Milenianews.com, Bogor—Al-Iman Islamic School menggelar Halal Bihalal dan Silaturahmi untuk seluruh guru dan karyawan, Senin (30/3/2026). Acara tersebut dilaksanakan di Masjid Al-Iman Bojonggede, Bogor.
Ketua Yayasan Perguruan Al-Iman, H.E. Afrizal mengatakan, Yayasan Perguruan Al-Iman sebagai lembaga pendidikan Islam, memandang bahwa kualitas dan kerja keras guru menjadi faktor utama dalam peningkatan mutu pendidikan, karena kompetensi dan profesionalisme guru berbanding lurus dengan hasil belajar siswa. Guru adalah figur yang amanah, profesional, dan mencerminkan adab yang baik, sehingga menjadi contoh langsung bagi siswa.
“Dalam konteks inilah, halal bihalal bukan hanya sekedar momentum seremonial, melainkan titik balik evaluasi diri kita semua,” kata Afrizal dalam kata sambutannya.

Ia menambahkan, Sekolah Al-Iman — yang memiliki motto “Sekolah untuk Kehidupan” — memiliki keunggulan dalam membangun keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan moral. “Sekolah Al-Iman tidak hanya mencetak siswa yang berprestasi secara akademik, namun Al-Iman berupaya melahirkan generasi Qur’ani, generasi yang memiliki kecerdasan , jujur, dan bermoral untuk masa depannya,” ujarnya.
Di akhir kata sambutannya, Afrizal menegaskan, “Pendidikan yang benar bukan hanya melahirkan orang pintar, tetapi melahirkan manusia yang memiliki adab, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa menuntut ilmu adalah perintah Allah.”
Tidak Pernah Pensiun dari Keberkahan
Dalam tausiyahnya, Pembina Yayasan Perguruab Al-Iman, Dr. Zulfikri Anas M.Ed mengemukakan, profesi sebagai guru adalah profesi yang tidak pernah pensiun dari keberkahan, sampai kapanpun, sekalipun kita telah tiada. “Semakin terkuras energi kita karena saking kompleksnya persoalan mereka, maka semakin besar keberkahan yang mengalir kepada kita sebagai gurunya. Kehadiran guru menyelamatkan keberlanjutan kehidupan mereka di dunia dan akhirat,” kata Zulfikri.

Ia menambahkan, pertemuan antarmanusia, di mana dan kapan, serta dalam rangka apa pertemuan itu, semuanya atas dasar keputusan Allah SWT. “Keputusan Allah tidak pernah keliru. Nah ketika kita sebagai guru dipertemukan di ruang kelas oleh Allah, berarti Kita mendapat kepercayaan dan kehormatan untuk membantu anak murid kita dalam menyucikan dirinya. Kehormatan dan kepercayaan yang tidak diberikan ke semua orang. Allah memberikan kepercayaan itu kepada mereka yang memiliki kemampuan. Hal ini sesuai dengan janji Allah tidak akan memberikan persoalan yang besar kepada orang yang tidak memiliki kemampuan,” paparnya.
Artinya, dia menambahkan, “tidak ada satupun alasan bagi kita sebagai guru untuk mengeluhkan murid yang ada di hadapan kita, karena semua itu ketentuan dari Allah SWT. Ketika kita menyadari hal ini, kita tidak akan mengeluhkan rumitnya persoalan murid. Justeru kita akan merasakan asupan energi yang melebihi rumitnya persoalan murid kita. Itulah salah satu bentuk keberkahan dari Allah, dan ketika kita menjalankannya dengan tulus, maka keberkahan itu akan dilipatgandakan Allah SWT.”
Baca Juga : Ramadhan 1447 H: Sekolah Al-Iman Fokus Program Pembentukan Akhlak Qur’ani
Zulfikri mengatakan, Allah telah menetapkan dan menghitung semuanya dengan seteliti-telitinya, termasuk seberapa besar energi dan sumber daya yang dibutuhkan oleh seorang guru agar mampu menghadapi dan menyelesaikan persoalan hidupnya, termasuk persoalan yang dihadapi ketika menjadi guru. “Maka tidaklah ada keraguan bagi kita untuk memberikan layanan terbaik kepada setiap siswa-siswa kita sesuai kebtuhan mereka,” ujarnya.

