Nostalgia Kota Malang Dari Anggunnya Masjid Agung Hingga Kehangatan Kajoetangan

kajoetangan

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Kajoetangan di Kota Malang merupakan cerita sukses mengenai pengubahan kawasan pemukiman perkampungan tradisional menjadi kawasan wisata yang ramai pengunjung. Area Kajoetangan telah dikembangkan dan ditata ulang, sehingga dapat dikatakan sebagai lokasi yang mempresentasikan perjalanan sejarah kolonial di Kota Malang. Di Kajoetangan, kita bisa melihat identitas kota—sebuah kawasan yang mengajak pengunjung menelusuri jalan dan lorong dengan berbagai bangunan bersejarah, kampung-kampung tua, serta catatan kota yang telah berkembang lebih dari satu abad.

Selamat datang di Malang, kota sejuk yang menyimpan banyak cerita budaya, tempat kulineran, dan jejak sejarah dari zaman Singasari sampai era kolonial. Kota ini berkembang pesat pada masa kolonial sebagai tempat favorit untuk peristirahatan dan pemukiman orang-orang Belanda di Jawa Timur. Karenanya, Kota Malang merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Timur.

Kota Malang menyajikan perpaduan antara kekayaan sejarah, keragaman budaya, kuliner yang unik, serta keindahan alam yang mempesona. Di Malang kita bisa berkeliling pada pagi ataupun sore hari saat udara masih segar untuk menikmati bangunan bersejarah dan kawasan heritage yang masih terawat. Perjalanan kemudian dapat dilanjutkan dengan mengunjungi museum, melihat kampung tematik, serta pusat-pusat kuliner dengan keunikan yang berbeda.

Baca juga: Pesona Kendari Dari Eksotisme Hutan Bakau Hingga Kelezatan Sinonggi

Masjid Agung Jawa-Arab dan Kampung Kajoetangan

masjid kajoetangan

Saya ingin ke Kajoetangan, tetapi perlu mampir ke Alun-Alun Malang dan Masjid Agung terlebih dahulu. Dua lokasi ini tak jauh dari Kajoetangan, hanya sekitar 500 meter, dan sangat perlu dijadikan tujuan kalau ke Malang. Masjid Agung Jami’ Malang adalah nama resminya, salah satu ikon Kota Malang. Lokasinya strategis di pusat kota, bersebelahan dengan alun-alun. Masjid ini didirikan pada tahun 1890 dan diperluas pada tahun 1903. Hingga kini, bangunan utama masjid masih mempertahankan arsitektur asli bergaya gabungan Jawa dan Arab.

Berdirilah di depan masjid, lebih baik di seberang jalan di area alun-alun. Ciri arsitektur Arab dan Timur Tengah bisa dilihat dari keberadaan kubah serta menara—dua penanda visual arsitektur masjid yang umum di Indonesia. Kubah ini merupakan bangunan tambahan saat masjid diperluas, bukan dibangun sejak pertama kali berdiri. Menaranya menjadi tempat meletakkan pengeras suara dengan bentuk yang sangat khas Timur Tengah. Ragam kaligrafi Arab turut memperkuat desain interior bergaya Arab.

Sementara itu, ciri Jawa terlihat dari penggunaan atap tajug bertingkat pada bangunan utamanya yang menjadi ciri khas masjid tradisional Jawa. Di dalam masjid terdapat soko atau tiang utama yang berfungsi menopang struktur atap, sebuah ciri khas bangunan Jawa yang biasa dijumpai pada rumah-rumah besar dan masjid-masjid kuno Jawa.

Tidak ada kerepotan sama sekali menuju kawasan Kajoetangan Heritage karena letaknya persis di jantung Kota Malang. Jika Anda sedang di Alun-Alun Malang, tinggal melangkah sepelemparan mangkuk cwie mie. Jika sedang di Balai Kota, tinggal melangkah sedikit dan sebelum lelah sudah sampai. Lokasinya memang strategis, yang dahulunya merupakan pusat kegiatan bisnis, perdagangan, dan tempat berkumpulnya masyarakat.

Gerbang kawasan tertata baik dengan atap tradisional Malang berlapis genting. Pada papan merek yang apik tertulis “Kampung Heritage Kajoetangan”. Sedikit ke bawah, tersaji papan lebih kecil bertuliskan “Jalan Basuki Rahmat Gang 4”. Memang betul, kita masuk lebih ke dalam melalui lorong ini. Di bawah gerbang tampak becak motor terparkir tanpa pengemudi, mungkin milik penghuni lorong yang sedang beristirahat.

