Milenianews.com, Jakarta – Pernah membuka aplikasi ojek online, menekan tombol “pesan”, lalu menatap layar ponsel seperti menunggu pesan balasan mantan? Jika iya, Anda tidak sendirian. Beberapa waktu terakhir, warganet ramai membicarakan fenomena yang mereka sebut sebagai “krisis ojol” sebuah kondisi ketika mendapatkan pengemudi terasa lebih sulit dari biasanya, terutama saat jam sibuk.
Keluhan itu muncul di berbagai media sosial. Banyak pengguna mengaku harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan pengemudi, bahkan hingga puluhan menit. Situasi yang dulu terasa instan klik, tunggu sebentar, lalu driver datang kini mulai terasa seperti lotre kecil di dunia transportasi digital.
Baca juga: Demo Ojol di Gedung DPR/MPR Suarakan Tuntutan Kesejahteraan Driver
Nabil (24), seorang pekerja di Jakarta, merasakan perubahan itu hampir setiap hari saat jam pulang kantor. Ia mengaku kini harus lebih sabar ketika memesan ojek online dari kantornya.
“Biasanya langsung dapat, tapi dari kemarin susah banget dapat driver di daerah kantor,” kata Nabil dalam keterangan yang diterima tim milenianews.com, Sabtu (14/3).
Fenomena ini memunculkan berbagai spekulasi di kalangan pengguna. Ada yang menduga jumlah pengemudi berkurang, ada pula yang menilai sistem aplikasi sedang tidak bersahabat. Namun dari sisi pengemudi, ceritanya sedikit berbeda.
Driver Lebih Selektif Ambil Pesanan
Sejumlah driver menyebut tarif pada fitur perjalanan hemat menjadi salah satu alasan mereka lebih selektif menerima pesanan. Untuk perjalanan jarak pendek, pendapatan yang diterima dianggap terlalu kecil dibandingkan waktu dan biaya operasional yang harus dikeluarkan.
Dalam bahasa sederhana: bukan tidak ada driver, hanya saja tidak semua pesanan terasa “layak diambil”.
Di titik ini, hubungan antara penumpang dan pengemudi terlihat seperti tarik-menarik kecil dalam ekosistem aplikasi. Penumpang berharap harga tetap murah dan driver cepat datang. Sementara pengemudi berharap perjalanan yang mereka ambil cukup sepadan dengan tenaga dan waktu yang dikeluarkan.
Ketika dua harapan itu tidak selalu bertemu di tengah, muncullah fenomena yang kini disebut warganet sebagai “krisis ojol”.
Baca juga: PW IPNU Sumbar Angkat Suara soal Ojol yang Tewas, Kecam Tindakan Polisi
Apakah ini benar-benar krisis? Belum tentu. Bisa jadi ini hanya fase penyesuaian di tengah dinamika ekonomi digital yang terus berubah. Namun bagi penumpang yang berdiri di pinggir jalan sambil memandangi ponsel selama 20 menit, definisinya mungkin cukup sederhana: driver ada, aplikasi ada, tapi perjalanan tak kunjung datang.
Dan di kota besar yang hidupnya serba cepat, menunggu ojol terlalu lama kadang terasa lebih dramatis daripada sekadar perjalanan lima kilometer.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













