Milenianews.com, Bogor– KB-TK Bosowa Bina Insani, Bogor, menggelar acara Parents Teachers Learning Program (PTLP). Kegiatan PTLP tersebut bertujuan untuk menyelaraskan program pendidikan yang diberikan oleh KB-TK Bina Insani dengan pendidikan yang ada di rumah/orang tua.
Kegiatan PTLP itu diadakan 4 hari offline dan 1 hari online, tanggal 21-25 September 2026. PTLP yang mengusung tema “Menjadi Orang Tua Hebat, Tumbuh Bersama Anak” tersebut diikuti oleh para orangtua KB-TK Bina Insani
Kegiatan PTLP hari kedua, Selasa (22/9/2026) membahas topik Curricular Domain dan Tahap Perkembangan Anak dengan nara sumber PIC (Penanggung Jawab) Kurikulum Bosowa School Tjutju Herawati M.Pd.
Ia mengawali materinya dengan membahas Curricular Domain. “Curricular Domain mencakup: perkembangan aestetik, perkembangan afeksi, perkembangan kognisi, perkembangan bahasa, perkembangan fisik, dan perkembangan sosial,” kata Tjutju Herawati, mengutip Michigan University, Teaching Young Children Using Themes.
Baca Juga : KB-TK Bosowa Bina Insani Gelar PTLP, Ajak Orang Tua Pahami 9 Profil Pelajar Bosowa Bina Insani
Ia menjelaskan, fokus perkembangan aestetik adalah: Enjoyment/mendapatkan kesenangan dari sesuatu, Stimulation/stimulasi, Insight/kecakapan untuk memahami , dan Satisfaction/kepuasaan
”Tujuan utamanya adalah supaya anak dapat mengintegrasikan antara perasaan, pikiran dan tindakan di dalam seni, musik dan pengalaman-pengalaman sensorik untuk mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, pada akhirnya menjadi kepribadian yang mempunyai arti,” kata Hera, panggilan akrab Tjutju Herawati.
Sedangkan fokus perkembangan afeksi adalah: Trust/Rasa percaya , Autonomy/kemandirian, Initiatif/arahan diri, Industri (kerja keras, tekun dan rajin dalam pekerjaan), Self-concept/Konsep-diri dan kontrol diri (Self-esteem).
”Tujuan utamanya adalah supaya anak merasakan mereka di sayang, mempunyai arti/ makna dan pribadi yang mempunyai kemampuan,” ujarnya.

Sementara itu fokus perkembangan kognisi adalah: Persepsi, Physical knowledge, Logical-mathematical knowledge, Representational knowledge, Critical thinking skills, dan Conventional social knowledge.
”Adapun tujuan utamanya adalah supaya anak dapat menghubungkan antara pengetahuan dan pengalaman pada saat mereka membangun konsep-konsep baru maupun yang lebih luas,” tuturnya.
Sedangkan fokus perkembangan Bahasa adalah: Ketrampilan mendengar, Receptive language/ bahasa yang dapat dipahami, Expressive language/ bahasa yang diucapkan atau yang ditampilkan, serta Menulis dan Membaca
”Tujuan utamanya adalah agar anak dapat menginterpretasikan secara tepat saat komunikasi dengan yang lain juga saat mereka berkomunikasi secara efektif terhadap diri sendiri,” kata Hera.
Baca Juga : KB-TK Bosowa Bina Insani Gelar PTLP
Hera menjelaskan, fokus perkembangan fisik adalah: Kesadaran pada tubuh, erkembangan motorik kasar, perkembangan motorik halus, dan kesehatan fisik
”Tujuan utamanya adalah untuk anak dapat menguasai lingkungan melalui peningkatan dari kontrol tubuh dan pengembangan sikap, pengetahuan, ketrampilan dan perilaku-perilaku yang berhubungan dalam memelihara, menghormati dan melindungi tubuh mereka,” ujarnya.
Adapun fokus perkembangan sosial adalah keterampilan-keterampilan sosial dan sosialisasI.
”Tujuan utamanya adalah supaya anak dapat mengembangkan pola-pola dari interaksi sosial secara sukses juga nilai-nilai dari sosial dan kontrol dalam diri,” kata Hera.
Hera menegaskan, “Perlu kerja sama yang harmonis antara Rumah, sekolah dan lingkungan untuk membangun generasi emas Indonesia yang Smart, Islamic, Discipline, Innovative, Competitive.”

Sinergi Orang Tua dan Sekolah
Dalam kesempatan tersebut, secara khusus Hera juga membahas pentingnya membangun sinergi orang tua dan sekolah untuk mendukung tumbuh kembang anak usia 3-6 tahun. “Usia 3-6 tahun adalah priode tahap perkembangan yang paling cepat dari kehidupan anak,” kata Hera.
Ia menerangkan, sejak awal kelahirannya bayi mampu membuat hubungan dengan orang dewasa, membangun kepercayaan dan mengeksplorasi dunia sekitarnya dengan: nutrisi yang seimbang, lingkungan yang sesuai, dan perawatan orang dewasa yang responsive.
“Anak pada usia enam sampai tujuh tahun mulai percaya pada proses berpikir dia sendiri dari pada menerima informasi dari lima indranya. Piaget menyebut hal itu timbulnya berpikir operasional,” kata Tjutju Herawati.













