Milenianews.com, Jakarta– Ada pepatah Minang yang berbunyi: Hiduik Baraka, Mati Ba Iman (Hidup berakal, maati beriman). “Pepatah Minang itu mengajarkan kepada kita bahwa dalam menjalani hidup harus memakai akal dan pikiran sehat untuk menaklukkan dunia, sekaligus juga harus tetap rendah hati dan taat secara spiritual untuk keselamatan di akhirat, karena semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah,” kata Ketua Dewan Pembina Asosiasi Yayasan Pendidikan Islam (AYPI) H.E. Afrizal Rusdi, Sabtu (14/3/2026).
Ia menambahkan, basis utama ilmu pengetahuan adalah spiritualitas. “Sejarah mencatat bahwa perguruan tinggi pertama di dunia adalah Universitas Al-Qarawiyyin di Fez-Maroko. Didirikan oleh seorang muslimah Fatima al-Fikri pada tahun 859 M di sebuah Masjid. Perguruan tinggi pertama di Indonesia adalah Sekolah Tinggi Islam (STI) yang didirikan oleh Mohammad Hatta (ketua) dan Mohammad Natsir (sekretaris) pada tahun 1945,” ujarnya.
Berkaca dari pepatah Minang di atas, Afrizal Rusdi memaparkan panduan bagi orang tua memilih sekolah bagi anaknya sebagai berikut:
- Pilih sekolah yang tidak melakukan tes/seleksi murid baru. Karena anak kita mau belajar, bukan mau kerja.
- Pilih sekolah yang memiliki masjid. Karena masjid bukan hanya tempat untuk melaksanakan shalat berjamaah saja, tapi masjid juga sumber belajar dan dijadikan sebagai media pembelajaran.
- Pilih sekolah yang memiliki tujuan pendidikan yang selaras dengan tujuan orang tua, yaitu sekolah yang mengutamakan pendidikan Agama, Adab, dan sosial-emosional.
- Penting bagi orang tua mengetahui kualitas guru yang akan mendampingi dan membimbing anak-anak kita selama di sekolah.
- Tidak hanya kualitas guru, penting juga di ketahui kuantitas atau jumlah murid yang diterima setiap kelasnya. Idealnya rasio murid dan guru adalah maksimum 20 murid per-kelas.
Afrizal juga menekankan pentingnya memiih sekolah Islam. “Mengapa harus sekolah Islam? Dari pendekatan pembelajaran yang terintegrasi hingga ekosistem pendidikan berbasis keteladanan, sekolah Islam tidak hanya mencetak siswa berprestasi, tetapi juga melahirkan generasi Qur’ani yang siap menjadi pemimpin masa depan,” kata Afrizal Sinaro.












