Milenianews.com, Serang— Guru Besar UIN Jakarta, Prof. Dr. Hasani Ahmad Said, M.A., yang juga merupakan wali santri Pesantren Bina Insan Mulia 2, menghadiri Workshop Pesantren Rintisan di Banten ke-5 yang diselenggarakan oleh Imam Jazuli Foundation di Aston Hotel Serang, Banten, Sabtu (17/10/2026).
Kegiatan ini menghadirkan KH Imam Jazuli, Lc., M.A., pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, sebagai narasumber utama. Workshop tersebut menjadi ruang silaturahmi, pertukaran pengalaman, dan penguatan wawasan bagi para penggerak pendidikan pesantren, khususnya dalam mengembangkan pesantren rintisan yang berkualitas dan berkelanjutan.
Kehadiran Prof. Hasani Ahmad Said memiliki makna tersendiri. Selain menjalankan peran sebagai akademisi di lingkungan Perguruan Tinggi Islam, ia juga hadir dalam perspektif seorang wali santri yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan, pembentukan karakter, dan masa depan generasi muda melalui pesantren.
Pertemuan antara dunia akademik dan lingkungan pesantren ini mencerminkan pentingnya sinergi berbagai elemen dalam membangun pendidikan Islam. “Pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan akhlak, kedisiplinan, kemandirian, serta tanggung jawab sosial bagi para santri,” kata . Prof. Hasani Ahmad Said.
Dalam konteks pengembangan pesantren rintisan, penguatan visi kelembagaan, kualitas pendidik, tata kelola, dan keberlanjutan pendidikan menjadi sejumlah aspek penting yang patut mendapat perhatian. Semangat mendirikan pesantren perlu disertai perencanaan yang matang agar lembaga yang dibangun mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga tradisi keilmuan Islam.
Kehadiran KH. Imam Jazuli sebagai narasumber utama memberikan kesempatan bagi peserta untuk menyimak perspektif dan pengalaman pengembangan pesantren. Sebagai pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, pandangan dan pengalaman KH. Imam Jazuli menjadi relevan dalam diskusi mengenai tantangan, strategi, dan peluang pengembangan lembaga pendidikan pesantren.
“Bagi pesantren rintisan, tantangan ke depan bukan hanya membangun sarana dan prasarana, melainkan juga memastikan terselenggaranya pendidikan yang bermutu, lingkungan belajar yang aman, serta pembinaan santri yang memadukan kedalaman ilmu keislaman dengan kemampuan menghadapi perkembangan zaman,” ujar KH. Imam Jazuli.

Di sisi lain, keterlibatan akademisi seperti Prof. Hasani Ahmad Said membuka ruang bagi penguatan hubungan antara perguruan tinggi dan pesantren. Kolaborasi tersebut berpotensi dikembangkan melalui pendampingan akademik, peningkatan kapasitas pendidik, pengembangan kurikulum, penelitian pendidikan, dan pertukaran gagasan yang berorientasi pada peningkatan mutu pesantren.
Perspektif wali santri juga menjadi bagian penting dalam ekosistem pendidikan pesantren. Kepercayaan orang tua kepada lembaga pendidikan perlu dijawab melalui komitmen bersama dalam membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Dengan demikian, pendidikan pesantren menjadi tanggung jawab kolektif yang melibatkan pengasuh, pendidik, orang tua, dan lingkungan sosial.
Baca Juga : Prof. Hasani Ahmad Said Berikan Lima Tawaran Besar Tafsir Maqāṣidī untuk PTKI dan Masa Depan Kemanusiaan
Penyelenggaraan Workshop Pesantren Rintisan di Banten ke-5 oleh Imam Jazuli Foundation diharapkan dapat memperkuat jejaring antarpengelola pesantren serta mendorong lahirnya langkah-langkah konkret untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam.
Lebih dari sekadar forum pertemuan, kegiatan semacam ini penting sebagai ruang konsolidasi gagasan dan komitmen untuk memastikan pesantren rintisan tumbuh dengan fondasi keilmuan, karakter, tata kelola yang baik, dan orientasi masa depan yang jelas.
Melalui sinergi ulama, akademisi, pengelola pesantren, dan wali santri, pengembangan pesantren diharapkan tidak hanya memperluas akses pendidikan Islam, tetapi juga melahirkan generasi yang mampu menjaga nilai-nilai keagamaan sekaligus berkontribusi positif dalam kehidupan bangsa.













