Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Lebaran di Palembang tidak selalu tentang ketupat, opor, atau rendang. Ada satu hidangan yang justru diam-diam jadi simbol kehormatan tuan rumah: nasi minyak. Bukan pempek, bukan tekwan, tapi sajian yang muncul ketika tuan rumah ingin benar-benar “all out” menyambut tamu.
Di sebuah rumah keluarga besar asal Lematang, Sumatera Selatan, nasi minyak tersaji lengkap. Sekilas tampilannya mengingatkan pada nasi kebuli atau kabsah khas Timur Tengah. Namun begitu disantap, karakter rasanya langsung berbeda—lebih lembut, lebih halus, dengan aroma rempah yang kaya tapi tidak berisik.
Nasi minyak dimasak dari beras lokal yang pulen, dimasak dengan kaldu daging, minyak samin, serta rempah seperti kayu manis, kapulaga, dan cengkih. Hasilnya nasi yang mengilap, harum, dan terasa “niat” dari suapan pertama.
Baca juga: Kereta Cepat Bukan Sekadar Cepat, Tapi Soal Siapa Menguasai Masa Depan
Lebih dari sekadar makanan, nasi minyak adalah simbol. Ia hadir di momen penting—pernikahan, syukuran, hingga hari raya—sebagai bentuk penghormatan kepada tamu. Dalam tradisi Palembang, menyajikan nasi minyak lengkap berarti menyuguhkan versi terbaik dari kebersamaan.
Satu set hidangan yang punya cerita

Nasi minyak jarang berdiri sendiri. Ia datang dalam satu set hidangan yang lengkap, dan menariknya, tiap daerah di Sumatera Selatan punya variasinya sendiri.
Di meja keluarga Lematang, tersaji malbi, rendang Palembang, perkedel kentang, acar nanas timun, pentol, hingga anam—hidangan yang mungkin belum banyak dikenal di luar daerah.
Anam, atau sering disebut anam tok, adalah semacam gulai ayam dengan karakter rasa unik. Warnanya kuning seperti opor, tapi rasanya lebih kuat di rempah, tidak terlalu manis, dan lebih “berani”. Yang bikin beda, di dalam kuahnya ada pepes kecil dari ati ampela yang dimasak bersama. Disajikan masih terbungkus daun pisang, memberikan sensasi yang jarang ditemui.
Malbi jadi bintang berikutnya. Daging sapi dimasak lama hingga empuk dengan bumbu kaya rempah dan kecap, menghasilkan rasa manis gurih dengan kuah kental yang nyaris karamel. Ini bukan sekadar semur—ini versi Palembang yang lebih dalam rasanya.
Peran penting sambal buah

Yang sering diremehkan tapi justru krusial: sambal.
Dalam hidangan ini, sambal bukan sekadar pelengkap, tapi penyeimbang. Ada sambal buncis yang berada di “zona abu-abu”—antara sayur dan sambal. Ada juga sambal kueni atau sambal nanas yang memberi rasa asam segar.
Di sinilah keseimbangan terjadi. Lemak dari nasi minyak dan daging “dibersihkan” oleh rasa asam dan pedas dari sambal. Setiap suapan terasa reset, bikin tidak cepat enek, dan justru pengen nambah lagi.
Pentol, di sisi lain, hadir sebagai pelengkap yang playful. Terbuat dari daging giling yang dibentuk bulat, direbus lalu digoreng, teksturnya renyah di luar dan lembut di dalam. Bukan pemeran utama, tapi bikin pengalaman makan jadi lebih ramai.
Lebih dari sekadar hidangan

Satu piring nasi minyak lengkap sudah cukup membuat kenyang, tapi meja belum selesai. Di sekelilingnya masih ada pempek, laksan, model, mie celor, hingga deretan kue seperti maksuba, delapan jam, dan bolu kojo.
Jelas, ini bukan sekadar makan. Ini perayaan.
Baca juga: Penang: Ketika Sejarah Disajikan di Setiap Meja Makan
Di balik itu semua, nasi minyak juga menyimpan jejak sejarah. Palembang sebagai kota pelabuhan besar membawa pengaruh Arab, India, hingga Tiongkok ke dalam dapurnya. Dari penggunaan rempah, teknik memasak, hingga bentuk olahan seperti pentol—semuanya adalah hasil pertemuan budaya.
Akhirnya, nasi minyak bukan cuma soal rasa. Ia adalah cerita tentang tradisi, tentang identitas, dan tentang bagaimana sebuah daerah menyambut tamunya dengan sepenuh hati.
Dan di hari Idulfitri, rasanya sederhana: makan, kumpul, dan saling memaafkan.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.






