Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Saya berada di Bukares, Rumania. Berdiri di depan Gedung Technoimport, sebuah landmark yang menjadi gerbang menuju kota tua.
Gedung art deco dengan bentuk silinder yang melengkung ini menunjukkan jejak sejarah yang kuat. Dari sini saya seperti menatap wajah Bukares yang sebenarnya: megah, tegak, dan penuh guratan sejarah. Gedung ini menjadi saksi bahwa pada awal abad ke-20 Bukares pernah dikenal sebagai kota yang indah hingga mendapat julukan Paris dari Timur.
Di kawasan kota tua saya berjalan kaki, meresapi kejayaan Bukares. Melintasi trotoar berbatu terasa seperti berdialog dengan masa lalu yang megah sekaligus modernitas yang dinamis. Kemegahan abad ke-19 tampak jelas di sini, dengan bangunan bergaya neoklasik dan barok yang mendominasi pemandangan.
Baca juga: Menelusuri Jejak di Bukares: Paris dari Timur, Kampus Tua, dan Salad Tomat
Salah satu yang paling menonjol adalah gedung Palace of the National Bank of Romania. Bangunan ini memancarkan kesan aristokrat dan keanggunan Eropa. Gedung klasik tersebut menjadi saksi dinamika ekonomi Rumania sejak abad ke-19.
Fasadnya menampilkan gaya neoklasik Prancis. Pilar-pilar kokoh berdiri simetris dengan jendela tinggi melengkung. Detail ukiran menghiasi bagian luar dengan tegas namun halus. Pintu utamanya berada di antara deretan pilar besar, seolah menegaskan peran bangunan ini sebagai penjaga stabilitas fiskal dan moneter negara.
Arsitektur abad ke-18 dan ke-19 yang diisi kehidupan modern

Tak jauh dari sana terdapat Pasajul Macca-Vilacrosse. Lorong ini memberikan suasana eksotis dengan atap kaca berwarna merah amber.
Pasajul Macca-Vilacrosse adalah koridor pejalan kaki yang menjadi simbol ambisi Bukares untuk tampil seperti Paris dari Timur. Lorong ini dahulu dirancang sebagai penghubung antara jalan utama kota dengan kawasan Bank Nasional. Pada masa itu sekaligus menjadi pusat aktivitas komersial.
Saya melanjutkan langkah di jalan berbatu yang tersusun rapi. Suasana historis terasa kuat. Di sepanjang jalan terlihat kafe dan restoran yang menyatu dengan bangunan klasik. Beberapa kafe menempatkan kursi dengan payung besar yang melebar hingga ke trotoar.
Di tengah hiruk-pikuk kawasan itu berdiri sebuah bangunan kecil bergaya Eropa Timur: Stavropoleos Monastery. Bangunan ini menjadi saksi perjalanan panjang spiritualitas Rumania—dari masa kerajaan, kemudian masa ideologi komunis, hingga kini kembali menjadi negara yang bebas.
Biara Stavropoleos didirikan pada tahun 1724. Arsitekturnya merupakan perpaduan unsur Bizantium, Ottoman, Barok, dan Renaisans. Dari luar bangunan ini terlihat sederhana, dengan lengkungan berhias ukiran bunga halus. Pilar-pilar batu berukir dan kolom ramping memberi kesan teduh dan ramah.
Bangunan ini masih berfungsi sebagai gereja Ortodoks dan terbuka bagi pengunjung. Di dalam, suasananya terasa hening dan sakral. Cahaya lilin memantul pada ikon-ikon Ortodoks berlapis emas. Riuh dunia luar seolah berhenti di sini. Dinding-dindingnya dipenuhi lukisan fresco abad ke-18 dengan warna hangat yang ikut menua bersama waktu.
Menikmati kota tua Bukares terasa seperti berdialog dengan kehidupan Eropa abad ke-18 dan ke-19 yang berpadu dengan ritme kota modern. Masa lalu tetap hadir berdampingan dengan masa kini.
Masyarakat Rumania dan kedekatannya dengan nasi

Kuliner Rumania mencerminkan perpaduan budaya yang terbentuk dari perjalanan sejarah panjang negara ini. Dalam semangkuk makanan di Bukares kita bisa menemukan pengaruh Ottoman, Bizantium, Balkan, hingga Eropa Tengah.
Bahan lokal yang sederhana biasanya menjadi dasar masakan, kemudian dipadukan dengan bumbu dan teknik memasak yang menghasilkan rasa yang mengenyangkan. Karbohidrat utama masyarakat Rumania umumnya berasal dari kentang dan jagung yang diolah menjadi mămăligă, hidangan jagung khas yang bisa disajikan lembut ataupun padat. Biasanya dinikmati bersama keju, krim, telur, atau daging.
Sebagai negara dengan tradisi peternakan yang panjang, produk olahan susu dan daging menempati posisi penting dalam kuliner Rumania. Berbagai jenis keju, dari yang lembut hingga semi keras, tersedia luas. Demikian pula berbagai jenis sosis berbahan dasar daging.
Sebagai orang Melayu yang sulit dipisahkan dari nasi, saya mencoba mencari informasi tentang beras di Rumania. Ternyata Rumania memiliki lahan sawah, meskipun tidak luas. Negara ini termasuk salah satu produsen beras di Eropa, selain Spain, Italy, dan Greece.
Beras sebenarnya bukan tanaman asli Rumania. Tanaman ini mulai dikembangkan pada sekitar tahun 1970-an, terinspirasi dari praktik pertanian di China ketika banyak negara berupaya mencapai swasembada pangan. Salah satu hidangan nasional yang menggunakan nasi adalah sarmale.
Sarmale sering disajikan saat pertemuan keluarga, pesta pernikahan, ulang tahun, dan berbagai perayaan. Hidangan ini berupa gulungan daun kubis yang diisi campuran daging dan nasi. Daun kubis biasanya difermentasi dalam air garam. Nasi yang digunakan tidak banyak, tetapi berfungsi menyerap sari daging sehingga teksturnya menjadi empuk ketika matang. Campuran rasanya diperkaya dengan bawang bombai, paprika bubuk, adas, dan lada hitam.
Sarmale tradisional dimasak menggunakan pot tanah liat. Hidangan ini direbus perlahan dengan air sari kubis fermentasi dan saus tomat hingga sekitar lima jam. Proses memasak lambat ini membuat daging, nasi, dan kubis menyatu lembut hingga mudah lumer di mulut.
Orez cu Legume, nasi goreng versi Rumania

Hidangan nasi yang cukup sering muncul di meja keluarga Rumania adalah orez cu legume. Hidangan ini melambangkan kesederhanaan masakan Balkan yang menonjolkan kesegaran hasil kebun. Orez cu legume biasanya disajikan sebagai pendamping daging panggang, tetapi kadang juga menjadi hidangan utama yang cukup mengenyangkan.
Jika dilihat dari kacamata kita, hidangan ini mirip nasi goreng sayuran. Proses memasaknya dimulai dengan menumis sayuran menggunakan mentega, kemudian nasi dimasukkan dan diaduk perlahan bersama sayuran serta sedikit kaldu. Tujuannya agar butiran nasi tetap utuh dan tidak berubah menjadi bubur.
Baca juga: Ruse Bulgaria, Kota Bersejarah dengan Nuansa Ala Wina
Jika dibandingkan dengan nasi goreng di Jakarta yang cenderung gurih manis karena kecap dan rempah kuat, orez cu legume memiliki rasa yang lebih ringan dan bersih. Rasa sayurannya justru menjadi bintang utama. Seperti nasi goreng di Indonesia, hidangan ini juga memiliki berbagai variasi.
Varian populer adalah orez cu ciuperci, nasi dengan jamur. Biasanya menggunakan jamur hutan dari kawasan Carpathian Mountains, lalu ditambah bawang putih dan peterseli. Hidangan ini juga sering disajikan saat masa puasa dalam tradisi Kristen Ortodoks.
Ada juga orez cu mazăre, nasi dengan kacang polong. Rasanya lebih ringan dengan sentuhan manis alami dari kacang polong. Varian paling kaya rasa adalah orez sârbesc, nasi gaya Serbia. Hidangan ini menggunakan paprika, wortel, dan pasta tomat sehingga warnanya lebih merah dengan rasa sedikit asam. Setelah direbus, nasi ini biasanya dipanggang sebentar di oven sehingga tampil lebih kering ketika disajikan.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.








