Milenianews.com, Demak— Sastrawan dan penulis novel Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy atau yang akrab disapa Kang Abik, mengajak para santri meneladani keberanian ulama dan kiai sufi dalam melawan berbagai bentuk penindasan, termasuk penindasan zionis Israil terhadap warga Muslim Palestina. Pesan tersebut disampaikan dalam acara bedah buku Ayat-Ayat Cinta 3: Cintaku di Gaza di Pondok Pesantren Hidayatus Sholihin, Wringinjajar, Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Rabu (28/10/2026).
Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Santri itu dihadiri ratusan santri dan puluhan kyai serta tokoh masyarakat setempat. Selain membahas isi novel, acara ini menjadi ruang refleksi tentang peran santri dalam memperjuangkan kemanusiaan dan merespons berbagai persoalan dunia.
Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatus Sholihin, Dr. KH. Choeroni, dalam sambutannya menyampaikan bahwa santri memiliki peluang besar untuk berkiprah di tingkat nasional maupun internasional. Ia mencontohkan perjalanan Kang Abik yang melalui proses panjang dalam menuntut ilmu hingga dikenal sebagai penulis yang karyanya dibaca masyarakat luas.
Menurut Kyai Choeroni, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kesungguhan, ketekunan, dan perjuangan dalam menjalani proses pendidikan. Karena itu, ia mengajak para santri untuk memiliki cita-cita besar sekaligus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.
“Santri harus berani bermimpi besar, tetapi juga harus bersungguh-sungguh menjalani proses untuk mewujudkan cita-citanya,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutan tersebut.
Fahri Kembali, Membawa Kisah Perjuangan Palestina
Novel Ayat-Ayat Cinta pertama yang terbit pada 2004 mendapat sambutan luas dari pembaca dan menjadi salah satu karya sastra populer Indonesia. Kesuksesannya berlanjut melalui Ayat-Ayat Cinta 2 yang terbit pada 2016. Setelah penantian sekitar satu dekade, kisah Fahri kembali hadir melalui novel ketiga, Ayat-Ayat Cinta 3: Cintaku di Gaza.
Dalam seri ini, Kang Abik membawa pembaca menyelami persoalan Palestina, terutama penderitaan masyarakat Gaza akibat penjajahan, kekerasan, blokade, dan konflik berkepanjangan. Kisah Fahri tidak hanya menjadi kelanjutan perjalanan tokoh utama, tetapi juga sarana untuk menyuarakan kepedulian terhadap nasib masyarakat yang tertindas.

Dalam pemaparannya, Kang Abik menekankan bahwa santri tidak seharusnya membatasi kepedulian pada lingkungan pesantren atau persoalan di dalam negeri. “Berbekal ilmu dan nilai-nilai Islam, santri perlu mengambil peran dalam membela kemanusiaan serta menyuarakan keadilan bagi masyarakat yang mengalami penindasan,” kata Kang Abik.
Ia mengajak para santri menjadikan momentum Hari Santri sebagai pengingat atas warisan perjuangan ulama dan kiai pesantren yang tidak tinggal diam menghadapi kolonialisme. Semangat tersebut, antara lain, tercermin dalam perjuangan para ulama yang melatarbelakangi lahirnya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945.
Baca Juga : Habiburrahman El Shirazy Luncurkan Novel “Ayat Ayat Cinta 3 Cintaku di Gaza”
Menurut Kang Abik, semangat perjuangan itu relevan untuk direnungkan ketika menyaksikan penderitaan rakyat Palestina. Ia mengajak santri melihat perjuangan kemerdekaan Indonesia sebagai sumber inspirasi untuk menumbuhkan solidaritas terhadap bangsa-bangsa yang masih memperjuangkan kebebasan dan keadilan.
“Kita dan Palestina memiliki kaitan yang erat. Jika dahulu kita ditindas kolonialisme Belanda, saat ini rakyat Palestina menghadapi penindasan dari kaum zionis Israil. Jika dahulu para ulama sufi, seperti Syeikh Yusuf Al-Makasari, Syeikh Abdu Shomad al Palimbani berada di garda depan perlawanan di Indonesia, perjuangan di Palestina juga memiliki tokoh-tokoh sufi yang menggerakkan perlawanan,” ujar Kang Abik.
Ia juga menyinggung sosok Syekh Izzuddin al-Qassam sebagai tokoh perlawanan Palestina yang memiliki latar belakang sufi, penganut Tarekat Sadyilizah. Kisah para ulama dan tokoh tersebut, menurut pesan yang disampaikan dalam bedah buku, dapat menjadi bahan refleksi bagi santri tentang hubungan antara keimanan, keberanian, dan tanggung jawab sosial.
Pesantren dan Kepedulian terhadap Kemanusiaan
Melalui Ayat-Ayat Cinta 3: Cintaku di Gaza, Kang Abik mengajak pembaca melihat sastra bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan juga sebagai medium untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman, membangun empati, dan menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan.
Bagi kalangan pesantren, pesan tersebut menegaskan bahwa menuntut ilmu tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab moral. Santri diharapkan tidak hanya unggul dalam pengetahuan agama, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap ketidakadilan serta keberanian untuk membela nilai-nilai kemanusiaan.
Bedah buku yang berlangsung meriah itu menjadi momentum untuk memperluas wawasan santri sekaligus meneguhkan peran pesantren dalam membentuk generasi berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat, bangsa, dan dunia.