Agak masuk ke dalam lorong, terdapat bangunan semi-permanen yang tertata rapi dengan tulisan “Warung Mak Ipah” di dindingnya. Di sebelahnya berdiri warung-warung lain yang hampir semuanya berjualan makanan. Mereka semua adalah penduduk setempat yang dari dulu memang berjualan di bangunan semi-permanen tersebut. Bedanya, sekarang warung-warung telah ditata ulang, dibuat apik, dicat menarik, serta dilengkapi tulisan menu dan merek yang tampak indah tanpa spanduk yang berantakan.

Ruang yang Tertata dan Kuliner Penopang Ekonomi Warga

yowis kape

Saya melangkah lebih ke dalam. Di deretan warung kecil semi-permanen, tertulis “Kedai Mak Sri” pada papan merek kecil berdesain bagus. Ada penjaga yang mungkin juga pemiliknya berpakaian santai dengan celana pendek. Saya melihat warung ini tidak berjualan makanan siap saji, melainkan warung camilan tradisional. Makanan dibungkus plastik bening, bukan camilan ala Chiki. Ada keripik tempe, keripik singkong, rengginang, serta aneka pia di dalam stoples. Pengunjung belum banyak karena saya berkunjung pada jam kerja dan bukan hari libur.

Saya terus berjalan. Tidak semua rumah menjadi tempat berjualan, sebagian masih berfungsi sebagai rumah tinggal biasa. Bedanya, bangunan sudah ditata dan dicat ulang sehingga enak dilihat dan menyatu dengan lingkungan sekitar. Ada rumah yang masih mempertahankan ciri khas arsitektur kolonial seperti jendela besar, pintu tinggi, dinding tebal, dan atap menjulang—tipe bangunan yang dirancang agar nyaman dengan iklim tropis. Di sebelahnya ada rumah kampung yang terawat walau telah dihuni oleh beberapa generasi.

Memang ketika revitalisasi dilakukan, tujuan utama menata kawasan ini bukanlah untuk mengubahnya, melainkan memperbaiki kawasan dengan tetap menjaga nilai sejarah dan membiarkannya tetap hidup seperti sebelumnya. Penataan berlangsung harmonis, karenanya saya masih melihat rumah-rumah yang dihuni warga, usaha kecil milik masyarakat, serta berbagai sudut yang mempertahankan kisah-kisah masa lalu.

Agar keliling kampung terasa lebih afdal, saya mampir ke satu rumah unik yang dijadikan restoran, di mana tempat makannya berada di ruang tamu dan teras rumah. Merek kecil terpasang bertuliskan “Yowis Kape”. Restoran unik ini dapat menampung sekitar dua keluarga ditambah tiga pasangan yang sedang mabuk cinta, dengan kapasitas sekitar 20 kursi. Ada kursi tamu kuno apa adanya, satu set meja makan, hingga kursi sudut yang ditaruh di bawah jendela kamar—pokoknya unik.

Baca juga: Rahasia Kelezatan Sala Lauak Otentik dan Sensasi Kereta Api Pesisir Pariaman

Saya sendirian dan memilih duduk di kursi teras. Kalau Anda ingat sofa tahun 1960-an, nah saya duduk di kursi seperti itu. Kafe Yowis ini memiliki konsep interior “sak karepe dewe”, kesannya semua barang dimasukkan dan ditumpuk di seluruh area restoran. Di depan sebelah kiri di tepi lorong, ada mesin serut es kuno yang dicat warna tembaga, mesin tik Royal, televisi hitam-putih yang pastinya sudah tidak menyala lagi, serta sarang burung di langit-langit. Drum minyak tanah, kaleng kerupuk, sepeda roda tiga, hingga segala macam lampu teplok ditempel di dinding. Tampak berantakan tetapi tertata apik dan bersih tanpa debu, terasa sebagai ruang makan restoran dan bukan gudang barang tak terpakai.

Pemiliknya memang orang yang mengerti seni. Daftar menunya juga menarik, menggunakan papan tulis sekolah dasar tahun 1960-an sebagai papan menu sehingga terlihat jelas dan mudah dipesan. Jenis menunya standar kafe kelas mahasiswa: ada Indomie telur, lumpia, tahu telur, aneka kopi, wedang jahe, hingga es lemon tea. Saya memesan mi goreng jawa dan kopi susu drip ala Vietnam.

Makanan dan minuman yang dihidangkan membuat saya kagum. Rasanya enak dengan penyajian dan tampilan yang berkelas. Saya percaya koki atau pemiliknya memang orang yang mengerti cara memasak dan paham konsep restoran untuk wisatawan. Sangat cocok ia membuka restoran di kawasan Kajoetangan ini.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *