Milenianews.com – Setiap tanggal satu, Ihsan (25) selalu membuka aplikasi perbankannya. Notifikasi gaji yang baru masuk tidak pernah benar-benar ia rasakan sebagai miliknya sendiri. Dalam hitungan jam, angka itu sudah terbagi ke beberapa rekening, sebagian ia kirim untuk orang tuanya di kampung. Ayahnya telah pensiun 5 tahun lalu, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga.
“Kalau bukan gue yang bantu, ya siapa lagi,” ujarnya.
Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Ihsan memiliki tanggung jawab lebih besar. Sejak awal bekerja, ia memang sudah berniat membantu orang tua. Namun seiring berjalannya waktu, hampir seluruh kebutuhan rumah bergantung pada transfer bulanannya.
Baca juga: Generasi Sandwich Terhimpit antara Harapan dan Realita
“Setiap tanggal satu itu campur aduk rasanya. Seneng karena gajian, tapi juga kadang kepikiran karena ada tanggungn lain, kadang harus benar-benar dihitung detail, salah atur sedikit, bisa kekurangan di akhir bulan” katanya.
Di usianya yang masih 25 tahun, Ihsan sebenarnya memiliki rencana pribadi. Ia ingin melanjutkan pendidikan S2. Ia juga sempat menabung untuk membeli laptop baru yang lebih mendukung pekerjaannya sebagai pengajar. Namun beberapa kali, rencana itu harus ditunda karena kebutuhan rumah yang lebih mendesak.
“kadang gue mikir, ini hidup gue kapan ya? Tapi habis itu langsung ngerasa bersalah karena orang tua udah ngebesarin gue sampai gue ada di titik ini,” tuturnya.
Fenomena Generasi Sandwich
Dikutip dari Detik.com, istilah generasi sandwich merujuk pada kelompok orang yang terhimpit tanggung jawab membiayai orang tua, sekaligus anggota keluarga lain. Mereka berada di “tengah” seperti isian sandwich yang ditekan dari dua sisi. Dalam banyak kasus, posisi ini muncul ketika orang tua sudah tidak lagi berada dalam usia produktif, sementara anak-anaknya belum sepenuhnya mandiri.
Bagi Ihsan, tekanan terbesar bukan hanya pada jumlah uang yang harus ia keluarkan, melainkan pada konsistensi.
“Sebenernya yang bikin berat itu pikiran. Takut kalau tiba-tiba ada yang sakit, takut juga kalau gue kehilangan pekerjaan. Rasanya nggak boleh gagal,” ujarnya.
Baca juga: Apa Sih Istilah Generasi Sandwich? Yuk Simak
Tekanan generasi sandwich sering kali datang bersama rasa dilema. Di satu sisi, ada keinginan untuk mandiri dan mengejar mimpi pribadi. Disisi lain, ada nilai tanggung jawab dan balas budi yang tertanam kuat dalam keluarga.
Ihsan mengaku pernah merasa iri melihat teman-temannya bisa menggunakan gaji untuk liburan ke luar negeri atau membeli kendaraan baru. Sementara itu, ia harus memprioritaskan kebutuhan keluarga sebelum memikirkan dirinya sendiri.
Namun, Ihsan tidak ingin melihat situasinya sebagai beban semata. Ia memandang kontribusinya sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus rasa terima kasih kepada orang tua.
“Dulu orang tua banting tulang buat ngehidupin gue, sekarang ya giliran gue yang ngebantu,” katanya.
Fenomena generasi sandwich menunjukan bahwa di balik produktivitas anak muda, ada tanggung jawab besar yang tidak selalu terlihat. Di tengah tuntutan ekonomi, mereka belajar bertahan, menjaga keseimbangan antara kewajiban dan harapan pribadi.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.







