News  

Indramayu Lumbung Padi Nasional, namun Petaninya masih Miskin, Prof. Rokhmin Dahuri: Saatnya Transformasi Pertanian Berbasis Agroekologi

Prof. Rokhmin Dahuri melaksanakan pertemuan Asosiasi Masyarakat Tani Padi Indonesia (AMARTA PADI) Indramayu, Senin (26/10/2026). (Foto: Dok Dulur Rokhmin)

Milenianews.com, Indramayu– Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Guru Besar IPB University, dan Menteri Kelautan dan Perikanan RI (2001–2004), menyoroti paradoks pembangunan pertanian di Kabupaten Indramayu, yang dikenal sebagai salah satu lumbung padi terbesar nasional, tetapi masih menghadapi persoalan kesejahteraan petani.

Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan bersama Asosiasi Masyarakat Tani Padi Indonesia (AMARTA PADI) Indramayu,  di Indramayu, Senin (26/10/2026). Pertemuan tersebut   membahas tentang upaya  mengembangkan inovasi pertanian melalui sekolah lapangan, laboratorium lapangan, pemuliaan benih mandiri, dan penerapan sistem pertanian berbasis agroekologi.

Prof. Rokhmin mengapresiasi pendekatan tersebut sebagai langkah strategis untuk mengatasi berbagai persoalan pertanian, mulai dari pemadatan tanah (soil compaction), menurunnya kesuburan tanah, berkurangnya mikroorganisme tanah, hingga ketergantungan terhadap input pertanian eksternal.

Baca Juga : Peringatan Hari Tani Nasional: Prof. Rokhmin Dahuri Tegaskan Swasembada Pangan Harus Menyejahterakan Petani

Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan inovasi agroekologi harus dibuktikan secara ilmiah dan terukur melalui peningkatan produktivitas, efisiensi biaya produksi, kelestarian lingkungan, serta pendapatan dan kesejahteraan petani.

“Indramayu merupakan salah satu penghasil padi terbesar di Indonesia. Namun, mengapa petaninya masih menghadapi kemiskinan? Inilah paradoks yang harus kita selesaikan. Petani tidak boleh hanya menjadi penghasil pangan, tetapi juga harus menikmati kesejahteraan dari hasil kerja kerasnya,” tegas Prof. Rokhmin dalam rilis yang diterima Milenianews.com, Senin (26/10/2026).

Prof. Rokhmin menyatakan kesiapannya untuk mendorong pengembangan inovasi agroekologi ke tingkat nasional apabila terbukti mampu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi, memperbaiki kualitas lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

“Transformasi pertanian Indonesia harus bergerak dari sekadar mengejar peningkatan produksi menuju pembangunan pertanian yang produktif, efisien, berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, ramah lingkungan, serta menyejahterakan petani,” ujarnya.

Petani Makmur, Pangan Berdaulat, Indonesia Emas 2045!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *