News  

Jasa mu Abadi Dok, Tiga Dokter Meninggal karena Corona

Tiga Dokter Meninggal Dunia

Milenianews.com, Jakarta – Tiga dokter yang berjuang melawan virus Corona meninggal dunia. Ketiganya dikabarkan tertular Corona saat menangani pasien yang terinfeksi. Meski sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit, namun nyawa mereka tidak tertolong.

Ketiga dokter tersebut adalah dokter spesialis syaraf Hadio Ali Khazatsin, dokter spesialis bedah Djoko Judodjoko, dan dokter spesialis telinga hidung tenggorokan (THT) Adi Mirsa Putra.

Baca Juga : Rusia Kirimkan Bantuan Medis ke Italia

Ketiga Dokter Meninggal karena Terpapar Corona

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Daeng M. Faqih mengungkapkan sudah ada tiga dokter yang meninggal dunia dan 32 petugas kesehatan yang terpapar COVID-19 karena merawat pasien yang terinfeksi Corona.

“Iya benar ada tiga dokter, dr. Adi Mirsa Putra asal Bekasi, dr. Djoko Judodjoko asal Bogor dan dr. Hadio dari Bintaro sudah meninggal, keadaan ini sudah urgent,” ungkapnya dilansir idntimes.com Minggu (22/3).

Dari informasi yang diterima, dr. Hadio dan dr. Adi Mirsa sempat mendapat penanganan di RSUP Persahabatan sedangkan dr. Djoko menghembuskan nafas terakhir di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

“Kabar yang saya terima, almarhum dokter Hadio meninggal hari Ahad (22/03) saat Subuh. Dokter Djoko meninggal Jumat (20/03) dan dokter Adi Mirsa meninggal pada Sabtu (21/03),” ucap dr Daeng.

IDI minta Pemerintah Segera Penuhi Kebutuhan Alat Pelindung

Pengurus besar IDI ini, membenarkan tiga dokter meninggal dunia akibat terserang virus Corona (COVID-19) usai menangani pasien yang positif terinfeksi virus. Untuk itu IDI meminta kebutuhan alat pelindung dari (APD) segera dipenuhi.

Baca Juga : Corona Mengancam Indonesia

Ia melanjutkan permintaan APD yang telah dikeluhkan dan disampaikan IDI hingga kini belum dipenuhi pemerintah.

“Kami berharap APD yang sangat penting ini mohon segera dipenuhi karena untuk keamanan dan perlindungan dokter agar tidak ada lagi korban meninggal karena tidak menggunakan APD yang memadai usai menangani pasien,” jelas dr Daeng. (Umi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *