Milenianews.com — Dalam sepak bola, damai sering terdengar mudah, tetapi merawatnya jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Slogan “Bonek Viking Satu Hati” pernah menjadi simbol indah tentang persaudaraan dua suporter besar Indonesia. Namun kini, kalimat itu resmi “diistirahatkan”. Bukan dihapus, tetapi ditaruh sejenak, seperti pemain cadangan yang belum tentu kembali masuk lapangan.
Keputusan tersebut disampaikan Viking Persib Club pada Kamis, 5 Maret 2026 melalui sejumlah platform media sosial. Ada lima poin sikap yang mereka rilis, dan semuanya merujuk pada satu hal: hubungan yang pernah diupayakan harmonis, kini terasa mulai retak.
Ketika Slogan Tak Lagi Cukup
Secara historis, hubungan Viking—suporter Persib Bandung—dan Bonek—pendukung Persebaya Surabaya—pernah menjadi contoh bahwa rivalitas bisa dikelola. Mereka menunjukkan bahwa perbedaan warna bisa disatukan dalam semangat kebersamaan. Namun, situasi beberapa waktu terakhir membuktikan narasi ideal itu tidak mudah dijaga.
Viking menyampaikan kekecewaannya terhadap pihak-pihak yang dinilai tidak menjaga semangat persaudaraan tersebut. Relasi yang dulu hangat kini justru sering kali memanas, bahkan menimbulkan gesekan.
Yang menarik, di tengah situasi tersebut Viking memilih menahan diri. Mereka mengaku tidak membalas intimidasi atau serangan bukan karena lemah, tetapi karena menghargai sejarah panjang hubungan Bandung–Surabaya. Ada emosi kolektif, ada nilai-nilai pendahulu, ada warisan moral yang tidak bisa diputus begitu saja.
Slogan “satu hati” mencoba merangkum identitas dan sejarah yang begitu kompleks. Ketika tak lagi sejalan dengan kenyataan, mungkin mengistirahatkannya adalah bentuk kejujuran. Bahwa hubungan tidak selalu dapat dipaksa tampak baik ketika fondasinya sedang rapuh.
Baca juga: Menang di Bandung, Gugur di Asia: Persib Bandung Tersingkir dari ACL Two
Pernyataan Sikap Viking Persib Club
Menanggapi rangkaian insiden yang terjadi pada laga Persebaya Surabaya vs Persib Bandung, Viking merilis sikap resmi:
- Kehadiran perwakilan Viking di Surabaya merupakan amanat moral dari almarhum Ayi Beutik untuk menjaga persaudaraan Bandung–Surabaya. Kehadiran mereka bertujuan mempererat, bukan memicu konflik.
- Viking mengecam keras segala bentuk kekerasan, intimidasi, dan tindakan anarkis yang mengakibatkan korban luka dan kerugian materiil, termasuk kehilangan barang pribadi anggota.
- Mereka menyayangkan adanya provokasi hingga penyerangan ke tempat menginap perwakilan Viking, yang dianggap mencederai semangat persaudaraan.
- Selama ini Viking memilih tidak membalas provokasi demi menjaga kondusivitas, namun sikap tersebut tidak berarti mengabaikan ancaman yang terjadi.
- Dengan mempertimbangkan situasi terkini, Viking memutuskan menjaga jarak dan mengistirahatkan slogan “Bonek Viking Satu Hati” karena dinilai tidak lagi relevan serta membutuhkan refleksi bersama.
Akankah Slogan Itu Kembali?
Pertanyaan utamanya kini bukan apakah slogan itu akan dipakai lagi, tetapi apakah kedua pihak siap memperbaiki kondisi yang membuatnya harus diistirahatkan. Perdamaian, seperti hubungan apa pun, tidak hanya soal memulai, tetapi merawatnya agar tetap hidup.
Ketika rivalitas semakin mengeras, jeda mungkin menjadi ruang untuk memahami kembali akar masalah. Dan mungkin, suatu hari, slogan itu bisa kembali, jika fondasinya sudah lebih kuat.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