Ia menegaskan, mendapatkan pendidikan yang bermutu, sesuai dengan kebutuhan siswa adalah hak mereka, bukan kewajiban. “Kewajiban kitalah sebagai pendidik untuk memberikan hak mereka itu,” ujarnya.
Di akhir tausiyahnya, Zulfikri mengemukakan, “Ketika siswa melakukan kesalahan, mereka butuh pendampingan dan penyadaran akan kesalahannya. Mereka bukan butuh hukuman, mereka butuh sentuhan hati dan tuntunan hidup lewat ilmu pengetahuan dan akhlak yang kita sampaikan melalui sentuhan nurani dan keteladanan.”

Pembacaan Puisi Ramilus Ram
Acara Halal Bihalal Sekolah Al-Iman dimeriahkan dengan pembacaan puisi berjudul “Renungan Siang HBH di Kampus Al Iman” oleh penyair Ramilus Ram yang juga ketua Komisi Seni dan Budaya Isolam MUI Kabupaten Bogor priode 2025-2030:
Setelah digembleng habis-habisan
Dalam kawah candradimuka Ramadhan
Yang seru dan menantang
Sebuah upgrading kolosal
Bersejarah full timer
Pagi siang sore malam
Bukan 1 2 3 hari tetapi 30 hari
Raga lalu melepas lemak ber kilo kilo banyaknya
Dosa dosa terbakar
Ghufiro lahu maa taqoddama min jambih
Dosa berguguran
Lemak lemak terbakar oleh lapar
Sungguh kuasa Allah kita dididik di tarbiyah
Oleh sang pemilik jagad alam raya ini
Alam menjadi saksi
Bintang bintang rembulan
Al quran menjadi saksi
Lailatul qadr menjadi saksi
Malaikat mulya mencatat
Menjadi saksi
Di sini, Senin 11 Syawal nan fitri
Di pelataran lman sang hamba
Di kampus Al iman
Usai ramadhan
Kita bersua diri atas nama
Silaturahim Iedul fitri
Nan indah ini
Kun rabbanian wala takun ramadhanian
Jadilah hamba Allah yang bertaqwa terus sepanjang waktu hingga lepas nyawa dari badan
Jangan menjadi mahluk Ramadhan
Taubat di bukan mulia
Kumat lagi di bulan bulan biasa
Astagfirullah
Nahzdubillah
Dan taatilah Allah dan rasul-Nya
Supaya kamu beroleh rahmat
Berlombalah mendapat ampunan dari Rabbmu
Dan syurga yang luasnya
Seluas langit dan bumi
Di sediakan bagj orang orang taqwa kepada Tuhan
Yaitu orang yang menafkahkan hartnya dalam waktu senang atau kesukaran
Orang yang menahan kemarahan
Dan memberi maaf kepada orang
Allah cinta orang yang berbuat kebaikan
Saudaraku
Di fitri kita bersua kembali
Halal bi halal
Penyembuh jiwa
Menahan rindun kampung halaman
Pabila tiada sempat pulang
Cukui iko halal bi halal
Jadi penyejuk
Jadi pengobe hati nan risau
Rindu sanak di tampe nan jauh itu
Memaafkan adalah kuncinya
Rindu ridho Illahi targetnya
Membuka kunci pintu syurga menjadi tujuanya
Kita tinggalkan salah
Kita redam dendam
Kita sauk hikmah
Barulah hidup ada artinya
..taqabbalallahu.minna wa minkum
Taqabbal ya kariiim
Minal ‘aidin wal faizin













