Galau Itu Wajib bagi Seorang Pemimpin

umi-fadillah

Mata Akademisi, Milenianews.com – Galau adalah sebuah kerisauan hati, galau menjadi sebuah kewajiban dan galau menjadi harus, karena anda adalah seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang amanah itu wajib risau dan harus galau, karena seorang pemimpin itu memiliki tanggungjawab atas yang dipimpinnya, seorang pemimpin wajib memikirkan kebahagiaan dari yang dipimpinnya. Termasuk berhati-hati atas segala laku dan ucapnya, galau dan risau atas lisan yang pernah terlontar, galau apakah lakunya tanpa dia sadari bisa mendzolimi orang lain yang dipimpinnya, galau apakah hasil analisis dan keputusan yang diambilnya menjadi mudharat atau manfaat bagi yang dipimpinnya, galau kelak di hari akhir sudah bisakah menjawab semua pertanyaan atas semua amanah yang khilaf tak terselesaikannya. Galau itu menjadi wajib sebagai alarm waktu agar senantiasa mengingat-ingat tanggungjawabnya yang tidak hanya akan dimintai di dunia tapi juga di akhirat, dan galau itu menjadi wajib agar senantiasa apa yang dilakukannya adalah akibat dari sebab yang sudah dilakukannya.

Seorang pemimpin disebut khadimul ummah (pelayan umat) karena sejatinya seorang pemimpin sejati adalah orang yang sanggup dan bersedia menjalankan amanah untuk mengurus dan melayani umat atau masyarakat yang dipimpinnya. Dan jika ada seorang yang tidak menjadi pelayan, atau mengurus masyarakatnya, maka dia bukanlah seorang pemimpin yang sesungguhnya.

Baca Juga : Tirakat KH Hasyim Asy’ari saat Mentashih Rumusan Pancasila.

Kepemimpinan adalah sebuah amanah dari Allah SWT, bukan jabatan yang hanya sekedar diminta apalagi dikejar dan diperebutkan, sebab kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang untuk memudahkan dalam menjalankan tanggungjawab melayani rakyat yang dipimpinnya. Semakin tinggi kekuasaannya maka seharusnya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang dipimpinnya. Untuk itu, seorang pemimpin wajib galau untuk kembali meintrospeksi dirinya, yang mengharuskan dia untuk lebih dekat lagi kepada penciptanya agar dia selalu dapat menangis dan mengadu kepada Allah memohon petunjuk dan ampunan atas setiap tindak dan lakunya.

Sebuah kisah teladan: Bilal datang untuk mengumandangkan adzan. Ketika melihat Rasulullah SAW sedang menangis, Bilal bertanya “Wahai Rasulullah, mengapa engkau menangis, bukankah Allah telah mengampuni dosa dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?”. Rasulullah saw berkata “Tidakkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur, aku telah menerima wahyu dari Allah pada malam ini, celaka bagi orang yang membacanya tapi tidak merenungkan kandungannya”. Ini sebuah kisah teladan yang patut dicontoh, seorang Rasulullah yang sudah dijaminkan masuk surga pun masih menangis karena khawatir atas apa yang sudah diamanahkan kepadanya, hingga Beliau takut dikatakan hamba yang tidak pandai bersyukur.

Ada empat sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin: yang pertama adalah shidiq yaitu jujur, kedua amanah yaitu kepercayaan, ketiga fathonah yaitu kecerdasan, keempat tabligh yaitu bertanggungjawab. Pertanggungjawaban atas pengangkatan seorang pemimpin akan dikembalikan kepada siapa yang mengangkatnya (kelompok/masyarakat) itu sendiri. Dengan kata lain suatu kelompok atau masyarakat harus sangat selektif dalam memilih pemimpin dan hasil pilihan dari mereka adalah “cermin” siapa mereka, sesuai dengan pepatah “sebagaimana keadaan kalian, demikian terangkat pemimpin kalian”.

Baca Juga : Berani Dewasa Sebuah Pilihan Hidup

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu kaum maka dijadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang bijaksana dan dijadikan ulama-ulama mereka manangani hukum peradilan. Juga Allah jadikan harta benda ditangan orang-orang yang dermawan. Namun, jika Allah menghendaki keburukan bagi suatu kaum maka Dia menjadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang berakhlak rendah. Dijadikan-Nya orang-orang dungu yang menangani hukum peradilan, dan harta berada di tangan orang-orang kikir”. (HR. Ad-Dailami).

Demikianlah seorang pemimpin dipilih dengan sangat selektif karena pertanggungjawabannya pun sangat berat, karena itu seorang pemimpin wajib galau agar senantiasa istiqomah dan mawasdiri dengan apa yang dipimpinnya, dia pun harus senantiasa mengingat pada kematian karena kelak apa yang dipimpinnya akan dimintai pertanggungjawabnya di peradilan Allah SWT.

Penulis : Umi Fadillah, Dosen Universitas Bina Sarana Informatika

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *