Milenianews.com, Tangsel– Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan kuliah dosen tamu bertema “Kontribusi Sastra Melayu Tionghoa dalam Sastra Indonesia Modern” pada Selasa (10/3/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini diikuti sekitar 230 peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, serta pemerhati sastra dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kegiatan ini sekaligus menjadi pembuka perkuliahan semester genap tahun akademik 2025/2026 di lingkungan Program Studi PBSI.
Kuliah dosen tamu ini merupakan bagian dari perkuliahan mata kuliah Sejarah Sastra Indonesia Modern. Acara yang dipandu oleh Nida Khoirunnisa Fadillah sebagai pewara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Program Studi PBSI, Dr. Ahmad Bahtiar, M.Hum., yang juga merupakan pengampu mata kuliah Sejarah Sastra Melayu dan Sejarah Sastra Indonesia Modern.

Dalam sambutannya, Ahmad Bahtiar menegaskan bahwa dalam kajian sastra di perguruan tinggi, mata kuliah teori sastra dan kritik sastra sering kali mendapat perhatian besar. “Namun demikian, sejarah sastra memiliki posisi yang tidak kalah penting karena memberikan pemahaman mengenai proses perkembangan sastra secara menyeluruh,” kata Ahmad Bahtiar.
Ia menjelaskan bahwa kajian sejarah sastra membantu mahasiswa memahami bagaimana karya-karya sastra lahir dalam konteks sosial, budaya, dan sejarah tertentu. Menurutnya, hingga kini jumlah peneliti serta buku yang secara khusus membahas sejarah sastra Indonesia masih relatif terbatas.
“Oleh karena itu, kegiatan akademik seperti kuliah dosen tamu menjadi penting untuk memperluas wawasan mahasiswa sekaligus mendorong lahirnya penelitian-penelitian baru dalam bidang sejarah sastra,” ujarnya.
Baca Juga : PBSI UIN Jakarta Gelar Pasar Budaya 2025, Perkenalkan Pesona Indonesia kepada Mahasiswa Asing
Sambutan fakultas disampaikan oleh Wakil Dekan I Bidang Akademik Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Dr. Yanti Herlanti, M.Pd., yang mewakili dekan. Ia menegaskan bahwa kajian sastra lintas budaya penting untuk memperkaya perspektif akademik mahasiswa serta memperdalam pemahaman mengenai dinamika perkembangan sastra Indonesia yang terbentuk melalui berbagai interaksi budaya.
Kuliah dosen tamu ini menghadirkan Dr. Ibnu Wahyudi, M.A., dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa sejarah sastra Indonesia modern pada dasarnya merupakan hasil interaksi berbagai tradisi sastra yang berkembang di Nusantara, mulai dari sastra Melayu klasik, sastra kolonial, sastra pergerakan nasional, hingga tradisi sastra yang berkembang di kalangan komunitas Tionghoa.
Menurut Ibnu Wahyudi, salah satu unsur penting yang sering terlupakan dalam historiografi sastra Indonesia adalah sastra Melayu Tionghoa. “Padahal, tradisi sastra ini memiliki kontribusi penting dalam perkembangan prosa modern di Indonesia, terutama dalam penggunaan bahasa Melayu populer, perkembangan dunia penerbitan, serta penyebaran cerita-cerita terjemahan dari berbagai tradisi sastra dunia,” kata Ibnu Wahyudi.
Ia menjelaskan bahwa sastra Melayu Tionghoa berkembang pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 ketika komunitas Tionghoa tumbuh di berbagai kota kolonial dan bahasa Melayu berfungsi sebagai lingua franca dalam komunikasi antarkelompok masyarakat.
“Kondisi tersebut melahirkan tradisi sastra yang produktif melalui berbagai genre seperti novel, cerita bersambung di surat kabar, karya terjemahan, hingga bentuk-bentuk hikayat modern,” ujarnya.

Ibnu Wahyudi juga menyebut beberapa tokoh penting dalam tradisi sastra Melayu Tionghoa, antara lain Lie Kim Hok, Thio Tjin Boen, Kwee Tek Hoay, Tio Ie Soei, dan Njoo Cheong Seng. Karya-karya mereka, seperti Tjhit Liap Seng karya Lie Kim Hok serta Boenga Roos dari Tjikembang karya Kwee Tek Hoay, dinilai memberikan kontribusi besar dalam memperkaya tradisi prosa naratif serta memperluas penggunaan bahasa Melayu yang kemudian berkembang menjadi bahasa Indonesia.
Dalam pemaparannya, Ibnu Wahyudi juga menegaskan bahwa kajian sejarah sastra Indonesia modern memiliki kontribusi penting dalam memahami perkembangan sastra nasional secara lebih utuh. Melalui kajian sejarah sastra, mahasiswa dapat melihat bagaimana karya sastra lahir dari berbagai konteks sosial, budaya, dan politik pada zamannya.
“Selain itu, sejarah sastra juga memperlihatkan keragaman akar pembentuk sastra Indonesia yang terbentuk dari berbagai tradisi budaya yang saling berinteraksi,” kata Ibnu Wahyudi.
Namun demikian, menurutnya, sastra Melayu Tionghoa relatif kurang mendapat perhatian dalam penulisan sejarah sastra Indonesia. Hal ini antara lain disebabkan oleh dominasi historiografi sastra nasional yang lebih berfokus pada sastra Balai Pustaka serta berbagai faktor politik identitas dalam sejarah kebudayaan Indonesia.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh pengurus pusat Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI), termasuk ketuanya, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., yang memberikan dukungan terhadap penguatan kajian sejarah sastra Indonesia di lingkungan akademik.

Selain mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kuliah dosen tamu ini juga diikuti oleh dosen dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, antara lain Universitas Palangka Raya, Universitas Indraprasta PGRI, UNM, Universitas Pakuan Bogor, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, serta UIN Raden Mas Said Surakarta dan sejumlah perguruan tinggi lainnya.
Diskusi yang dimoderatori oleh Najwa Alisti Ramadina berlangsung interaktif dan menarik. Sejumlah pertanyaan disampaikan oleh peserta, tidak hanya dari dosen dan mahasiswa Program Studi PBSI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tetapi juga dari mahasiswa dan dosen dari berbagai perguruan tinggi lain yang mengikuti kegiatan tersebut.
Melalui kegiatan ini, Program Studi PBSI berharap mahasiswa dapat memahami sejarah sastra Indonesia secara lebih komprehensif serta menyadari bahwa perkembangan sastra nasional dibangun dari berbagai kontribusi lintas budaya yang memperkaya khazanah kebudayaan Indonesia.









