Milenianews.com, Mata Akademisi– “Sebentar lagi Ramadhan tiba. Satu setengan bulan lagi menuju Ramadhan. Bulan Ramadan sudah di depan mata, tak lama lagi kita akan berjumpa bulan Ramadhan.”
Itulah sebagian dari banyak ungkapan yang sering kita temukan jelang Ramadhan. Beragam kalimat itu baik-baik saja disampaikan. Alih-alih ingin memotivasi umat Islam agar lebih semangat beribadah di bulan Ramadhan akan tetapi nyatanya dari dulu sampai sekarang semarak ibadah hanya tertumpu di bulan Ramadhan saja.
Mayoritas umat Islam keliru dalam memaknai Ramadhan yang berakibat semaraknya ibadah hanya tertumpu di bulan Ramadhan saja.
Ramadhan itu di samping kesempatan untuk mendapatkan pahala yang sebanyak-banyaknya, yang tidak kalah esensialnya Ramadhan juga bulan untuk membiasakan/melatih/mentarbiyah diri untuk terbiasa beramal ibadah secara kontinyu. Sehingga amal ibadahnya berkelanjutan pasca Ramadhan sampai wafat dan pada akhirnya Alllah Subhanahu wata’ala wafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah.
Pertanyaannya, pasca Ramadhan yang lalu:
*) Sudah berapa kali kita khatam Al-Quran ?
Idealnya, kalau kita konsisten atau istiqamah membaca Al-Qur’an satu juz perhari atau sekali khatam perbulan, berarti sampai hari ini sudah 10 kali khatam.
Sungguh teramat naif sekali kalau sampai saat ini jangankan membacanya menyentuhnyapun belum pernah. Lebih naif lagi kalau kita baru tergerak untuk membaca Al-Qur’an lagi di Ramadhan yang akan datang karena usia kita belum tentu sampai di Ramadhan yang akan datang.
*) Apakah puasa yang kita kerjakan selama 30 hari berturut-turut tanpa terputus di Ramadhan yang lalu berlajut pasca Ramadhan dengan mengerjakan puasa-puasa sunnah? Kalau saja kita ternyata mampu berpuasa selama 30 hari berturut-turut tanpa terputus, seharusnya kita juga mampu berpuasa sunnah Syawwal yang hanya 6 hari, apalagi Ayyaamul biidh yang cuma 3 hari dalam sebulan. Pun demikian dengan puasa sunnah Senin-Kamis yang hanya 2 hari dalam sepekan.
*) Apakah sedekah yang kita tunaikan secara sungguh-sungguh dan rutin pagi sore di Ramadhan yang lalu berlanjut sampai sekarang dan seterusnya ?
*) Apakah kebiasaan kita umat Islam seluruh dunia kompak dalam satu waktu menunggu waktu maghrib untuk berbuka puasa dan bangun sebelum subuh untuk makan sahur berlajut pasca Ramadhan?
Harus jujur kita akui bahwa sampai saat ini suasana beribadah umat Islam pasca Ramadhan tidak paralel/berbanding lurus dengan semarak, kesemangatan serta kesungguhan beribadah seperti di bulan Ramadhan.
Dengan demikian semangat beribadah itu tidak harus menunggu bulan Ramadhan. Memangnya yakin umur kita akan sampai di bulan Ramadhan ? Allah Subhanahu wata’ala lebih suka ibadah yang kontinyu (terus-menerus) dikerjakan kapanpun walau sedikit.
Dalam kitab Latho-if Al Ma’arif karya Ibnu Rajab Al Hambali disebutkan bahwa Asy Syibliy pernah ditanya, ”Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban?” Beliau pun menjawab, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Sya’baniyyin.” Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniyyin yang rajin ibadah di setiap bulan, sepanjang tahun seumur hidup dan janganlah semangat beribadah hanya pada bulan Sya’ban saja. Kami juga dapat mengatakan, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin.” Maksudnya, beribadahlah secara kontinyu sepanjang tahun dan jangan hanya beribadah pada bulan Ramadhan saja.
Begitu pula amalan suri tauladan kita nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam adalah amalan yang rutin dan bukan musiman pada waktu atau bulan tertentu. Itulah yang beliau contohkan kepada kita. ’Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah mengenai amalan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, ”Apakah beliau mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk beramal ?” ’Aisyah menjawab,
لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً
”Beliau tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang kontinyu (terus-menerus” HR. Bukhari)
Dalam hadits lainnya Rasulullah Saw bersabda :
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR. Bukhari no. 6465 dan Muslim no. 783).
Allah SWT berfirman :
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
”Dan beribadalah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu al yaqin (selamanya).”
(QS. Al Hijr: 99)
Wallahu a’lam bisshowab.
Penulis: Ustadz Hasan Yazid Al-Palimbangy