Mileninews.com, Jakarta– PAHAM Indonesia menggelar kegiatan bedah buku bertajuk “Bercerai atau Bertahan: Memilih Peta Kebahagiaan” pada 1 Mei 2026. Kegiatan ini berlangsung secara offline di Kantor PAHAM Indonesia, Jagakarsa, Jakarta Selatan, dan diikuti secara hybrid melalui Zoom Meeting dengan sekitar 50 peserta dari kalangan mahasiswa, masyarakat umum, hingga praktisi.
Buku karya Rikatama Budiyantie yang juga merupakan hakim yustisial ini mengangkat dinamika pernikahan dari perspektif hukum, psikologis, dan spiritual. Acara dibuka oleh Busyraa selaku Direktur PAHAM Indonesia.
Kegiatan bedah buku dipandu oleh Firda Faradillah yang memoderatori jalannya diskusi secara interaktif dan dinamis.
Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Evi Risna Yanti selaku Ketua Yayasan PAHAM Indonesia yang sekaligus menjadi pembedah buku. Dalam pemaparannya, ia menilai bahwa karya tersebut sangat relevan dengan kondisi sosial saat ini, khususnya bagi perempuan. Ia menekankan bahwa buku ini tidak hanya berisi teori, tetapi juga menghadirkan nasihat praktis serta solusi nyata dalam menghadapi konflik rumah tangga.
“Perceraian bukan satu-satunya jalan keluar. Perempuan cenderung menilai usaha pasangan, bukan sekadar hasil. Karena itu, keputusan besar tidak boleh diambil secara impulsif,” ujarnya.
Diskusi semakin kaya melalui sesi tanya jawab yang interaktif. Berbagai isu dibahas, mulai dari perbedaan prosedur perceraian, cara mengenali tanda-tanda masalah dalam hubungan, hingga fenomena meningkatnya angka perceraian di tengah klaim kebahagiaan masyarakat Indonesia.

Buku “Bercerai atau Bertahan: Memilih Peta Kebahagiaan” hadir sebagai pendamping bagi pembaca dalam mencari jawaban atas dilema terdalam dalam pernikahan, yakni antara bertahan atau berpisah. Karya ini juga membongkar ilusi tentang “keluarga sempurna”, serta mengungkap bahwa kebahagiaan yang tampak di ruang publik kerap kali berbeda dengan realitas di balik pintu rumah.
Dengan memadukan refleksi emosional, analisis sosial, perspektif spiritual, serta panduan hukum yang komprehensif, buku ini menawarkan sudut pandang yang utuh dalam memahami dinamika pernikahan. Tidak hanya membantu pembaca menghadapi dilema perceraian, karya ini juga mengajak mereka untuk menemukan kembali “peta” kebahagiaan yang lebih jujur dan bermakna dalam kehidupan.
Buku ini dinilai memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya menggabungkan perspektif hukum dan psikologis, menggunakan bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami, serta membahas isu sensitif dengan pendekatan yang empatik. Selain itu, buku ini juga memberikan panduan praktis bagi pembaca dalam mengambil keputusan penting dalam hubungan.
Lebih jauh, buku ini berperan penting dalam membantu masyarakat memahami bahwa pernikahan bukan sekadar ikatan formal, melainkan perjalanan emosional dan spiritual yang membutuhkan kesadaran serta kedewasaan.
Di tengah meningkatnya angka perceraian, buku ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pasangan untuk lebih reflektif dalam mengambil keputusan, memahami akar permasalahan rumah tangga, serta mengedepankan kesehatan mental dan emosional.
Secara keseluruhan, “Bercerai atau Bertahan: Memilih Peta Kebahagiaan” tidak mengarahkan pembaca untuk memilih bercerai atau bertahan, melainkan membantu mereka menemukan “peta” menuju kebahagiaan yang lebih jujur dan manusiawi. Buku ini direkomendasikan bagi pasangan menikah, calon pasangan, maupun siapa saja yang ingin memahami dinamika hubungan secara lebih matang dan bijaksana.











