Sejarah Ditetapkannya 1 Januari Sebagai Awal Tahun

sejarah tahun bari 1 januari

Milenianews.com, Jakarta – Perubahan tahun baru dalam kalender masehi, jatuh pada tanggal 1 Januari. Namun, sebelum hal tersebut terjadi, selama berabad-abad sebelumnya, Tahun Baru jatuh di luar bulan Januari, seperti Maret dan Desember.

Misalnya, bangsa Babilonia, yang merayakan Tahun Baru setiap bulan Maret. Hal tersebut karena berbarengan dengan pergantian musim.

Baca Juga : Sejarah Penggunaan Sandal dalam Ruangan di Jepang

Saat ini, mayotitas negara di dunia menentukan tanggal 1 Januari, sebagai awal tahun baru. Bahkan, semua warga dunia, merayakannya setiap malam 31 Desember sampai 1 Januari dini hari.

Oleh sebagian orang, momen tahun baru menjadi waktu untuk merefleksikan perjalanan hidup setahun ke belakang, serta menatap resolusi tahun depan.

Mulai dengan kalender Julian, menetapkan 1 Januari sebagai tahun baru dan memunculkan tahun kabisat

Penetapan 1 Januari sebagai awal tahun baru, sudah ada sejak zaman Julius Caesar, tepatnya lima dekade sebelum Yesus lahir.

Kalender-kalender, juga sudah ada sebelum Caesar menciptakan kalender Julian pada 46 sebelum masehi (SM). Namun, kalender Julian menjadi yang pertama, yang menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun baru.

Tanggal tersebut merupakan hari di mana kedua konsul, pejabat politik terpilih tertinggi di Roma, mulai menjabat untuk masa jabatan mereka selama setahun.

Penciptaan kalender Julian, mengutip Kompas.com, untuk memperbaiki sistem penanggalan yang sebelumnya digunakan Romawi. Kalender Romawi berusaha mengikuti siklus bulan, namun sering tidak sesuai dengan musim dan banyak koreksinya.

Para pejabat politik di Romawi yang bertugas mengawasi kalender, juga sering menyalahgunakan wewenangnya dengan menambahkan hari, untuk memperpanjang masa jabatan.

Dalam merancang kalender barunya, Caesar meminta bantuan Sosigenes, seorang astronom Aleksandria, yang menyarankan untuk menghilangkan siklus bulan sepenuhnya dan mengikuti tahun matahari, seperti yang dilakukan orang Mesir.

Tahun menjadi 365 dan 1/4 hari. Lalu Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 46 SM, yang membuat tahun 45 SM mulainya pada 1 Januari, bukan di bulan Maret.

Baca Juga : Sejarah Hari Buruh Internasional (May Day)

Ia juga manambahkan satu hari, setiap empat tahun sekali pada bulan Februari, sehingga tetap menjaga kalendernya agar tidak ketinggalan zaman.

Sebelum Romawi runtuh

Pada saat itu, kekuasaan kekaisaran Romawi meluas. Penggunaan kalender Julian pun turut menyebar. Akan tetapi, pada abad ke-5 M, saat Romawi jatuh, banyak negara kristen mengubah kalender mereka, sehingga lebih mencerminkan sisi religius mereka.

Setelah jatuhnya Romawi, tanggal 25 Maret (Hari Raya Kabar Sukacita) dan 25 Desember (Natal) menjadi Hari Tahun Baru yang umum. Namun, mulai disadari bahwa kalender Julian perlu perubahan tambahan, karena adanya kesalahan perhitungan tentang tahun kabisat.

Efek dari kesalahan tersebut, menyebabkan berbagai peristiwa terjadi di musim yang salah. Tak terkecuali saat menentukan tanggal Paskah, juga sering salah.

Penyempurnaan kalender Gregorian yang digunakan sampai sekarang

Paus Gregorius XIII kemudian memperkenalkan revisi kalender Julian pada tahun 1582, yang disebut sebagai kalender Gregorian.

Kalender Gregorian juga mengembalikan 1 Januari sebagai awal tahun baru. Italia, Perancis, dan Spanyol termasuk di antara negara-negara yang segera menerima kalender terbaru itu.

Akan tetapi, negara-negara Protestan dan Ortodoks agak lambat dalam mengadopsinya. Inggris Raya dan koloninya di Amerika, tidak mengikuti kalender Gregorian sampai tahun 1752. Sebelum itu, mereka merayakan Hari Tahun Baru pada tanggal 25 Maret.

Baca Juga : Pertama Dalam Sejarah, Pesawat Ruang Angkasa Sentuh Matahari

Saat ini, negara-negara non-kristen juga menggunakan kalender Gregorian. Sementara China mulai menerapkan kalender Gregorian pada 1912, namun tetap merayakan Tahun Baru China menurut kalender tradisional mereka.

Bahkan, banyak negara yang mengikuti kalender Gregorian juga memiliki kalender tradisional atau keagamaan lainnya. Ada juga negara yang tidak pernah mengadopsi kalender Gregorian yang memulai tahun baru diluar Januari. Misalnya Ethiopia, mereka merayakan tahun baru (Enkutatash) pada bulan September.(Rifqi Firdaus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *