Milenianews.com, Tangsel– “Jangan takut mencoba. Kalau kita tidak pernah mencoba, bagaimana kita tahu bahwa kita sebenarnya mampu?” Kalimat sederhana itu menjadi pesan yang paling membekas yang disampaikan oleh Elfifian Kristiani Harefa, siswi kelas XI SMAN 1 Namohalu Esiwa, Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara, saat berbagi pengalaman pada forum ‘Pelatihan Penulisan, Tips&Triks yang diselenggarakan oleh Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PPkM) Universitas Terbuka secara online via zoom meeting Senin (27/07/2026).
Pelatihan Penulisan Esai tersebut diikuti oleh siswa SMA/SMK/MA/MAK dan sederajat dari berbagai daerah sebagai bagian dari rangkaian Lomba Esai Nasional Universitas Terbuka Tahun 2026.
Dalam kegiatan pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan motivasi, tetapi juga pembekalan mengenai teknik menulis esai yang baik. Materi disampaikan oleh Dr. Teguh Prakoso, S.Pd, M.Hum, Lektor Kepala bidang Apresiasi Sastra Indonesia. Teguh Prakoso yang juga Direktur pada Direktorat Sumber Daya Manusia (DSDM) Universitas Terbuka menekankan bahwa menulis merupakan keterampilan yang berkembang melalui proses, bukan sesuatu yang langsung sempurna. Ia mengajak peserta membangun esai yang memiliki ide orisinal, fokus pada tema, didukung data yang valid, analisis yang logis dan solutif, disusun secara sistematis, serta mengikuti ketentuan teknis penulisan yang telah ditetapkan.

Dalam kesempatan itu, sebagai Juara I Lomba Esai Nasional Tingkat SMA Universitas Terbuka Tahun 2025, Elfifian berbagi pengalamannya, awalnya sempat diliputi keraguan ketika mulai menulis. “Saya sempat bertanya, apakah tulisan saya menarik? Apakah idenya terlalu sederhana? Tapi saya memilih tetap menulis. Jangan hambat langkah hanya karena takut tidak menang,” ujarnya.
Menurutnya, ide terbaik justru sering lahir dari persoalan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, peserta tidak cukup hanya mengangkat masalah, tetapi juga perlu menawarkan solusi yang realistis dengan didukung data yang valid dan referensi yang dapat dipercaya.
Ia juga mengingatkan bahwa menulis merupakan sebuah proses.”Saya biasanya mulai dari berpikir, menyusun ide, menulis, lalu memperbaikinya berkali-kali. Menulis itu tidak sekali jadi. Justru dari proses itulah tulisan menjadi lebih baik,” katanya.
Bagi Elfifian, mengikuti lomba bukan semata-mata untuk mengejar gelar juara. Hal yang lebih penting adalah menjadikan kompetisi sebagai ruang belajar untuk mengenali kemampuan diri.
“Jangan sekadar ikut lomba karena ingin menang. Beranikan diri untuk mencoba. Lomba memberi kesempatan kepada kita untuk mengetahui potensi yang kita miliki. Menang itu adalah buah dari kesungguhan kita belajar dan berproses,” pesannya kepada peserta.

Pelatihan ini menjadi bagian dari rangkaian sosialisasi Lomba Esai Nasional Universitas Terbuka Tahun 2026 yang mengusung tema “Generasi Muda Peduli Sampah untuk Indonesia Berkelanjutan.” Melalui pembekalan teknis dan berbagi pengalaman dari para narasumber, Universitas Terbuka berharap semakin banyak siswa SMA/SMK/MA dan sederajat yang berani menuangkan gagasan, berpikir kritis, serta menghadirkan solusi kreatif bagi berbagai persoalan lingkungan melalui karya tulis esai.
Hadir sebagai perwakilan sekolah, SMAN 1 Namohalu Esiswa, SMAS Permata Kasih, SMAN 3 Gunung Sitoli, SMA Santo Xaverius Gunungsitoli, SMA Negeri 2 Sidikalang, SMAN 13 Depok, SMAN 2 Kisaran, SMAKN 1 Medan, SMKN 1 Botomuzoi, SMKN 2 Slawi, SMKN 1 Brebes, SMAN 1 Ciamis, SMKN 3 Pematangsiantar, SMAN 1 Banyudono, MAN 2 Model Medan, SMKN 1 Purbalingga, SMKN 11 Batam, SMK Muhammadiyah 1 Palembang, SMK Kristen Harapan Sejahtera, SMK Widya Manggala Purbalingga, SMKN 1 Purbalingga, SMK DK-UT, SMAIT Nurul Muhajirin, SMAN I Lubukpakam, SMAN Purwokerto, dan peserta lainnya yang hadir sebagai individu seperti guru dan dosen.










