Cerpen Anak karya Sabina Aurora Sulaiman
Milenianews.com– Di suat pagi yang cerah di sekolah, ada anak yang bernama Lili. Dia memiliki kakak bernama Lala.
Saat di sekolah jam istirahat, temannya yang bernama Kina mengaajak Lili bermain di taman. Mereka sudah berjanji bahwa mereka akan main di taman.
Seusai pulang sekolah, Lili langsung ganti baju, makan dan shalat Zhuhur. Setelah shalat, dia beristirahat di tempat tidur.
Saat dia beristirahat, tiba-tiba bundanya mengajak Lili bersama kakaknya untuk pergi ke rumah saudara. Lili pun ikut ke rumah saudara.
“Yey, asyik, kita ke rumah saudara. Aku kangen sama saudara-saudara aku,” kata Lili.
Akhirnya mereka pergi dengan gembira.
Sesampainya di sana, Lili langsung lari untuk menemui tante dan saudara-saudaranya.
“Wah, kamu sudah sampai. Kami sudah lama menunggu dari tadi,” kata tantenya.
Merekapun saling peluk hangat karena sudah lama tidak bertemu.
Pas banget, Lili dan keluarganya pergi ke rumah saudaranya pas Tahun Baru.
Saat malam tiba. Saudaranya mengajak Lili untuk bakar-bakar dan bermain kembang api. Akhirnya mereka bakar-bakar daging sisa Idul Adha. Sekalian mereka bakar-bakar jagung.
Saudaranya, Tessa dan Kila, mengajak Lili dan kakaknya, Lala, untuk bermain kembang api. Mereka saling lomba siapa yang apinya mati duluan, maka dia kalah.
Merekapun menyalakan lilin untuk menyalakan kembang api. Setelah 10 menit berturut-turut belum ada yang mati.
Saat 3 menit berlalu, kembang api punya saudara Lili, yakni Tessa, apinya padam.
Lima menit berlalu, akhirnya pemenangnya adalah Lili. Dia gembira. Sedangkan kakak dan saudaranya, yakni Tessa dan Kila, tampak bersedih.
“Yey, aku menang,” kata Lili.
“Yaaah, aku kalah,” kata saudaranya dan kakaknya.
Setelah itu mereka makan semangka.
“Sudah larut nih. Sebaiknya kalian tidur. Pasti kalian cape,” kata tantenya.
Lilipun tidur di kamar Kila. Dia tidur bersama Kila. Sedangkan kakaknya, Lala, tidur di kamar Tessa. Merekapun tidur lelap.
Malampun berganti menjadi pagi yang cerah. Lilipun terbangun karena cahaya sinar matahari.
Dia bersama saaudara dan kakaknya sarapan, mandi dan shalat Dhuha. Mereka sudah shalat Shubuh tadi pagi, makanya mereka sekarang shalat Dhuha.
Saat siang, orang tua Lili mengajak Lili dan kakaknya, Lala, pulang. Lilipun merengek, tidak mau pulang karena masih ingin main. Akhirnya Lilipun tetap pulang, karena besok ingin sekolah.
Akhirnya Lili dan kakaknya, Lala, berpamitan ke tante, om, Tessa dan Kila. Setelah berpamitan, merekapun masuk ke mobil untuk pulang.
Lili mengucapkan “Dadah” kepada om, tante dan saudaranya, Tessa dan Kila, dengan penuh rasa sedih.
Setelah 2 jam perjalanan dengan mobil, mereka sampai di rumah. Lili langsung ke kamar untuk beristirahat.
“Hmmm, besok aku sekolah. Aku akan ceritakan bahwa aku ke rumah saudara kepada Kina,” katanya.
“Astaghfirullah, aku baru ingat, kemarin ‘kan aku mau main ke taman bersama Kina. Mana aku sudah janji lagi. Gimana ya? Akh, sudahlah. Dia ‘kan gak mungkin marah. Dia ‘kan sahabatku,” ujarnya.
Tapi ternyata yang dia kira itu salah. Saat di sekolah dia mengajak Kina untuk makan bareng, tapi Kina malah menolaknya.
“Kamu makan aja sendiri. Aku lagi maunya sendiri,” kata Kina.
Lili kaget, Kina bilang seperti itu kepada sahabatnya sendiri.
Pas dia sedang makan, tiba-tiba temannya yang bernama Kira bertanya kepadanya, “Lili, bukannya kamu sudah janji untuk main ke taman bersama Kina?”
Lili menjawab, “Iya. Kok kamu bisa tahu?” kata Lili.
Kirapun menjawab, “Kemarin aku ketemu dengan Kina. Dia bilang kepadaku kalau dia berjanji bermain denganmu di taman. Tapi dia sudah tunggu 2 jam kamu tidak dating-dateng. Diapun kesal kepadamu sambil dia pulang ke rumah. Itulah mengapa dia tidak mau makan bareng, karena dia lagi kesal denganmu, karena dia sudah tunggu lama di taman.”
Lilipun mendengarkan cerita dari Kira. Dia jadi merasa bersalah.
Saat pulang sekolah, di rumah dia berencana membelikan tas yang Kina inginkan untuk diberikan kepada Kina sebagai permintaan maaf, karena janji tidak dia tepati.
Iapun membeli tas itu di mall sekalian menulis surat permintaan maaf.
Besoknya di sekolah, dia ngomong kepada Kira.
“Kira, Kira,” panggil Lili.
“Iiya, kenapa, Li?” sahut Kira.
Lilipun memberitahu rencana dia untuk minta maaf ke Kina.
“Aku cerita ke kamu karena ingin ditemani kamu. Apakah kamu bisa telpon Kina untuk mengajaknya ke taman? Aku ingin minta maaf di sana,” kta Lili.
Kirapun menjawab, “Bisa kok. Kebetulan aku juga mau ke taman.”
Lilipun berterima kasih, karena Kira sudah mau menemaninya ke taman untuk meminta maaf ke Kina.
Saat pulang sekolah, Lili langsung ganti baju dan izin kepada bundanya bahwa dia ingin main ke taman sekalian minta maaf ke Kina. Bundanyapun mengizinkannya.
Saat di taman, ternyata sudah ada Kira dan Kina. Kinapun menaatap Lili dengan kesal.
“Lili mau minta maaf sama kamu. Dia sudah membelikan tas keinginanmu. Apa kamu mau memaafkan Lili?” kata Kira ke Kina.
“Hemm, ya sudah, aku maafkan. ‘Kan sesama muslim, kita kalau marahan tidak boleh lebih dari 3 hari,” jawab Kina.
Lilipun senang, karena Kira mau memaafkan dia.
Kinapun menjadi sahabat Lili yang makin dekat. Demikian juga Kira, diapun menjadi sahabat baik Lili.
Kemudian, Lilipun menceritakan pas dia lagi ke rumah saudaranya. (Tamat)
Profil Penulis
Penulis cilik, Sabina Aurora Sulaiman, dilahirkan di Tangerang Selatan, 05 Juli 201. Saat ini ia duduk di kelas 4 SD, Sekolah Tahfidz Ash Shiddiqiyyah, Koyta Tangerang Selatan. Sabina mulai suka menulis cerita mulai umur 8 tahun berbentuk komik dan menulis cerpen mulai umur 9 tahun. Cita-cita Sabina ingin menjadi penulis yang hafidz qur’an agar bisa keliling dunia dengan menulis.













