News  

Benarkah Erdogan Bawa Masyarakat Turki Menjadi Ateis?

Erdogan

Milenianews.com, Istanbul – Kejayaan Turki sejak Erdogan menjadi presiden sangat di sanjung masyarakat dunia. Terutama saat dia berhasil meruntuhkan sekularisme di Turki. Namun, pendapat berbeda beredar dari survei terbaru yang dilaksanakan lembaga jajak pendapat konda. Menurut sumber tersebut, semakin banyak warga Turki yang menyatakan mereka berpaling ke paham ateisme.

Dalam waktu 10 tahun terakhir, jumlahnya naik tiga kali lipat. Bahkan warga Turki yag menganut agama islam dan benar-benar menjalankan ajarannya sebesar 51 persen.

Hal Itu Tercermin Dari Sikap Para Elit Politik

Recep Tayyip Erdogan

Seorang warga Turki, Balyemez (36), telah menjadi ateis lebih dari 10 tahun. “Memang terjadi koersi agama di Turki. Di Turki sendiri orang bebas-bebas saja mengaku menjadi ateis.” Ujarnya.

Baca Juga : Diceraikan, Kini Perempuan Arab Akan Dapat Notifikasi

Hal tersebut ia ungkapkan dengan mengamati perilaku para tokoh politik islam. Balyemez mengatakan bahwa dirinya dibesarkan dalam keluarga yag sangat religius.

“Karena kalau mengamati perilaku para tokoh politik Islam, kelihatan bahwa mereka sekarang mencoba meniru praktik Islam pada masa-masa awal kelahirannya. Jadi, yang kita saksikan saat ini adalah Islam primordial. Dulu Puasa dan shalat adalah hal yag terpenting bagi saya.” Ujar pria yang saat ini memutuskan untuk menjadi seorang ateis.

99 Persen Warga Turki Hanya Mengaku Islam

Wargaa Turki

Berbeda dari yang diungkapkan Direktorat Urusan Agama Turki, Diyanet, yang mengatakan bahwa, warga Turki mendeklarasikan 99 persen sebagai penganut islam. Namun, survei yang dilakukan konda menunjukan angka yang berbeda.

Ahli teologi Cemil Kilic berpendapat kedua angka itu benar. “Memang secara formal, 99 persen warga Turki mungkin merasa mereka beragama Islam. Tapi banyak dari mereka yang hanya memahami Islam dalam konteks kultural dan sosiologis, bukan dalam konteks keagamaan.” Katanya.

Baca Juga : Ledakan Bom Bunuh Diri, Tewaska Puluhan Orang

Lanjut Cemil, menilai apakah seseorang itu religius atau tidak, harus berdasar pengamatan. Apakah orang itu memang menganut nilai-nilai etis dan kemanusiaan dari suatu agama. “Menjadi penganut agama Islam bukan sekadar memakai busana Islam dan melakukan ritual-ritual tertentu saja. Kalau melihat dari praktiknya., tidak sampai 60 persen warga Turki yang bisa dibilang menjalankan agama Islam.” Lanjutnya.

Agama Kerap Digunakan Kepentingan Dan Praktik Politik
Agama dan Politik
Sumber : Kumparan.com

Hal tersebut terjadi karena di Turki, agama sekarang menjadi erat dengan kepentingan dan praktik politik. Acara shalat besar-besaran sering menjadi ajang untuk menunjukan loyalitas kepada kepemimpinan politik. Khotbah di masjid-masjid selalu mencerminkan pandangan politik penguasa.

Cemic menjelaskan, ateisme warga Turki tidak berarti juga telah menghilangkan nilai-nilai moral dan etika. Justru menurutnya, sebagian ateis punya nilai-nilai etika da moral yang jauh lebih kuat dari warga Turki yang mengaku muslim.

Penyebaran kebiasaan para pejabat pemerintaha menggunakan agama untuk legitimasi kebijaka politik, membuat kecenderungan banyak orang jadi skeptis terhadap islam.

Selin Ozkohen, perempuan yang menjadi Ketua Organisasi Ateis Turki “Ateizm Dernegi”, mengatakan, upaya Erdogan menjadikan Turki negara yang makin religius malah berdampak sebaliknya.

“Organisasi agama malah mendiskreditkan dirinya sendiri. Pemerintahan dan kebijakan politik seharusnya tidak didominasi satu sekte agama, karena ini hanya akan membuat makin banyak orang mempertanyakan agama itu dan lebih senang menjadi ateis yang humanis.” Ujarnya.

Bahkan sekarang semakin banyak orang yang secara terbuka mengaku ateis. Namun, anak-anak sekolah masih tetap diwajibkan belajar agama Islam. (Ikok)

Sumber : DW Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *