News  

Prof. Rokhmin Dahuri:  Ekonomi Biru sebagai Penggerak Utama Kemajuan dan Kesejahteraan Bangsa

Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S. (Foto: Istimewa)

Milenianews.com, Jakarta– Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., Anggota Komisi IV DPR RI, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Menteri Kelautan dan Perikanan RI (2001–2004), serta Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), menegaskan bahwa Ekonomi Biru (Blue Economy) harus menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional yang produktif, inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.

Hal tersebut disampaikan dalam program STARTING POINT TVRI World bertajuk “A Lifetime of Dedication: Advancing Indonesia’s Blue Economy”, Rabu (14/10/2026), yang dipandu oleh Audrey Utoyo dan Aisya Fabien. Dialog ini mengulas perjalanan panjang pengabdian Prof. Rokhmin dalam pembangunan sektor kelautan dan perikanan, sekaligus penerimaan penghargaan internasional Aquaculture Lifetime Achievement Award pada The 13th International Conference on Fisheries and Aquaculture (ICFA 2026) di Miri, Sarawak, Malaysia, pada 30 September 2026.

Mengawali perbincangan, Prof. Rokhmin menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT serta penghormatan mendalam kepada kedua orang tuanya, seorang nelayan dan pedagang ikan di Cirebon, yang telah menanamkan nilai kerja keras, kejujuran, disiplin, dan integritas. Baginya, penghargaan tersebut bukan semata-mata pencapaian pribadi, melainkan buah dari pengabdian dan kolaborasi panjang bersama pemerintah, akademisi, peneliti, pelaku usaha, serta masyarakat kelautan dan perikanan. Baik di dalam nasional maupun dengan komunitas internasional.

Dalam dialog tersebut, Prof. Rokhmin mengungkapkan bahwa berdasarkan kajian IPB University, potensi ekonomi kelautan Indonesia mencapai sekitar USD 1,4 triliun per tahun, dengan potensi penciptaan hingga 45 juta lapangan kerja. “Potensi yang sangat besar ini seharusnya mampu menjadi kekuatan strategis untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, memperkuat kemandirian ekonomi nasional, dan membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap),” kata Prof. Rokhmin Dahuri.

Namun, kekayaan sumber daya kelautan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. “Keterbatasan infrastruktur, rendahnya akses pembiayaan, lemahnya hilirisasi industri, serta belum memadainya dukungan kebijakan dan anggaran menjadi tantangan mendasar yang harus segera diatasi melalui transformasi pembangunan kelautan yang komprehensif, terintegrasi, berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, serta berorientasi pada kesejahteraan rakyat,” ujarnya.

Baca Juga : Aquaculture Lifetime Achievement Award untuk Prof. Rokhmin Dahuri: Penghargaan atas Puluhan Tahun Pengabdian untuk Kemajuan Akuakultur, Perikanan dan Kelautan Dunia

Prof. Rokhmin juga menekankan pentingnya pengembangan 11 sektor Ekonomi Biru, mulai dari perikanan tangkap dan budidaya, industri pengolahan hasil perikanan, bioteknologi kelautan, pariwisata bahari, transportasi laut, hingga energi terbarukan dan industri maritim. “Seluruh sektor tersebut harus dikembangkan secara sinergis untuk menghasilkan nilai tambah ekonomi, memperluas kesempatan kerja, dan menjaga kelestarian ekosistem laut,” tegasnya.

Belajar dari kemajuan industri kelautan Tiongkok, Prof. Rokhmin mendorong penerapan Ekonomi Sirkular Ccircular Economy), hilirisasi berbasis inovasi, dan teknologi ramah lingkungan. Komoditas seperti rumput laut, tiram, dan mikroalga tidak boleh hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi harus dikembangkan menjadi produk bernilai tambah tinggi, termasuk pangan fungsional, farmasi, kosmetik, biomaterial, pupuk hayati, dan bioenergi.

Lebih jauh, Prof. Rokhmin menegaskan bahwa kemajuan Ekonomi Biru tidak cukup diukur dari besarnya kontribusi terhadap PDB, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan lapangan kerja berkualitas, meningkatkan kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir, memperkuat kedaulatan bangsa, serta menjamin keberlanjutan sumber daya laut bagi generasi mendatang.

Bagi Prof. Rokhmin Dahuri, penghargaan internasional yang diterimanya, yakni Aquaculture Lifetime Achievement Award, menjadi momentum untuk memperkuat komitmen dan kolaborasi dalam mentransformasikan Indonesia dari negara yang kaya sumber daya kelautan menjadi negara maritim yang maju, adil, makmur, berdaulat, dan berkelanjutan.

Dari Laut untuk Kesejahteraan Rakyat, dari Indonesia untuk Kemajuan Peradaban Dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *