Milenianews.com, Depok– Suasana Jumat pagi Sekolah Bakti Mulya 400 Depok terasa khidmat ketika para pendidik dan tenaga kependidikan berkumpul untuk menyimak kajian ilmiah keislaman. Kajian bertema “Guru Sebagai Tauladan” ini menghadirkan narasumber Taufik Kamil, S.Kom, guru Upper Secondary Bakti Mulya 400.
Kegiatan ini diselenggarakan guna memperkuat pembinaan karakter, moral, serta ketahanan iman bagi seluruh sivitas akademika di tengah tantangan dunia pendidikan modern.
Acara dibuka dengan lantunan selawat dan puji-pujian kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.
Mengawali paparannya, Taufik Kamil menjelaskan makna mendalam dari kalimat hamdalah melalui pembagian empat jenis pujian dalam tradisi Islam.
- Qadim ‘ala Qadim (َقِدْيٍم َ عَىل َ قِدْيٌم): Pujian dari Dzat yang Mahakekal (Allah SWT) kepada Dzat-Nya sendiri yang Mahakekal, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 20).
- Qadim ‘ala Hadits (َحِ دْيٍث َ عَىل َ قِدْيٌم): Pujian dari Allah SWT kepada makhluk-Nya yang baru diciptakan [5], seperti pujian Allah dan malaikat-Nya kepada Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. AlAhzab: 56).
- Hadits ‘ala Qadim (َقِدْيٍم َ عَىل َ حِ دْيٌث): Pujian dari makhluk yang fana kepada Sang Pencipta yang Mahakekal, yang terwujud dalam ucapan syukur: “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” (Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin).
- Hadits ‘ala Hadits (َحِ دْيٍث َ عَىل َ حِ دْيٌث): Pujian dari sesama makhluk kepada makhluk lainnya, yang tercermin dalam ucapan terima kasih serta pengakuan atas kebaikan sesama manusia. Pemaknaan ini menjadi pengingat bagi setiap pendidik untuk senantiasa menempatkan rasa syukur dan kerendahan hati dalam mengemban amanah mengajar.
Taufik Kamil menegaskan bahwa fondasi utama seorang pendidik adalah meneladani akhlak Rasulullah SAW sebagai suri teladan terbaik (uswah hasanah). Hal ini merujuk pada firman Allah SWT:
“Sungguh, benar-benar ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Seorang guru dituntut tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga menampilkan pribadi yang berwibawa (waquran), santun (haliman), dan sabar (shaburan) dalam menghadapi dinamika pendidikan serta berbagai urusan murid.
Dalam proses menuntut ilmu, Taufik menguraikan panduan penting dalam memilih sosok pendidik yang berilmu dan berakhlak. Mengutip nasihat dalam kitab adab belajar, seorang murid hendaknya mengutamakan guru yang memiliki kriteria tertentu: “Dalam memilih guru, hendaklah memilih yang lebih ‘alim (berilmu luas), lebih wara’ (menjaga diri dari syubhat), dan lebih tua usianya.”
Baca Juga : Siswa SMP dan SMA Bakti Mulya 400 Depok Ikuti English Fun Class with English 1
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kemanfaatan ilmu sangat bergantung pada bagaimana seorang pencari ilmu memuliakan ilmu dan pengajarnya. Seorang penuntut ilmu ditegaskan tidak akan memperoleh ilmu serta tidak akan mendapatkan manfaat darinya, kecuali dengan mengagungkan ilmu beserta ahlinya, serta menghormati gurunya
Rasa hormat (hurmah) ini diyakini sebagai penentu utama keberhasilan belajar. Taufik mengutip ungkapan hikmah: “Seseorang yang mencapai keberhasilan, mencapainya dengan penghormatan; dan seseorang yang jatuh (gagal), jatuh karena meninggalkan penghormatan.”.
Ketekunan dan Kesungguhan Membuka Pintu Keberhasilan
Selain adab dan penghormatan, keberhasilan belajar menuntut adanya kesungguhan (al-jidd), ketekunan (al-muwazhabah), serta komitmen yang berkelanjutan dari penuntut ilmu. Taufik menutup paparannya dengan bait hikmah tentang kekuatan kesungguhan: “Kesungguhan mendekatkan segala sesuatu yang jauh, dan kesungguhan membuka setiap pintu yang tertutup.”.
Melalui keteladanan pendidik yang berakar pada sunnah Rasulullah SAW, pemuliaan terhadap ilmu, serta kesungguhan dalam belajar, proses pendidikan di Sekolah Bakti Mulya 400 diharapkan mampu membentuk generasi yang berakhlak mulia, berilmu amaliah, dan siap membawa kemaslahatan bagi masyarakat.









