Mata Akademisi, Milenianews.com – Enam orang guru terlihat dari jauh dengan senang-gembira sedang menyisiri lembah berbatu purba di bukit Kurdistan, sembari menggemblok papan tulis di punggungnya masing-masing. Ya, papan tulis, bukan tas berisi makanan atau minuman, mengingat betapa gersangnya disana, ditambah sedang panasnya perang Irak-Iran pada saat itu.
Bagai gerombolan burung Gagak, mereka mencari sosok murid yang entah sudah berapa lama nampaknya hilang, di antara bom dan senjata kimia yang membuat desa dan sekolah hancur. Keadaan yang cukup surealis ini adalah potongan adegan awal film Takhte` siah (2000) (Blackboards; dalam bahasa Inggris) karya Samira Makhmalbaf.
Papan tulis menjadi simbol yang begitu radikal ketika peperangan berhasil memusnahkan apa saja dan akhir bagi siapa saja yang berada disekitarnya. Berbanding terbalik dengan papan kayu rombeng yang menjadi awal seseorang belajar mengeja dunia.
Baca juga: Kenapa Milenial Wajib Tahu tentang DPLK Sebelum Terlambat?
Seperti dalam banyak film Iran lainnya, apa yang tampak sebagai naturalisme sinematik ekstrem juga merupakan jalan menuju mistis. Meskipun film ini berfokus pada kehidupan individu, identitas mereka dan sejarah serta situasi kelompok tempat mereka berada seakan sengaja dibuat samar.
Suatu ketika Reeboir (Bahman Ghobadi) yang merupakan salah satu gerombolan guru, bertemu dengan beberapa remaja yang sedang mengangkut barang-barang selundupan “kami bagal,” (sebutan untuk keturunan dari keledai jantan dan kuda betina) kata mereka. Sembari dengan amat susah payah mereka memanggul beban dari satu bukit ke bukit lainnya.
Perlunya sistem pendidikan yang tidak hanya mengandalkan “papan tulis”
Saat Reeboir menawarkan jasanya sebagai guru dengan bujukan. “Kalian akan bisa baca banyak cerita,” katanya. Anak itu tak tertarik sama sekali. Lalu salah satu dari mereka menyela, “Aku sudah punya banyak cerita.”
Hal ini tentu ironi yang cukup menyakitkan bagi para pengajar, karena sesakti-saktinya papan tulis, ia juga butuh seseorang untuk menatapnya dengan tujuan belajar. Seorang murid yang ingin “membunuh” ketidaktahuan.
Ivan Illich dalam Deschooling Society menilai bahwa pendidikan yang dipraktikkan dalam bentuk ruang kelas (di mana peserta didik hadir menghadapi pendidik) justru berakibat buruk bagi peserta didik dan masyarakat. Dengan begitu menjadi terkotak-kotak. Kurikulum tak ubahnya komoditas. Nilai, sertifikat, dan ijazah kerap berfungsi sebagai alat legitimasi bahwa seseorang berpendidikan.
Maka dari itu, Reeboir lalu menceritakan sebuah pengalaman, bukan dongeng masa kecil. Tanpa imajinasi, tanpa warna, tanpa kehangatan. Ia seperti mengulang laporan; suatu ketika ia bertengkar dengan temannya karena seekor kelinci yang disiksa dan tentang daging yang tak dibagi rata. Tak ada yang dramatis. Tapi mungkin pengalaman yang banal itu satu-satunya pertaliannya dengan masa lalu. Bahwa dulu, ia pernah jadi bocah juga.
Monster yang mencoreng wajah guru di Indonesia
Di Indonesia sendiri, begitu banyaknya kasus belakangan ini yang mencoreng wajah pendidik, seperti kekerasan fisik dan seksual terhadap muridnya sendiri.
Baca juga: Taste of Cherry: Pahitnya Absurditas dan Gangguan Mental
Hal ini tentu membuat masyarakat geleng-geleng kepala. Sosok seorang guru yang harusnya menjadi pendidik dan pengayom dalam seketika dapat berubah jadi “monster” berkepala manusia yang menghancurkan masa depan muridnya.
Berdasarkan data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Jenis kekerasan di sekolah didominasi oleh kekerasan seksual. Hal tersebut jumlahnya mencapai 42 persen yang dilakukan oleh oknum pendidik. Disusul oleh perundungan sebesar 31 persen, kekerasan fisik 10 persen dan juga kekerasan psikis 11 persen, dan kebijakan yang mengandung kekerasan 6 persen.
Jika kejadian tersebut masih terus saja berulang dan parahnya lagi bertambah. Lalu, dimana lagi kah papan tulis-papan tulis ini akan berlabuh?
Penulis: Shankara Araknahs
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.