Milenianews.com, Mata Akademisi – Hovland adalah salah satu tokoh model komunikasi yang berasal dari Chicago. Lebih uniknya lagi, Hovland merupakan jebolan dari bidang psikologi eksperimental di Universitas Yale. Sepak terjangnya hingga mampu menelurkan model komunikasi versinya memang cukup panjang. Komunikasi persuasive adalah hal yang paling identik ketika membicarakan model komunikasi Carl Hovland. Bagaimana tidak, ia bahkan harus terlibat dalam Departemen Peperangan Amerika Serikat terlebih dahulu di era Perang Dunia II. Sepertinya hal ini semakin menarik, mengingat rupanya model dari komunikasi bisa tercetus dari cetakan sejarah semacam itu.
Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, pada saat Perang Dunia II tercetus, Hovland diminta bekerja di Departemen Peperangan Amerika Serikat (sekarang Departemen Pertahanan). Di sana, Hovland diminta meneliti mengenai bagaimana pengaruh film terhadap moral dari perjuangan.
Baca juga: Dari Mimbar ke Media Sosial: Analisis Semiotik Dakwah Kontemporer Melalui Kacamata Roland Barthes
Dari hasil penelitian tersebut, didapatkan bahwa dengan hanya sekedar menonton film, rupanya tidak cukup kuat untuk mengubah sikap. Rupanya pemaparan film kepada tentara-tentara yang menjadi subjek penelitian kala itu hanya berfungsi untuk menyampaikan informasi saja, tetapi tidak memberikan perubahan perilaku yang signifikan.
Hovland kemudian kembali menelaah berbagai macam hal kemudian menemukan bahwa komunikasi menjadi bagian yang lebih penting (mengambil porsi lebih besar) dalam mengubah perilaku seseorang). Pengertian komunikasi menurut Hovland adalah suatu proses yang memungkinkan seseorang untuk menyampaikan rangsangan Berupa fungsi komunikasi nonverbal untuk mengubah perilaku orang lain.
Dari pengertian tersebut, bisa digambarkan bahwa komunikator bisa mengubah perilaku komunikan (orang yang diajak berkomunikasi). Ia menemukan hal ini dari apa yang telah menjadi bagian dari penelitiannya. Rupanya, para tentara yang diberikan atau diajak berkomunikasi langsung lebih cepat untuk mengubah perilakunya dibandingkan jika harus melihat film-film terlebih dahulu.
Proses Komunikasi Persuasif menggambarkan alur kerja/ tahapan pesan persuasif dikirimkan dari komuniktor hingga diterima dan diolah oleh komunikan. Carl Hovland adalah salah satu teoritis terkenal yang membuat model komunikasi persuasif pertama.
Prlov (2017) menyatakan Persuasif lebih banyak terjadi pada media online daripada secara tatap muka. Persuasi turut melibatkan proses simbolik di mana sebuah pesan akan mempengaruhi keyakinan dan sikap individu yang menerimanya, dan hal ini terjadi melalui media sosial. Namun Perloff juga menjelaskan bahwa tidak ada jaminan bahwa persuasi secara online akan berhasil dan postingan pada media sosial akan dapat memberi pengaruh secara luar biasa kepada individu.
Semuanya kembali lagi kepada peran komunikator persuasif yang harus mampu untuk meyakinkan orang lain akan sebuah ide, keyakinan, hingga perasaan akan suatu masalah. Carl Hovland pertama kali melakukan penelitian empiris pertama mengenai efek dari komunikasi persuasif. “The Yale attitude change approach” adalah pendekatan yang dikemukakan oleh Hovland untuk mengemukakan sebuah efek persuasi dari komunikator persuasif, di mana efek yang dihasilkan berdasarkan faktor dari kredibilitas seorang komunikator, daya tarik pesan yang disampaikan, serta kepribadian audiens (Perloff, 2017, p. 223).
Model komunikasi persuasif oleh Hovland menunjukkan adanya proses dari komunikan mempelajari setiap pesan persuasif yang diberikan oleh komunikator yang setelah itu membuat mereka mampu untuk merubah dan menentukan sikap. Dalam proses mempelajari pesan persuasif, 15 Komunikasi Persuasif Host…, Kezia Levianti, Universitas Multimedia Nusantara komunikan akan melewati beberapa tahapan diantaranya adalah attention (perhatian), comprehension (pemahaman), learning (pembelajaran), acceptance (penerimaan), dan retention (pengingat).
Carl Hovland mendefinisikan kegiatan komunikasi sebagai proses individu mengirim stimulus/pesan untuk mengubah perilaku orang lain. Menurut Hovland, secara umum, komunikasi dapat dikatakan sebagai proses pertukaran atau penyampaian pesan antara pengirim dan penerima pesan untuk mengubah tingkah laku. Sementara John Fiske (2004) mendefinisikannya sebagai interaksi sosial melalui pesan. Secara umum, komunikasi dapat dilihat sebagai: 1) Transmisi pesan, serta 2) Produksi dan sistem pertukaran makna. Pertama sebagai transmisi pesan, ia melihat komunikasi sebagai suatu proses di mana pribadi seseorang mempengaruhi pribadi yang lain.
Ia tertarik pada bagaimana pengirim dan penerima mengkonstruksi pesan (encode) dan menerjemahkannya (decode), dan dengan bagaimana transmiter menggunakan saluran dan media komunikasi. Bila efek yang terjadi tak sesuai dengan harapan, ia cenderung berbicara tentang kegagalan komunikasi, dan ia melihat ke tahap-tahap dalam proses tersebut guna mengetahui di mana kegagalan tersebut terjadi.
Singkatnya, ia cenderung memusatkan dirinya pada ‘tindakan’ komunikasi. Kedua sebagai produksi dan sistem pertukaran makna, ia berkenaan dengan bagaimana pesan berinteraksi dengan orang-orang dalam rangka menghasilkan makna. Yakni, ia berkenaan dengan peran teks dalam kebudayaan kita. Bila efek yang diharapkan tak terpenuhi, ia menganggap sebagai akibat dari perbedaan budaya antara pengirim dan penerima pesan, bukan karena adanya kesalahpahaman atau gangguan.
Penulis: Fadhilah Salsabila R., Mahasiswa Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.













