Puncak PTLP KB-TK Bosowa Bina Insani, Inilah Ciri Anak Hebat

KB-TK Bosowa Bina Insani, Bogor, menggelar puncak  acara Parents Teachers Learning Program (PTLP) secara  online, Jumat,  25 September 2026, dengan narasumber Dedi Supriyadi S.Ag., M.Pd. (Foto: Dok KB-TK Bosowa Bina Insani)

Milenianews.com, Bogor— KB-TK Bosowa Bina Insani, Bogor, menggelar acara Parents Teachers Learning Program (PTLP) untuk menyelaraskan program pendidikan yang diberikan oleh sekolah dengan pendidikan yang ada di rumah/orang tua.

Kegiatan PTLP itu diadakan 4 hari offline, 21-24 September 2026. Acara puncak PTLP dilaksanakan secara  online, Jumat,  25 September 2026, dengan narasumber Dedi Supriyadi S.Ag., M.Pd. Ia membawakan materi berjudul  “Menumbuhkan Akhlak Islami Sejak Dini: Karena Anak Hebat Bukan Sekadar Pintar”.

Dedi Supriyadi menegaskan pentingnya sinergi sekolah dan orang tua dalam melahirkan Generasi Emas.  “Anak Hebat adalah anak yang mau bangun pagi, rajin ibadah, suka gerak, makan sehat dan bergizi, senang belajar, suka menolong, dan tidur tepat waktu. Dilakukan tidap hari dengan sadar, bermakna, dan gembira,” kata Dedi Supriyadi.

Ia menambahkan,  anak yang berkarakter tidak hanya lahir dari nasihat yang baik, tetapi dari lingkungan yang baik, keteladanan yang konsisten, dan kasih sayang yang tulus:

  • Allah SWT menjadi tujuan.
  • Rumah menguatkan.
  • Sekolah mengembangkan.
  • Masyarakat memberi teladan.

Sebelumnya, di awal materinya, Dedi Supriyadi memaparkan bahwa tanggung jawab pertama  pendidikan berada di tangan orang tua. Ia mengutip ayat A-Qur’an dan Hadits Rasululullah SAW.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (Q.S. At Tahrim (66) Ayat 6)

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S. An Nisaa (4) Ayat 9)

Ia juga menjelaskan posisi anak dalam pandangan Islam:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”   (Q.S. Ar Ruum (30) Ayat 30)

“dari [Abu Hurairah] dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang bayi yang dilahirkan melainkan dalam keadaan fitrah, maka bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani atau Musyrik.”   (H.R. Muslim)

Dedi juga menegaskan pentingnya pendidikan akhlak sejak dini. “Pendidikan akhlak sejak dini sangat penting, karena akhlak adalah sifat atau tingkah laku yang melekat dalam jiwa seseorang dan terwujud secara spontan dalam perbuatan sehari hari tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan yang panjang. Dan Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Urgensi pendidikan akhlak sejak dini tidak dapat dilepaskan dari ciri Golden Age (0-7 tahun). Yakni: Otaknya seperti spons – menyerap super cepat, masa meniru (imitator), rasa ingin tahunya tinggi, belum paham benar-salah, pahamnya enak-tidak enak, serta butuk kasih sayang dan rasa aman.

Baca Juga : KB-TK Bosowa Bina Insani Gelar Puncak Tema Makanan dan Minuman, Kupas Peran Protein Dalam Menjaga Kesehatan Kulit

Dedi menjelaskan ada enam  6 Metode Pendidikan Akhlak di Usia Dini. Yakni:

  1. Qudwah : Memberi keteladanan.
  2. Qishshoh : Bercerita.
  3. Ta’wid : Pembiasaaan dan rutinitas.
  4. Lagu, Gerak dan bermain.
  5. Targhib : Memberi pujian.
  6. Doa dan pelukan.

Dedi menegaskan pentingnya sinergi orang tua  (ayah dan  ibu).  Yaitu,

  1. Satu visi dalam mendidik.
  2. Konsisten dalam aturan.
  3. Hadir secara emosional bagi anak.
  4. Menjadi teladan dalam ibadah dan akhlak.
  5. Saling menguatkan, bukan saling menyalahkan.

Kemudian  ia memaparkan urgensi sinergi rumah dan sekolah sebagai berikut:

  1. Nilai yang diajarkan harus konsisten.
  2. Komunikasi orang tua–guru perlu dibangun.
  3. Masalah anak diselesaikan dengan kolaborasi.
  4. Hindari pola “menyerahkan pendidikan” hanya kepada sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *