News  

MBG Kini Masuk Kampus: Proyek Ambisius Menuju Indonesia Emas Atau Sekadar Utopia Di Tengah Realita?

MBG Masuk Kampus
Sumber, Ilustrasi KMP

Milenianews.com, Jakarta – Sebelum ngebahas soal MBG masuk kampus, bagi sebagian besar mahasiswa yang merantau, urusan perut seringkali diselesaikan dengan sebungkus mi instan di akhir bulan atau sepiring nasi rames di warung pinggir jalan yang harganya ramah di kantong.

Urusan standar gizi? Ah, itu urusan belakangan, yang penting perut terisi, mata bisa melek, dan tugas kuliah bisa diselesaikan. Namun belakangan, wacana tentang urusan isi piring ini tiba-tiba naik kelas. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini lekat dengan siswa sekolah, kini secara resmi mulai mengetuk gerbang dan siap masuk ke setiap kampus di Indonesia.

Bukan sekadar membagikan kotak makan siang di sela-sela jam kuliah, pemerintah tampaknya ingin mengubah wajah perguruan tinggi menjadi motor penggerak utama program ini. Kampus tak lagi diizinkan hanya duduk manis di menara gading membaca jurnal keilmuan; mereka kini ditantang untuk turun tangan, meracik bumbu, dan memastikan jutaan mulut mendapatkan gizi yang layak.

Baca juga: Menghabiskan Separuh Usia di Perantauan: Saat Pemuda Banggai Menyadari Jarak Adalah Harga Mahal Sebuah Kedewasaan

Kampus Diminta Turun Gunung, Jadi Dapur Raksasa

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, membawa sebuah visi besar. Ia secara terbuka meminta perguruan tinggi untuk membangun dan mengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara mandiri.ini bukan sekadar tugas tambahan administrasi, melainkan sebuah peluang besar yang harus ditangkap oleh civitas akademika.

“Saya kira kampus perlu memahami ini, karena ini peluang besar. Minimal punya satu SPPG dulu, dan kalau bisa pasokannya berasal dari civitas akademika sendiri,” ujar Dadan dalam keterangan resmi yang dikutip dari CNBC Indonesia, Kamis (30/4).

Namun, mari kita lihat skala yang sedang dibicarakan. Untuk menghidupi satu unit SPPG saja, angkanya cukup membuat kita menarik napas panjang. Bayangkan, satu dapur ini membutuhkan pasokan beras yang setara dengan panen dari sekitar 8 hektare lahan sawah.

Belum berhenti di situ, untuk pakan ternak dibutuhkan 19 hektare lahan jagung. Dan jika kampus berambisi memasok telur sendiri, mereka harus memelihara sekitar 3.700 hingga 4.000 ekor ayam petelur setiap harinya.

Ini jelas bukan proyek main-main anak BEM atau tugas praktikum biasa. Dadan menegaskan bahwa kampus bisa menjadikan pengelolaan SPPG ini sebagai laboratorium hidup. Mahasiswa bisa turun langsung mengurus rantai pasok mulai dari pertanian, peternakan, pengolahan pangan, hingga alur distribusi.

Dengan kata lain, SPPG diharapkan menjadi offtaker atau penampung produk-produk lokal, menciptakan perputaran ekonomi dan ekosistem yang berkelanjutan di sekitar lingkungan kampus.

Baca juga: Bekal Telur Ceplok di Tengah Antrean: Kisah Pilu Warga Berjuang Menghidupkan Kembali “Napas” BPJS Mereka

Unhas Cetak Sejarah, Dapur Elit Dengan Standar Bintang

MBG Masuk Kampus
Sumber: TribunNews

Tantangan besar dari BGN rupanya tidak bertepuk sebelah tangan. Di kawasan timur Indonesia, Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar mengambil langkah berani dengan menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) pertama yang memiliki dapur MBG.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, yang meresmikan langsung fasilitas ini, menekankan bahwa kampus memang tidak boleh lagi sekadar menjadi penonton kebijakan. SPPG di Unhas ini dirancang sebagai “teaching factory“, sebuah tempat di mana riset dan ilmu gizi melebur menjadi praktik nyata.

“SPPG yang dibentuk di kampus tidak hanya mendukung program, tetapi juga dapat menjadi teaching factory. Fasilitas ini bisa dimanfaatkan sebagai tempat praktik mahasiswa, penelitian, serta pengembangan lebih lanjut program MBG di masyarakat,” jelasnya di SPPG Unhas Makassar, Selasa (28/4).

Yang membuat dapur Unhas ini istimewa adalah sentuhan teknologinya. Membuktikan bahwa mereka adalah institusi akademis, air yang digunakan untuk memasak dan minum di SPPG ini sudah melewati sistem teknologi reverse osmosis. Hal ini memastikan tidak ada lagi drama masalah pencernaan karena kualitas air yang buruk. Selain itu, sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang mereka miliki juga diklaim sangat baik dan dipersiapkan menjadi standar percontohan nasional.

Langkah fasilitas elit di Unhas ini menyusul inisiatif serupa yang sebenarnya sudah lebih dulu diambil oleh kampus swasta Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) pada awal Januari 2025 lalu, serta Institut Pertanian Bogor.

Baca Selengkapnya —> Antara Cita-Cita Indonesia Emas 2045 Dan Realita Isi Piring

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *