Sisi Lain Ibu Kota, Perjalanan Panjang Hasil Laut dan Segarnya Sajian Muara Baru

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Jakarta sering kali identik dengan Monas, Ancol, Taman Bendera Pusaka, serta kawasan Kota Tua. Rasanya banyak dari kita sudah familier dan pernah berkunjung ke tempat-tempat tersebut. Kita juga mafhum bahwa Jakarta selalu lekat dengan gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan megah, kemacetan, dan jalan utama yang tak pernah sepi. Namun, belum banyak yang menyadari bahwa ada kehidupan dengan ritme yang jauh berbeda di pesisir utara ibu kota—sebuah denyut kehidupan kota yang bersentuhan langsung dengan laut.

Pagi itu, saya sudah berada di Pelabuhan Muara Baru. Dari kejauhan, deretan kapal terlihat seperti rumah-rumah kayu yang tersusun rapi. Warna lambungnya beragam; ada yang masih mempertahankan warna asli kayu, ada pula yang dicat dengan corak bervariasi sehingga setiap kapal memiliki identitas tersendiri. Sebagian kapal berukuran cukup besar dengan badan menjulang tinggi. Fasilitas dan perlengkapannya menunjukkan bahwa kapal-kapal tersebut memang dirancang untuk berlayar jauh demi menangkap ikan.

Semakin dekat ke dermaga, deretan kapal ikan yang sedang bersandar terlihat lebih jelas dan tampak kokoh. Ukurannya tidak bisa dibilang kecil; beberapa di antaranya memiliki panjang hingga puluhan meter, anjungan yang tinggi, serta lambung besar yang dirancang untuk membawa muatan dalam jumlah masif. Tiang, tali tambang, dan jaring yang sedang dijemur, diselingi satu-dua helai pakaian awak kapal, menambah kesan bahwa kapal ini bukan sekadar alat angkut, melainkan juga rumah tinggal bagi mereka selama berminggu-minggu mencari ikan.

Baca juga: Menepi ke Pulau Tidung: Menemukan Wajah Lain Jakarta Lewat Jembatan Cinta dan Syahdunya Alam Bawah Laut

Kawasan ini merupakan bagian dari Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman, urat nadi aktivitas perikanan terpenting di Jakarta. Di sinilah kapal-kapal perikanan berukuran sedang hingga besar berlabuh membawa hasil tangkapan. Ikan dan hasil laut lainnya ada yang langsung masuk pabrik untuk diolah, ada pula yang hanya dibekukan dan dikemas ulang sebelum memasuki rantai perdagangan lokal maupun ekspor.

Mengunjungi Muara Baru—melihat ujung dermaga yang berbatasan dengan laut lepas dan deretan kapal kayu bersandar—memberikan kesan yang membekas. Di tengah Jakarta yang identik dengan jalan lebar, kemacetan, dan metropolitan, Muara Baru tetaplah kawasan perkotaan, tetapi dengan napas pesisir. Di kota dagang dan industri ini, nyatanya masih ada nelayan yang berlayar dan pulang membawa harapan beserta hasil tangkapan.

Perjalanan Panjang Sepotong Ikan Sebelum Tiba di Piring Makan

pasar ikan

Di bawah lambung kapal, air laut berayun pelan. Tali tambat dan ban bekas menghubungkan kapal dengan dinding dermaga. Terlihat para pekerja bergerak gesit di salah satu kapal yang sedang melakukan bongkar muat, disusul beberapa mobil pikap yang mengantre menunggu muatan. Sementara itu, di dek kapal lain, para pekerja tampak duduk-duduk membenahi jaring atau sekadar bersantai. Ada juga kapal yang sepi tanpa aktivitas, mungkin awaknya sedang beristirahat setelah lelah menurunkan berton-ton ikan.

Mengamati dinamika di dermaga, momen yang paling menarik memang saat proses bongkar muat berlangsung. Ini adalah pemandangan langka bagi kita yang biasanya hanya melihat ikan rapi terpajang di pasar atau sudah lezat tersaji di atas piring.

Begitu kapal selesai merapat, awak di atas dek dan pekerja darat yang sudah siaga segera beraksi. Ikan-ikan dikeluarkan dari ruang pembeku kapal, dipindahkan ke dalam keranjang-keranjang plastik. Ikan di dalam keranjang tersebut kemudian ditimbang, dicatat, dan langsung dinaikkan ke atas truk mini yang sudah menunggu. Begitu baknya penuh, truk segera melaju meninggalkan pelabuhan menuju lokasi pengepul.

Semua berlangsung bagai aliran air—cepat dan terus-menerus. Pekerja mendedikasikan tenaga mereka dalam sunyi; tidak banyak terdengar percakapan santai atau gelak tawa. Suara yang memecah kesibukan hanyalah teriakan lantang dari petugas timbangan, memastikan agar para pencatat tidak salah menuliskan angka kilogram. Ikan terus berpindah wadah, naik ke atas truk, dan bergerak pergi. Setiap orang seolah sudah hafal di luar kepala apa yang harus mereka kerjakan.

Bagi saya yang hanya seorang pengunjung, ritme kerja ini sungguh memukau. Para pekerja pelabuhan dengan pakaian kerja seadanya bergerak dalam sebuah harmoni yang terasa bagai pertunjukan terencana. Sembari berdiri di titik aman beberapa langkah dari mereka, saya menikmati hiruk-pikuk tersebut.

Lantai area kerja tampak basah. Udara membawa aroma amis ikan dan wangi laut yang kuat, memancing seluruh indra saya untuk ikut bekerja. Hasil laut yang diturunkan pun beragam, bergantian mulai dari tangkapan berukuran kecil hingga besar. Kendaraan pengangkutnya bervariasi, dari truk mini, mobil boks, hingga mobil bak terbuka berukuran kecil, tergantung ke mana boga bahari ini akan didistribusikan.

Momen ini menyadarkan saya bahwa ada perjalanan yang sangat panjang dari bahan makanan seafood sebelum tersaji rapi di meja makan. Ada peluh nelayan, awak kapal, pekerja pelabuhan, pedagang, distributor, hingga keahlian juru masak yang terlibat. Bisa jadi, ikan itu ditangkap di perairan Ambon oleh nelayan kecil, lalu dipindahkan ke kapal penampung raksasa, berlayar membelah lautan menuju Muara Baru, sebelum akhirnya masuk ke dapur restoran atau dijajakan di pasar tradisional. Di dermaga ini saya menyaksikan ikan-ikan itu tiba, dan di pasarlah saya akan melihat mereka menemukan pembelinya.

Belanja Segar di Pasar Modern, Langsung Dimasak dan Dinikmati

pasar ikan muara modern

Beralih dari dermaga, saya menuju Pasar Ikan Modern (PIM) Muara Baru yang masih berada di kawasan PPS Nizam Zachman. Diklaim sebagai pasar ikan terbesar di Indonesia, posisinya tepat berada di samping gerbang masuk pelabuhan. Area perdagangan ini dirancang dengan konsep yang lebih modern dan higienis, jauh lebih bersih dibandingkan pasar ikan tradisional pada umumnya.

Meski berlabel modern, denyut nadi pasar tradisionalnya tetap terasa kental. Terdapat ratusan pedagang di area berlantai dasar yang luasnya mencapai sekitar 10.000 meter persegi. Tata letaknya dibangun tanpa dinding penyekat antar-kios, sehingga pandangan terasa sangat luas dan lega. Para pedagang sibuk mengatur barang dagangannya yang sudah dikelompokkan berdasarkan jenis dan ukuran ke dalam berbagai wadah—mulai dari coolbox, baskom, hingga drum. Saya melangkah menyusuri lantai semen yang basah akibat es dan air ikan, tetapi permukaannya bersih dan sama sekali tidak becek.

Ini adalah pengalaman belanja yang sangat menyenangkan. Jika di pasar tradisional biasa jumlah penjualnya mungkin hanya sekitar 20–30 lapak, di sini terdapat sekitar 500 lapak dagangan. Variasi boga bahari yang ditawarkan pun luar biasa lengkap: ikan, udang, cumi, kepiting, kerang, hingga lobster. Semuanya tersedia dalam bermacam spesies dan ukuran. Anda bisa menemukan ikan teri basah berukuran mungil, hingga ikan raksasa dengan bobot di atas 60 kilogram. Salah satu ikan besar yang banyak terlihat adalah ikan semar yang bentuk tubuhnya membulat.

Sesuai dengan saran seorang teman yang sudah familier dengan Muara Baru, saya membeli ikan, udang, cumi, kepiting, dan kerang. Porsinya tidak berlebihan, tetapi sangat cukup untuk mengenyangkan delapan orang. Setelah selesai memilih dan membayar, belanjaan mentah tersebut langsung saya bawa naik ke lantai dua.

Begitu sampai di ujung tangga, deretan restoran dan sapaan ramah dari para pramusaji langsung menyambut, menawarkan jasa untuk memasak hasil belanjaan kita. Lantai dua ini merupakan sentra kuliner seafood Muara Baru. Terdapat sekitar sepuluh rumah makan dengan kapasitas tempat duduk total yang mampu menampung hingga 500 pengunjung.

Uniknya, restoran seafood di Muara Baru tidak menyediakan stok ikan yang sudah siap dimasak. Mereka memposisikan diri sebagai dapur hidup yang menerima seafood mentah hasil belanjaan pengunjung untuk kemudian diolah sedemikian rupa.

Baca juga: Sedapnya Kuliner Pesisir Kepulauan Kei dan Kelezatan Olahan Enbal di Kota Tual

Semua pilihan bumbu nusantara tersedia di sini. Anda bisa memesan racikan ala Jimbaran Bali, bumbu pesisir Makassar, gaya Palembang, bumbu Melayu, hingga bumbu Padang. Metode memasaknya pun bebas dipilih: dibakar, digoreng, direbus, atau di-tim (steam). Mau dilumuri saus tiram, saus telur asin, atau asam manis? Semua bisa disajikan, lengkap dengan paket sambal khas racikan masing-masing restoran.

Ikan segar yang kita bawa akan dibersihkan, lalu diolah oleh tangan-tangan terampil. Para koki di sini memang bekerja cekatan, tetapi karena mereka memasak bahan mentah secara mendadak (made to order), kita perlu bersabar menyediakan waktu setidaknya satu jam hingga hidangan siap bersantap.

Waktu tunggu tersebut rasanya tidak akan terasa lama, apalagi jika kita menjadikan momen ini sebagai bagian dari perjalanan rekreasi keluarga sembari mengobrol santai menanti hidangan seafood paling segar di Jakarta. Bagi Anda yang belum pernah mencobanya, ayo luangkan waktu dan berkunjunglah ke Muara Baru!

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *