AYPI, GUPPI IB, dan Badan Bahasa Nasional Gelar Seminar Nasional Pendidikan dalam Rangka Hardiknas

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), AYPI, GUPPI, IB, dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menyelenggarakan Seminar Nasional bertema “Pendidikan yang Bermutu untuk Semua dan Berkeadilan.”, Sabtu (9/5/2026). (Foto: Dok AYPI)

Milenianews.com, Jakarta– Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), AYPI, GUPPI IB, dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menyelenggarakan Seminar Nasional bertema “Pendidikan yang Bermutu untuk Semua dan Berkeadilan.”

Kegiatan yang berlangsung pada 9 Mei 2026 tersebut diselenggarakan di kantor Badan Bahasa Nasional dan menghadirkan sejumlah tokoh pendidikan sebagai narasumber.  Di antaranya, Hafidz Muksin selaku  Kepala Badan Bahasa Kemendikdasmen RI, Profesor Fasli Jalal, Ph.D selaku Ketua Umum Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam,  Dr. Jaka Warsihna, selaku Ketua Umum Yayasan IndonesiaBermutu, Dr. K.H. Adian Husaini selaku  Pimpinan PP At-Taqwa, Profesor Asep Sunandar selaku  Asdep Menko PMK, Dr. Deni Hadiana selaku Peneliti Pendidikan BRIN, dan moderator Dr. Rahmat Syehani.

Ketua Umum AYPI, Mirdas Eka Yora, dalam sambutan dan doanya menyampaikan bahwa pendidikan nasional Indonesia hingga saat ini masih menghadapi berbagai tantangan dalam mewujudkan sistem pendidikan yang berkualitas, bermutu, dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat. Hal tersebut tampak dari rendahnya capaian pendidikan Indonesia berdasarkan hasil PISA, serta masih adanya kesenjangan pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Selain itu, disparitas antara sekolah negeri dan sekolah swasta juga masih cukup terasa.

“Pendidikan nasional saat ini menghadapi sedikitnya delapan tantangan utama,” kata Mirdas Eka Yora. Kedelapan tantangan itu adalah:

  1. Kesenjangan kualitas pendidikan

“Mutu pendidikan di wilayah perkotaan dan pedesaan masih menunjukkan perbedaan yang signifikan. Sekolah di daerah terpencil masih banyak yang kekurangan guru, fasilitas, laboratorium, serta akses teknologi,” kata Mirdas Eka Yora.

  1. Rendahnya hasil belajar siswa

“Hasil survei internasional seperti Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa kemampuan literasi, matematika, dan sains siswa Indonesia masih relatif rendah dibandingkan banyak negara lain,” ujarnya.

  1. Kualitas dan pemerataan guru

“Tidak semua guru memperoleh pelatihan yang memadai. Selain itu, distribusi tenaga pendidik yang belum merata menyebabkan sejumlah daerah masih kekurangan guru berkualitas,” kata Mirdas.

  1. Fasilitas pendidikan belum merata

Masih terdapat sekolah dengan kondisi ruang belajar rusak, akses internet terbatas, serta minim perpustakaan dan laboratorium.

  1. Perubahan kurikulum yang terlalu sering.

“Pergantian kurikulum yang berulang membuat guru dan siswa kesulitan beradaptasi secara optimal,” ujarnya.

  1. Kurangnya pendidikan karakter dan adab

“Pendidikan sering kali terlalu menitikberatkan pada capaian akademik, sementara pembentukan karakter, etika, disiplin, dan adab belum mendapatkan perhatian maksimal,” kata Mirdas.

  1. Pengaruh perkembangan teknologi

Mirdas mengingatkan bahwa “Kemajuan teknologi memberikan manfaat besar, namun juga menghadirkan tantangan seperti distraksi media sosial, plagiarisme, dan menurunnya minat baca.”

  1. Ketimpangan ekonomi

“Banyak siswa dari keluarga kurang mampu mengalami hambatan dalam memperoleh pendidikan berkualitas, termasuk keterbatasan akses perangkat digital dan biaya pendidikan penunjang,” ujar Mirdas.

Kepala Badan Bahasa Nasional, Hidayat Muksin, dalam sambutannya menyoroti lemahnya kapasitas literasi nasional. “Bahkan, tingkat literasi sebagian dosen masih lebih rendah dibandingkan guru dan mahasiswa,” ujarnya.

 

Dalam pemaparannya, Dr. Adian Husaini menekankan pentingnya kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi utama kebangkitan dunia pendidikan. Ia juga menyoroti peran pendidikan sebagai “soko guru” pembangunan bangsa.

Sementara itu, Fasli Jalal menegaskan bahwa persoalan pendidikan nasional tidak hanya berkaitan dengan aspek akademik, tetapi juga menyangkut pembentukan karakter dan akhlak peserta didik. “Krisis karakter yang terjadi saat ini menjadi tantangan besar dalam dunia pendidikan Indonesia,” ujarnya.

Fasli Jalal  juga menyoroti persoalan pemerataan kualitas pendidikan dan keadilan gender. Padahal, sejak dahulu pendidikan nasional menempatkan pembentukan akhlak mulia sebagai tujuan utama pendidikan. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, dan bertanggung jawab.

Dr. Deni Hadiana  juga membahas pentingnya mentalitas sebagai kunci kualitas pendidikan. Keinginan untuk maju, berubah, dan berinovasi menjadi dasar utama dalam meningkatkan mutu pendidikan.

Baca Juga : AYPI, Yayasan Indonesia Bermutu dan Badan Bahasa Kemendikdasmen Gelar  Sawala Nasional Pendidikan Bermutu untuk Semua dan Berkeadilan

Sementara itu, Prof. Asep turut menyoroti maraknya persoalan karakter dan akhlak di berbagai lembaga pendidikan, termasuk yang terjadi di lingkungan pesantren.

Namun, dalam praktiknya,  kata dia, banyak guru saat ini merasa khawatir ketika memberikan teguran atau pembinaan kepada siswa. Tidak sedikit kasus di mana tindakan disiplin guru dianggap sebagai pelanggaran dan berujung pada laporan hukum atau kriminalisasi. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian guru menjadi kurang leluasa dalam menjalankan fungsi pendidikan karakter di sekolah.

Oleh sebab itu, diperlukan refleksi mendalam mengenai akar persoalan kualitas pendidikan nasional. “Rendahnya mutu pendidikan tidak semata-mata disebabkan oleh keterbatasan sarana dan prasarana, tetapi juga berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia, sistem pendidikan, serta manajemen pembelajaran,” ujarnya.

Ia mengemukakan, saat ini pemerintah menghadirkan berbagai program seperti Sekolah Garuda, Sekolah Rakyat, maupun sekolah berbasis integrasi. Program-program tersebut tentu memiliki tujuan baik dalam meningkatkan akses dan kualitas pendidikan. “Namun demikian, program tersebut belum tentu menjadi solusi utama apabila persoalan mendasar pendidikan belum dibenahi secara menyeluruh,” tuturnya.

Menurutnya, perbaikan kualitas pendidikan nasional tidak cukup hanya melalui pergantian kurikulum atau pembaruan materi ajar. Faktor terpenting dalam peningkatan mutu pendidikan adalah kualitas sumber daya manusia, terutama guru sebagai ujung tombak pendidikan. “Guru yang berkualitas, terlatih, dan mampu memahami kebutuhan peserta didik akan menjadi kunci utama kemajuan pendidikan,” tegasnya.

Ia juga mengatakan, berbagai pelatihan guru memang telah banyak dilaksanakan. Akan tetapi, mutu pendidikan sering kali belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Salah satu penyebabnya adalah terlalu sering terjadi pergantian kurikulum dan konsep pelatihan tanpa penerapan yang matang dan berkelanjutan.

“Akibatnya, para guru belum sempat memahami dan menguasai suatu konsep pendidikan secara utuh, tetapi sudah harus beralih pada konsep baru lainnya. Kondisi ini menimbulkan kebingungan dan ketidakstabilan dalam proses pembelajaran,” ujarnya.

Padahal, kata dia,  metode pendidikan dan strategi pembelajaran yang tepat sangat berpengaruh terhadap keberhasilan peserta didik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa metodologi pengajaran yang baik mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan. Sebagai contoh, terdapat pengalaman pendidikan di Papua, di mana siswa yang sebelumnya memiliki nilai matematika rendah mampu menunjukkan peningkatan prestasi setelah diterapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Hal tersebut membuktikan bahwa metodologi mengajar memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kualitas hasil pendidikan. Selain metode pembelajaran, faktor manajemen pendidikan juga sangat menentukan keberhasilan sekolah. Manajemen yang baik akan memberikan ruang bagi guru untuk berinovasi dan mengeksplorasi berbagai metode pembelajaran yang kreatif, efektif, dan sesuai dengan karakter peserta didik.

Dengan demikian, upaya mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu dan berkeadilan membutuhkan kerja sama dari seluruh pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, guru, orang tua, hingga masyarakat. “Pendidikan yang berkualitas bukan hanya tentang fasilitas yang megah, tetapi juga tentang hadirnya guru yang kompeten, sistem yang konsisten, serta pendidikan karakter yang kuat demi membentuk generasi bangsa yang unggul dan berakhlak mulia.,” kata Prof. Asep.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *