News  

Konferensi Internasional ICAI 2026, Prof. Rokhmin Dahuri  Sampaikan 7 Transformasi Strategis Akuakultur

Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), yang juga Anggota Komisi IV DPR RI sekaligus Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University,  Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S. memberikan pidato kunci pada The 12th International Conference of Aquaculture Indonesia (ICAI 2026), yang digelar di Hotel Tentrem, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (21/10/2026). Konferensi internasional  itu akan berlangsung hingga hari ini, Kamis (22/10/2026). (Foto: Dok MAI)

Milenianews.com, Semarang– Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), yang juga Anggota Komisi IV DPR RI sekaligus Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University,  Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S. menegaskan bahwa  Indonesia harus mengembangkan akuakultur sebagai industri modern yang produktif, berdaya saing global, inklusif, dan berkelanjutan.

“Pengembangan akuakultur tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan volume produksi. Pemerintah bersama pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat perlu memperkuat inovasi teknologi, hilirisasi industri, serta pengelolaan lingkungan,” kata Prof. Rokhmin Dahuri dalam pidato utama bertajuk “Akuakultur sebagai Pengubah Permainan untuk Indonesia Emas 2045 dan untuk Dunia yang Lebih Baik, Makmur, dan Berkelanjutan”  pada The 12th International Conference of Aquaculture Indonesia (ICAI 2026), yang digelar di Hotel Tentrem, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (21/10/2026).

Konferensi Internasional Akuakultur Indonesia ke-12 (ICAI 2026) akan berlangsung hingga hari ini, Kamis (22/10/2026). Acara yang mengusung tema “Mendorong Akuakultur Indonesia untuk Daya Saing Global: Inovasi, Keberlanjutan, dan Ketahanan,” tersebut dihadiri para ilmuwan, peneliti, pimpinan universitas, dan perwakilan organisasi internasional; para pengusaha budidaya akuakultur, investor, petani ikan, dan praktisi industri, serta anggota  MAI.

Baca Juga : Konferensi Internasional MaCIFIC 2026, Rokhmin Dahuri: Ekonomi Biru  Pengubah Permainan untuk Mencapai Indonesia Emas 2045

Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia 2001–2004  itu  menegaskan bahwa akuakultur memiliki potensi untuk menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi, keamanan pangan dan nutrisi, keamanan farmasi, keamanan energi, keamanan biomaterial, pekerjaan berkualitas, pengurangan kemiskinan, keberlanjutan lingkungan, dan kemakmuran nasional.

“Namun,  potensi ini hanya akan terwujud jika akuakultur dikembangkan melalui kebijakan berbasis sains, inovasi teknologi, praktik yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, rantai pasok terintegrasi, dan kolaborasi yang efektif antara pemerintah, akademisi, industri, dan komunitas,” kata Prof. Rokhmin.

Ia mengemukakan, sistem pangan perairan, terutama akuakultur, menawarkan peluang besar untuk mengatasi tantangan yang saling terkait terkait keamanan pangan, pembangunan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan. Menurut Organisasi Pangan Dunia (FAO), dalam laporan State of World Fisheries and Aquaculture 2026, produksi perikanan dan akuakultur global mencapai sekitar 235 juta ton pada 2024, terdiri dari 195 juta ton hewan perairan dan sekitar 40 juta ton alga.

“Perluasan produksi makanan laut di masa depan akan semakin bergantung pada budidaya akuakultur. FAO juga melaporkan bahwa makanan dari hewan laut menyumbang setidaknya 20 persen asupan protein hewani bagi sekitar 3,1 miliar orang di seluruh dunia,” ujarnya.

Selain kontribusinya terhadap nutrisi, perikanan dan budidaya akuakultur mendukung lebih dari 600 juta mata pencaharian di seluruh dunia. Hal ini menunjukkan pentingnya strategis sistem pangan akuatik bagi kelangsungan hidup manusia, kesehatan masyarakat, peluang ekonomi, dan stabilitas sosial.

Untuk mengubah akuakultur menjadi pengubah permainan (game changer)  Indonesia Emas 2045, Prof. Rokhmin mengusulkan tujuh transformasi strategis yang saling memperkuat.

Pertama: Mengembangkan akuakultur berdasarkan daya dukung ekologis dan perencanaan spasial ilmiah.

Kedua: Meningkatkan produktivitas melalui sains, teknologi, dan inovasi.

Ketiga: Memperkuat kesehatan hewan akuatik, biosekuriti, dan ketahanan iklim.

Keempat: Membangun rantai pasok budidaya perikanan yang terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan.

Kelima: Memberdayakan petani skala kecil dan menjamin pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Keenam: Meningkatkan daya saing internasional dan akses pasar.

Ketujuh: Memperkuat tata kelola, sumber daya manusia, dan kolaborasi institusional

Prof. Rokhmin menegaskan pentingnya budidaya perikanan jauh melampaui agenda pembangunan nasional Indonesia. Budidaya ini juga menawarkan peluang signifikan untuk berkontribusi pada peradaban global yang lebih baik dan berkelanjutan. Pertama, budidaya perikanan dapat membantu meningkatkan ketahanan pangan dan gizi global dengan menambah ketersediaan makanan akuakultur yang bergizi.

Baca Juga : Prof. Rokhmin Dahuri:  Ekonomi Biru sebagai Penggerak Utama Kemajuan dan Kesejahteraan Bangsa

Kedua, ini dapat mendorong pembangunan ekonomi dan pengurangan kemiskinan, terutama di kawasan pesisir dan pedesaan yang berkembang. Ketiga, budidaya perikanan bisa menciptakan lapangan kerja, kewirausahaan, dan peluang industri di berbagai negara berkembang.

Keempat, jika dikelola dengan baik, budidaya perikanan dapat berkontribusi pada produksi pangan yang ramah lingkungan, pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien, dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Kelima, kerja sama internasional dalam budidaya perikanan dapat mempromosikan pertukaran ilmiah, kemajuan teknologi, kemitraan ekonomi, dan saling pengertian antar negara.

“Namun, manfaat ini tidak bisa dicapai hanya melalui upaya nasional yang terpisah. Dunia membutuhkan kerja sama internasional yang lebih kuat dalam ilmu perikanan budidaya, teknologi, pembiayaan, pengembangan sumber daya manusia, tata kelola lingkungan, dan perdagangan. Negara maju dan industri perikanan budidaya yang canggih secara teknologi sebaiknya memperkuat kolaborasi dengan negara berkembang melalui kemitraan yang saling menguntungkan dan transfer teknologi yang tepat. Kerja sama Selatan-Selatan juga perlu diperluas, terutama di antara negara-negara dengan potensi perikanan budidaya yang besar di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Pasifik,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *