Milenianews.com, Klaten– IPB University memulai program Safari Mobil Klinik Tanaman perdana untuk membawa layanan konsultasi, mempercepat diagnosis, dan rekomendasi pengendalian hama dan penyakit tanaman langsung ke wilayah petani. Safari ini menjangkau tujuh sentra produksi padi, yakni Boyolali, Sukoharjo, Klaten, Demak, Grobogan, Indramayu, dan Subang (30/7/2026–4/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari IPB Quick Response menyusul laporan meningkatnya gangguan penggerek batang, wereng batang cokelat, dan tikus pada akhir musim tanam kedua tahun 2026.
Berbeda dari pola layanan yang menunggu petani datang membawa sampel ke kampus, Mobil Klinik Tanaman IPB University menghadirkan laboratorium berjalan ke sawah, kebun, dan desa. Petani dapat berkonsultasi langsung, menunjukkan gejala pada tanaman, dan mendiskusikan rekomendasi pengendalian berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Dengan begitu, persoalan petani dapat ditangani lebih cepat dan berbasis ilmu pengetahuan.
Dalam diskusi bersama petani, Dr. Rachmat, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian yang hadir secara langsung, mengemukakan pentingnya upaya pengendalian hama terpadu (PHT) dan kemandirian petani. Kedua hal tersebut merupakan syarat penting untuk mencapai ketahanan pangan nasional, terutama pangan pokok.
“Pemerintah mendorong penerapan PHT melalui sejumlah program, salah satunya pembentukan Pos Pelayanan Agens Hayati. Program ini mendorong agar petani semakin mandiri dalam pengelolaan tanaman,” ujarnya.
Rektor IPB University Dr Alim Setiawan Slamet dalam pemaparannya mengatakan bahwa IPB University terus berusaha mendekatkan diri dan memberikan layanan langsung pada petani dalam menyelesaikan berbagai persoalan nyata yang ada di lapangan melalui berbagai program pengabdian masyarakat.
“IPB sedang menjalankan pengabdian kepada masyarakat melalui 4.500 mahasiswa yang melaksanakan KKN di seluruh Indonesia. Selain mahasiswa, para pakar dan akademisi IPB hadir melalui program Dosen Pulang Kampung dan Klinik Tanaman untuk menemani masyarakat menghadapi tantangan, termasuk ledakan hama dan perubahan iklim,” ujarnya.
Ia menambahkan, “IPB sangat terbuka bekerja sama dengan masyarakat, perguruan tinggi di daerah, dan pemda (pemerintah daerah) untuk membangun inovasi serta menjawab berbagai tantangan tersebut.”
Kolaborasi Strategi Preemtif
Di Desa Sumber, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, tim IPB University yang dipimpin Guru Besar Fakultas Pertanian, Prof Hermanu Triwidodo, bekerja bersama Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LP2NU) Klaten dalam penyusunan strategi pengendalian preemtif untuk menyelamatkan produksi padi. Pendekatan ini menekankan pengamatan agroekosistem, identifikasi risiko sejak awal, dan pengambilan keputusan sebelum serangan berkembang menjadi ledakan.
Menurut Prof Hermanu, petani tidak cukup hanya diberi nama hama dan daftar obat. Hal lebih penting adalah memahami mengapa masalah muncul, kapan tindakan perlu dilakukan, dan cara mengendalikan tanpa merusak musuh alami serta kesehatan agroekosistem.
Baca Juga : IPB University dan KOICA Dorong Riset Biosains Indonesia melalui 2026 NICAB Workshop
“Diagnosis harus berujung pada strategi pencegahan yang bisa dijalankan petani. Dengan demikian persoalan bisa segera diatasi dan petani menjadi bagian dari upaya pengendalian hama penyakit tidak hanya sebagai obyek saja,” terang Hermanu.
Wardiyono, petani sekaligus Ketua LP2NU Klaten menyambut baik kegiatan ini karena sangat bermanfaat. Petani memerlukan dukungan dari pihak kampus untuk menyelesaikan berbagai persoalan terutama hama penyakit.
“Bagi kami, layanan seperti ini membuat jarak antara petani dan kampus menjadi dekat. Kami bisa menunjukkan langsung kondisi tanaman, memahami penyebabnya, lalu memilih tindakan yang sesuai. Harapannya pendampingan tidak berhenti pada kunjungan, tetapi terus membantu kami menghadapi musim tanam berikutnya,” tegas Wardiyono.
Selain di Klaten, safari akan berlanjut ke Desa Pasir, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak. Dengan kegiatan ini, Rektor IPB University berharap mendapatkan umpan balik bagi riset, pembelajaran, sistem peringatan dini, dan perbaikan layanan perlindungan tanaman. Pada saat yang sama, petani memperoleh akses yang lebih cepat terhadap pengetahuan dan pilihan pengendalian yang aman, efektif, dan sesuai kondisi setempat.








