Milenianews.com, Depok—Momentum Idul Adha bukan sekadar membangun kesadaran untuk berqurban. Tidak kalah pentingnya adalah momentum ketahanan keluarga.
Hal itu ditegaskan oleh Ustadz M. Iqbalur Ramadan C.P. saat menyampaikan khutbah shalat Idul Adha 1447 H di Lapangan PSP Sawangan, Depok, Rabu (27/5/2026).
Ustadz muda tersebut mengawali khutbahnya dengan sebuah retorika: “Hari ini, di bawah langit yang sama, jutaan bibir mengagungkan nama Allah. Namun, mari kita tanyakan pada hati kecil kita masing-masing: Apakah takbir yang kita ucapkan hari ini benarbenar lahir dari jiwa yang merdeka, ataukah ia justru menyelinap di antara isak tangis tersembunyi dari rapuhnya rumah tangga kita? Hari ini kita membicarakan qurban hewan. Namun, sadarkah kita bahwa di luar sana, bahkan mungkin di dalam rumah kita sendiri, ada yang sedang mengorbankan masa depan anakanaknya? Ada yang sedang mengorbankan kehormatan pasangannya?”
Ia mengajak para jamaah yang datang dari berbagai wilayah di sekitar Sawangan, Depok, untuk menatap potret keluarga di Indonesia hari ini dengan mata batin yang jujur. “Kita hidup di zaman di mana angka perceraian bukan lagi sekadar statistik di pengadilan agama, melainkan jerit pilu anak-anak yang kehilangan pelukan hangat orang tuanya. Kita hidup di masa di mana judi online dan pinjaman online telah merobek tirai ketenangan rumah tangga, mengubah baiti jannati (rumahku surgaku) menjadi neraka duniawi. Banyak ayah yang ada secara fisik, namun mati secara fungsi (fatherless). Banyak ibu yang letih jiwanya, tersesat dalam pelarian media sosial karena kesepian di dalam rumahnya sendiri,” ujar Ustadz Iqbal, panggilan akrabnya.
Dia muda Muhammadiyah itu melanjutkan, “Dalam keheningan Idul Adha ini, mari kita basuh luka-luka keluarga kita dengan berkaca pada keluarga suci di lembah Bakkah: Ibrahim, Hajar, dan Ismail ‘alaihimussalam.”
- Kekuatan iman Sayyidah Hajar di Lembah Sunyi
Ia mengajak para jamaah shalat Idul Adha yang digelar oleh Pengurus Muhammadiyah Ranting Sawangan Utara itu untuk membawa ingatan mereka pada peristiwa ribuan tahun lalu, saat Nabi Ibrahim meninggalkan Sayyidah Hajar dan bayi Ismail di lembah yang tak bertuan. Al-Qur’an menggambarkan tempat itu dengan sangat getir dalam Surah Ibrahim ayat 37:
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati.”
”Bayangkan perasaan seorang ibu. Tidak ada air, tidak ada dinding pelindung, tidak ada manusia. Ketika Ibrahim melangkah pergi, Hajar mengejarnya. Tangisnya pecah. Dalam Shahih Al-Bukhari, beliau bertanya, “Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi dan meninggalkan kami di sini?” Ibrahim tetap melangkah dengan hati yang remuk, tak sanggup menatap wajah istrinya. Hingga akhirnya, runtuhlah sifat kemanusiaan Hajar dan berganti dengan kematangan tauhid. Beliau bertanya, (Apakah Allah yang memerintahkanmu?). Ibrahim menjawab: (Ya). Mendengar kata “Allah”, bergetarlah jiwa Hajar. Beliau menyeka air matanya dan berkata dengan kalimat yang abadi: “Jika demikian, Allah tidak akan pernah menelantarkan kami.”


Iqbal mengutip kitab Tafsir al-Munir karya Syekh Wahbah az-Zuhaili. Di sana disebutkan bahwa kalimat ini adalah puncak dari tsiqah billah (kepercayaan penuh kepada Allah).
Ia juga mengutip Tafsir Ibnu Katsir yang menjelaskan bahwa kepasrahan Hajar bukanlah kepasrahan yang pasif. Ia berlari bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali demi mencari setitik air untuk bayinya yang menangis kehausan hingga kakinya menghentak bumi.
“Mari kita renungkan realita keluarga saat ini. Hari ini, banyak rumah tangga hancur karena lemahnya iman dan hilangnya rasa syukur. Ketika ekonomi melorot sedikit saja, caci maki merunyamkan suasana. Ketika suami diuji dengan kesempitan, istri kehilangan kesabaran. Sebaliknya, ketika suami diberi sedikit kelebihan, ia melupakan wanita yang menemaninya dari nol. Kita tidak lagi mengandalkan Allah (la yudhayyi’una), melainkan mengandalkan materi. Jika materi hilang, maka hilang pulalah ikatan pernikahan itu. Sayyidah Hajar mengajarkan kita arti support system terbaik. Ketika fondasi iman ditanamkan dalam rumah tangga, maka badai ekonomi dan kesulitan hidup tidak akan mampu meruntuhkan kesetiaan,” paparnya.
- Komunikasi Dialogis dan Kelembutan Seorang Ayah
Tahun-tahun penderitaan keluarga Nabi Ibrahim berganti menjadi kebahagiaan saat Ismail tumbuh menjadi pemuda yang menyejukkan mata. Namun, badai ujian kembali datang. Lewat mimpi, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih putra tunggal kesayangannya itu. Perhatikan bagaimana Al-Qur’an merekam dialog yang menggetarkan jiwa dalam Surah AsSaffat ayat 102:
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah, bagaimana pendapatmu?”
“Kita ketahui Ibrahim adalah seorang nabi. Perintah Allah adalah mutlak. Beliau bisa saja langsung menyeret Ismail dan menyembelihnya. Namun, Ibrahim memilih jalan dialog. Beliau memanggil anaknya dengan panggilan sayang, “Ya Bunayya” (Wahai anakku tersayang)—sebuah panggilan yang penuh kehangatan dalam kaidah bahasa Arab. Beliau menghargai pendapat anaknya,” kata Iqbal.
Ia mengutip Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, yang menjelaskan hal yang sangat menyentuh itu: “Ibrahim meminta pendapat anaknya bukan karena ragu terhadap perintah Allah, melainkan untuk menguji keteguhan hati sang anak, sekaligus memberikan ketenangan jiwa (thuma’ninah) agar perintah itu dilaksanakan dengan sukarela, bukan dengan paksaan.”
“Wahai Para Ayah yang budiman. Kapan terakhir kali kita duduk bersimpuh di samping anak kita, memegang pundaknya, menatap matanya, dan bertanya tentang isi hatinya? Pernahkah kita bertanya mengapa anak-anak kita lebih nyaman menumpahkan keluh kesahnya di media sosial atau orang asing, daripada menyampaikannya kepada ayahnya? Belum lagi maraknya fenomena fatherless (ayah ada fisiknya, namun hilang jiwanya) karena walau dekat secara fisik namun ayah tidak pernah hadir untuk mengisi tangki kasih sayang kepada anaknya. Ayah menuntut anak-anak menjadi saleh, sementara enggan melangkah ke masjid. Ayah sibuk memandangi gawai berjam-jam, namun tak punya waktu lima menit untuk mendengarkan cerita anak yang sedang terluka di sekolahnya,” kata Iqbal.
Ia mengutip Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah yang menyebutkan bahwa Ibrahim selalu menyempatkan diri menengok Ismail meskipun jaraknya sangat jauh, demi memastikan jiwa sang anak tidak merasa kehilangan figur ayah.
“Sementara kita? Kita dekat secara jarak, namun asing secara jiwa. Kisah Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa ketahanan keluarga dibangun di atas fondasi komunikasi yang demokratis, penuh cinta, dan religius,” tegasnya.
- Bakti dan Kepatuhan Seorang Anak bernama Nabi Ismail AS
Iqbal melanjutkan, mendengar pertanyaan sang ayah, apakah Ismail memberontak? Apakah ia berteriak menuduh ayahnya kejam? Tidak. Sungguh, jawaban Ismail adalah jawaban yang menyayat hati sekaligus mengagumkan: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Bahkan di riwayat lain dikisahkan betapa Ismail sempat berpesan kepada ayahnya: “Wahai ayah, ikatlah taliku dengan kuat agar aku tidak banyak bergerak yang bisa mengurangi pahalaku. Tajamkan pisau-mu, dan balikkan wajahku agar engkau tidak luntur iba saat melihat mataku.”
“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Walillahil Hamd. Mengapa Ismail bisa sesoleh ini? Jawabannya ada pada hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi: “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu”,” kata Iqbal.
Ia menjelaskan, Ibrahim dan Hajar menjaga hak-hak Allah dalam membesarkan Ismail. Mereka memberi makan dari harta yang halal, mereka mengajari tauhid sejak buaian. Maka ketika badai ujian datang, Ismail menjadi anak yang kokoh.
“Hari ini, kita bersedih ketika melihat generasi muda yang begitu rapuh. Ditegur sedikit oleh guru, melapor ke polisi. Diputus cinta, memilih mengakhiri hidup. Terjebak tawuran, narkoba, dan pergaulan bebas. Mengapa? Karena dari kecil, mereka dicekoki kemewahan materi, namun membiarkan ruhani mereka kelaparan,” ujarnya.
Ia mengutip kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali yang menegaskan bahwa, “Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya, hatinya yang suci adalah permata yang sangat mahal. Jika ia dibiasakan dan diajarkan kebaikan, ia akan tumbuh dalam kebaikan itu dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dan akhirat.”
“Jika hari ini anak kita jauh dari Allah dan Rosul-Nya, maka singkaplah sajadah malam kita, menangislah di hadapan Allah, barangkali itu adalah buah dari kelalaian dan dosa-dosa kita sebagai orang tua di masa lalu,” tutur Iqbal.
Di penghujung khutbahnya, Ustadz Iqbal mengajak seluruh jamaah shalat Idul Sdha 1447 di Lapangan PSP Sawangan untuk membawa kisah suci keluarga Ibrahim ke dalam ruang tamu rumahnya masing-masing. Menurutnya, keluarga Nabi Ibrahim lulus dari ujian berat ini karena mereka menghadapi ujian secara bersama-sama, bukan sendiri-sendiri. Sang ayah tidak egois, sang istri tidak menuntut di luar batas, dan sang anak tidak durhaka. Ketika pisau sudah di leher, Allah gantikan Ismail dengan seekor domba yang besar. Allah tidak butuh darah dan dagingnya, Allah hanya menginginkan ketakwaan dan ketahanan iman keluarga tersebut.
“Mari jadikan momentum Idul Adha ini untuk menyembelih ego-ego pribadi kita di dalam rumah tangga. Sembelihlah sifat amarah kita, sembelihlah ketidakpedulian kitake pada anak dan istri, dan sembelihlah cintaduniawi yang berlebihan yang seringkali merusak keberkahan nafkah kita. Mari bangun kembali puing-puing rumah tangga kita yang mungkin mulai retak. Ketahanan keluarga diIndonesia hanya bisa diselamatkan jika kita kembali ke meja makan untuk saling berbicara dengan kelembutan Ibrahim, saling menguatkan dengan ketangguhan Hajar, dan saling patuh dengan keikhlasan Ismail,” kata Ustadz M. Iqbalur Ramadan.









