesehatan mental peserta didik.
  5. Penciptaan Lingkungan Asrama yang Aman dan Inklusif: Membangun budaya antiperundungan, menjaga kesehatan fisikmental, serta menciptakan lingkungan yang nyaman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang siswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *