Oleh: Hadi Suroso
Kita terus saling membohongi diri. Ke ” aku ” an selalu kita beri tempat laksana raja, megah bertahta menduduki kepala kita. Namun di sisi berbeda, kita begitu sesak menepis rasa yang meradang di dalam dada. Dan kita masih saja saling berpura-pura. Lalu apa yang kita petik dari saling erat menggenggam ego kita ?
Rasanya kita tak lebih dari dua pengecut yang saling tidak berani untuk mengakui, bahwa di seluas ladang hati kita ada hamparan benih cinta yang perlahan mulai tumbuh dan bersemi.
Mungkin kemarau lalu telah melanda semenanjung hati kita, hingga kering merana setiap jengkal lahan yang kita miliki. Kita diterpa prahara musim yang tanpa ampun melibas silih berganti. Itukah yang menjadikan sebentuk ketakutan kita untuk membuka diri ? Ataukah menjadi alarm siaga untuk lebih berhati-hati saat akan memulai lagi ?
Nyatanya kita ini rapuh di balik ego yang kukuh. Bukankah baiknya kita biarkan saja ego itu meluruh ? Coba dengarkan hati kecil kita, inikah yang sungguh ia inginkan ?
Baiklah…aku kalah. Biarkan aku mengakui. Silahkan jika kamu teguh dengan egomu, namun biarkan aku terseret hanyut dalam deru rasaku. Jujur…kepadamu debar hati ini tak bisa kuhindari. Anganku membahana, mimpiku terbang dan asaku pun menuju arah yang hanya kepadamu. Ku akui aku telah jatuh hati. Tahukah kamu ? Sikapku selama ini hanyalah caraku menutupi rasa takutku, khawatir jika hatimu ternyata bukan untukku. Tidakkah kamu mengerti ?
Jika memang frasa ini mampu kamu baca, jika seuntai harapku ini juga dapat kamu selami, dan jika seberkas kilau namaku juga ada di ruang hatimu, lalu buat apa kamu terus bertahan ?
Sudahlah…tanggalkan saja egomu, enyahkan pula ketakutanmu, dan apapun segala hambatan diri yang menjadi pencekal hadirnya bahagiamu. Tinggal itu rasanya dinding tebal yang mesti kamu robohkan jika memang aku yang ingin kamu tuju. Sebab di balik dinding itu, ada aku yang telah menunggu siap untuk menyambutmu. Setelahnya..biarkan kita terus bersisian melangkah meniti bahagia yang kita damba.
Bogor, 12082024
Hd’s
Profil Penulis:
Hadi Suroso. Biasa dipanggil Mr/Mas Bob. Aktivitas keseharian, mengajar Math Cambridge di sekolah Bosowa Bina Insani Bogor, guru Bimbel dan juga guru privat SD sampai SMA untuk persiapan masuk PTN. Mulai menyukai menulis sejak satu tahun terakhir, khususnya Puisi dan Refleksi kehidupan sebagai percikan hikmah. Menulis bisa kapan saja, biasanya saat muncul gagasan dan keinginan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Menulis merupakan bagian dari mengasah jiwa dan menggali hikmah.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.