Milenianews.com, Bekasi – Bagi Alpiah, nama yang mungkin tidak langsung dikenal banyak orang, tetapi akrab disapa Mpok Piul, mangrove bukan sekadar tanaman yang tumbuh di antara lumpur dan air asin.
Di balik akar-akar mangrove yang menahan abrasi, ia melihat sesuatu yang lebih besar: peluang bagi perempuan pesisir untuk berkarya, meningkatkan ekonomi, sekaligus menjaga lingkungan.
Dari pemikiran tersebut, Mpok Piul mengembangkan UMKM Kebaya atau Kelompok Bahagia dan Berkarya di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi.
Melalui kelompok tersebut, ibu-ibu pesisir diajak memanfaatkan potensi yang ada di sekitar mereka, termasuk mengolah mangrove menjadi produk bernilai ekonomi.
Bukan hanya itu, Alpiah juga mengembangkan Mang Oge atau Mangrove Olahan Muaragembong sebagai bagian dari upaya memberikan nilai tambah terhadap potensi mangrove.
Ketika Mangrove Menjadi Jalan Pemberdayaan
Bagi Mpok Piul, mendirikan UMKM Kebaya bukan semata-mata tentang menghasilkan produk.
Ada tujuan yang lebih dekat dengan kehidupan perempuan pesisir, yakni memberikan kesempatan kepada mereka untuk terlibat dalam kegiatan produktif dan meningkatkan perekonomian keluarga.
“Tujuan saya mendirikan UMKM Kebaya ini yaitu pemberdayaan atau memberdayakan ibu-ibu pesisir untuk meningkatkan ekonominya. Kemudian juga menambah sumber daya manusianya dan menggali potensi yang ada di Desa Pantai Bahagia,” ujar Alpiah dalam keterangan rilis yang diterima pada Jumat (21/8).
Dari kegiatan tersebut, para perempuan tidak hanya mendapatkan ruang untuk berkumpul. Mereka juga memiliki kesempatan untuk belajar mengolah potensi lokal menjadi sesuatu yang memiliki nilai.
Mangrove yang sebelumnya mungkin hanya dilihat sebagai bagian dari lingkungan pesisir, perlahan dikenalkan sebagai salah satu sumber daya yang dapat dikembangkan secara bertanggung jawab.
Potensi yang Hampir Hilang
Namun, ada alasan lain yang membuat Mpok Piul begitu memperhatikan mangrove.
Ia melihat keberadaan mangrove di Desa Pantai Bahagia semakin berkurang akibat aktivitas manusia.
“Potensi yang ada di Desa Pantai Bahagia yaitu mangrove yang sudah hampir punah dan habis ditebang sama ulah manusia juga,” katanya.
Kondisi tersebut membuat Alpiah melihat perlunya pendekatan yang tidak hanya berbicara mengenai pelestarian lingkungan.
Menurutnya, masyarakat perlu memiliki alasan yang cukup kuat untuk ikut menjaga mangrove. Salah satunya dengan menunjukkan bahwa tanaman tersebut juga dapat memberikan manfaat ekonomi apabila dikelola dengan tepat.
Di situlah pemberdayaan masyarakat dan konservasi lingkungan kemudian bertemu.
Bukan Sekadar Bahan Olahan
Bagi Mpok Piul, mangrove memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar bahan baku produk.
Ada fungsi ekologis yang tidak boleh dilupakan.
“Karena mangrove itu bukan hanya mempunyai fungsi ekonomis, tapi fungsi ekologis yang pertama kali saya pikirkan. Mangrove ini mempunyai fungsi untuk kelestarian lingkungan hidup,” jelasnya.
Mangrove memiliki peran penting bagi kawasan pesisir. Keberadaannya membantu memberikan perlindungan terhadap tekanan gelombang, angin, dan abrasi.
Ekosistem tersebut juga menjadi tempat hidup berbagai organisme yang bergantung pada kawasan mangrove.
Karena itu, menurut Alpiah, pemanfaatan mangrove untuk kegiatan ekonomi tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan keberlangsungan ekosistemnya.
Masyarakat harus mendapatkan manfaat, tetapi pada saat yang sama harus ikut menjaga sumber daya yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Baca juga: Perahu Jadi Jalan ke Sekolah, Mahasiswa BSI Explore Soroti Akses Pendidikan di Pantai Bahagia
Ekonomi dan Ekologi Harus Berjalan Bersama
Pemikiran tersebut menjadi dasar bagi aktivitas UMKM Kebaya.
Mangrove dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk, tetapi keberadaannya juga harus dirawat agar tetap memberikan manfaat bagi lingkungan dan generasi berikutnya.
“Mangrove itu bukan cuma fungsi ekonomisnya yang kita pakai, tapi fungsi ekologisnya juga. Selain fungsi ekonomis, kemudian dari lingkungan yang damai, aman dari deburan ombak atau angin dan abrasi, akhirnya kita juga bisa memanfaatkan mangrove itu menjadi olahan kuliner,” tuturnya.
Bagi Alpiah, kedua kepentingan tersebut tidak seharusnya dipertentangkan.
Justru, ketika masyarakat memahami manfaat ekonomi dan ekologis mangrove secara bersamaan, muncul alasan yang lebih kuat untuk menjaganya.
Masyarakat memiliki kepentingan langsung terhadap keberlangsungan lingkungan tempat mereka tinggal.
Perempuan Pesisir dan Harapan Ekonomi Keluarga
Di balik aktivitas mengolah mangrove, terdapat cerita tentang perempuan-perempuan yang ingin ikut mengambil peran dalam perekonomian keluarga.
UMKM Kebaya memberikan ruang bagi mereka untuk mengembangkan keterampilan dan mengolah potensi yang berada di sekitar tempat tinggal.
Pemberdayaan tersebut menjadi penting karena kehidupan masyarakat pesisir tidak selalu memiliki akses yang sama terhadap berbagai peluang ekonomi.
Dengan memanfaatkan potensi lokal, perempuan dapat memiliki ruang untuk berkontribusi tanpa harus meninggalkan lingkungan tempat mereka tinggal.
Bagi Mpok Piul, kegiatan tersebut bukan hanya tentang berapa banyak produk yang berhasil dibuat atau berapa besar pendapatan yang diperoleh.
Lebih jauh, ia ingin membangun kesadaran bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi desa sekaligus menjaga lingkungannya.
Pesan Mpok Piul: Sayangi Bumi, Rawat Mangrove
Pesan Alpiah kepada masyarakat sederhana, tetapi memiliki makna yang besar.
Ia mengajak warga tidak melihat alam semata-mata berdasarkan nilai ekonominya.
“Janji sayangi bumi, untuk tetap merawat mangrove sebagai pelindung kita dari abrasi,” pesan Alpiah.
Baginya, menjaga mangrove berarti menjaga kehidupan yang berada di dalam dan di sekitarnya.
Ekosistem mangrove menjadi tempat hidup berbagai organisme, termasuk ikan dan kepiting. Ketika mangrove terjaga, kehidupan di kawasan pesisir pun memiliki peluang untuk terus bertahan.
“Mangrove juga harus dijaga untuk meningkatkan ekonomi kita, untuk memproduksi olahan mangrove dan lain-lainnya. Dan harus janji sayangi bumi, rawat mangrove sampai akhir hayat kita nanti,” ujarnya.
Dari Akar Mangrove, Tumbuh Harapan
Kisah Mpok Piul dan UMKM Kebaya memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat pesisir tidak selalu harus dipisahkan dari upaya konservasi.
Di Pantai Bahagia, dua hal tersebut justru dapat tumbuh dari akar yang sama.
Perempuan mengolah potensi lingkungan menjadi produk. Masyarakat mendapatkan peluang ekonomi. Pada saat yang sama, kesadaran untuk menanam dan merawat mangrove terus dibangun.
Dari tanaman yang tumbuh di kawasan pesisir, para perempuan menemukan kesempatan untuk berkarya.
Dari akar yang menahan abrasi, mereka belajar bahwa lingkungan dan kehidupan ekonomi memiliki hubungan yang tidak terpisahkan.
Mangrove akhirnya bukan hanya tentang apa yang bisa dijual. Bagi Mpok Piul dan perempuan pesisir Pantai Bahagia, mangrove adalah tentang bagaimana alam dijaga, perempuan diberdayakan, dan harapan ekonomi keluarga terus ditumbuhkan.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













