Jual Beli Menurut Fiqih Mu’amalah 

Ahmad Ridwan, Mahasiswa STEI SEBI Depok. (Foto: Istimewa)

Milenianews.com, Mata Akademisi–

Pengertian Jual Beli 

 Secara etimologis, Jual beli berarti menukar harta dengan harta. Adapun secara terminologis adalah  transaksi penukaran selain dengan fasilitas dan kenikmatan. Menurut syara’, jual beli adalah pertukaran  harta atas dasar suka sama suka. Akad jual beli dibolehkan dalam islam karena untuk memenuhi hajat  pembeli untuk memiliki barang dan jasa juga memenuhi hajat penjual mendapatkan keuntungan. Akan  tetapi jika penjual menjual barangnya secara tidak tunai pada waktu tertentu, kemudian sebelum jatoh  tempo, sang penjual membeli Kembali secara tunai, maka transaksi ini tidak diperbolehkan karena substansi  akad ini adalah pinjaman berbunga.

Suatu akad jual beli dikatakan sebagai jual beli yang sah apabila jual beli itu disyariatkan, memenuhi rukun  dan syarat sah yang ditentukan, bukan milik orang lain, tidak tergantung pada hak khiyar. Sebaliknya jual  beli dikatakan batal apabila salah satu rukun atau seluruh rukunnya tidak terpenuhi.

Dengan demikian perkataan jual beli menunjukkan adanya perbuatan dalam satu kegiatan, yaitu pihak  penjual dan pembeli. Maka dalam hal ini terjadilah transaksi jualbeli yang mendatangkan akibat hukum.

Jual beli dalam Islam telah ditentukan baik berdasarkan Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Landasan al-Qur’an  dalam firman Allah Surat al-Baqarah ayat 275, yang Artinya : “Orang-orang yang makan (mengambil) riba  tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit  gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya  jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba),  maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah)  kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka;  mereka kekal di dalamnya.”

Jual beli dalam bahasa Arab disebut ba’i yang secara bahasa adalah tukar-menukar. Sedangkan menurut  istilah adalah tukar-menukar atau peralihan kepemilikan dengan cara pergantian menurut bentuk yang  diperbolehkan oleh syara’ atau menukarkan barang dengan barang atau barang dengan uang, dengan jalan  melepaskan hak milik.

Dan jual beli juga merupakan akad yang umum digunakan oleh masyarakat untuk melakukan transaksi,  karena dalam setiap pemenuhan kebutuhannya, masyarakat tidak bisa berpaling atau meninggalkan akad,  yang dimana untuk mendapatkan makanan dan minuman. Misalnya, terkadang ia tidak mampu untuk  memenuhi kebutuhan itu dengan sendirinya, tapi akan membutuhkan sosialisasi dan orang lain, sehingga  kemungkinan besar akan terjadinya akad jual-beli. Sehingga jika ada orang yang mengikat dirinya dengan  transaksi yang harus dilaksanakan saat itu juga atau beberapa waktu ke depan.

Ulama Hanafiyah: Jual beli adalah menukarkan harta dengan harta melalui tata cara tertentu atau  mempertukarkan sesuatu yang disenangi yang dapat dipahami oleh sipenjual dan sipembeli.

Menurut  Imam Nawawi: Jual beli adalah mempertukarkan harta dengan harta untuk tujuan kepemilikan. Sedangkan  menurut Ibnu Qudamah: Jual beli adalah mempertukarkan harta dengan tujuan pemilikan dan penyerahan  milik.

Dalam jual beli ada istilah barter yaitu pertukaran benda dengan benda misalnya emas dengan emas,  perak sama perak. Namun seiringnya waktu berjalan jual barter ini semakin hari semakin berkurang yang  dilakukan orang.

Selain jual beli barter ada juga jual beli dilarang tapi sering dilakukan oleh orang-orang  awam seperti : beli ijon dalam bahasa Arab dinamakan mukhadlaroh, memperjual belikan buah-buahan  atau biji-bijian yang masih hijau. Dalam buku lain dinamakan al-muhaqalah yaitu menjual hasil pertanian  sebelum tampak atau menjualnya ketika masih kecil. Dalam riwayat Ath-Thahawi mukhadlaroh, adalah  tidak boleh membeli buah-buahan dan biji-bijian sebelum ada perubahan, yaitu kemerah-merahan atau  sudah masak.  Maksudnya jual beli ini dilarang karena belum tahu keadaan buah tersebut apakah sudah  masak atau belum.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa inti jual beli ialah suatu perjanjian tukar menukar  benda atau barang yang mempunyai nilai secara sukarela di antara kedua belah pihak, yang satu menerima  benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai dengan perjanjian atau ketentuan yang telah dibenarkan  syara’ dan disepakati.

Dasar Hukum Jual Beli  

Jual beli merupakan akad yang diperbolehkan. Hal ini berlandaskan atas dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Qur’an , Al hadits ataupun Ijma’ ulama. Di antara dalil (landasan syariah) yang memperbolehkan  akad jual beli adalah sebagai berikut: ”Dan  Allah telah  menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba….”  (QS An-Nisa’: 43)

Dasar hukum jual beli dibolehkan dalam ajaran Islam. Hukum Islam adalah hukum yang lengkap dan  sempurna, kesempurnaan sebagai ajaran kerohanian telah dibuktikan dengan seperangkat aturan-aturan  untuk mengatur kehidupan, termasuk didalamnya menjalin hubungan dengan pencipta dalam bentuk  ibadah dan peraturan antara sesama manusia yang disebut muamalah.

Adapun dalil Sunnah di  antaranya hadits   yang diriwayatkan Rasulullah, yang artinya : “Pengharaman seorang membeli atas pembelian orang lain dan menawar atas penawarannya  serta pengharaman najasy dan tashriah”

Adapun mengenai hukum jual beli sebagai berikut: 

  1. Mubah (boleh ), merupakan asal hukum jual beli.
  2. Wajib, umpamanya wali menjual harta anak yatim apabila terpaksa, begitu juga Qodli menjual harta  muflis (orang yang lebih banyak utangnya daripada hartanya). Sebagaimana yang akan diterangkan nanti.
  3. Haram, sebagaimana yang telah diterangkan pada rupa-rupa jual beli yang dilarang.
  4. Sunah, misalnya jual beli kepada sahabat atau famili yang dikasihi, dan kepada orang yang sangat  membutuhkannya.

Jual beli yang di perbolehkan adalah setiap jual beli yang tidak ada dusta dan khianat, sedangkan dusta  adalah penyamaran dalam barang yang dijual,dan penyamaran itu adalah penyembunyian aib barang dari  penglihatan pembeli. Adapun makna khianat itu lebih umum dari itu, sebab selain menyamarkan bentuk  barang yang dijual, sifat, atau hal-hal luar seperti dia menyifatkan dengan sifat yang tidak benar atau  memberi tahu arti yang dusta.

Syarat shighat menurut Madzhab Syafi’i :  

  1. Berhadap-hadapan . Pembeli dan penjual harus menunjukkan shighat akadnya kepada orang yang sedang bertransaksi dengannya yakni harus sesuai dengan orang yang dituju.  Dengan demikian tidak sah berkata, “Saya menjual kepadamu!”. Tidak boleh berkata, “Saya menjual kepada Ahmad”, padahal nama pembeli bukan Ahmad.
  1. Ditujukan pada seluruh badan yang akad. Tidak sah berkata, “Saya menjual barang ini kepada kepala atau tangan kamu”.
  2. Qabul diucapkan oleh orang yang dituju dalam ijab. Orang yang mengucapkan qabul haruslah orang yang diajak bertransaksi oleh orang yang mengucapkan ijab kecuali jika diwakilkan.
  3. Harus menyebutkan barang dan harga.
  4. Ketika mengucapkan shighat harus disertai niat (maksud).
  5. Pengucapan ijab dan qabul harus sempurna. Jika seseorang yang sedang bertransaksi itu gila sebelum mengucapkan, jual beli yang dilakukannya batal.
  6. Ijab qabul tidak terpisah. Antara ijab dan qabul tidak boleh diselingi oleh waktu yang terlalu lama yang menggambarkan adanya penolakan dari salah satu pihak.
  7. Antara ijab dan qabul tidak terpisah dengan pernyataan lain   

Kesimpulan: Dari penjelasan di atas bisa kita simpulkan bahwa Allah SWT, sudah mengatur semua kegiatan kita sebagai  hamba-Nya mana yang dilarang dan mana yang diperbolehkan. Sebagai mana yang sudah dicontohkan  oleh  Nabi Muhammad perihal jual beli/ barter. Yang dilarang dalam jual beli ialah riba, menimbun  barang, jual beli najasyi dan lain-lain.  Adanya kesepakatan di  antara keduanya atas harga/ barang yang akan dijual belikan, dan tidak ada yang dirugikan dari kedua belah pihak.

Semua aturan itu sudah tertera kitab-kitab ulama terdahulu yang dikaji hingga lahirlah penjelasan dan  hukum-hukum tentang jual beli.

Penulis: Ahmad Ridwan, Mahasiswa STEI SEBI Depok.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *