Musik Pengantar Pemberontakan: Mengenang WR Supratman

Judul Buku   : Sang Penggesek Biola: Sebuah Roman Wage Rudolf Supratman.

Penulis          : Yudhi Herwibowo

Penerbit        : Pustaka IIMaN

Cetakan         : I,  2018

Tebal              : 406 hlm

Milenianews.com, Ngobrolin Buku– Magis. Ketikan bersejarah. Karya komponis besar berupa lagu kebangsaan Indonesia Raya telah menempatkan WR Supratman menjadi pahlawan paling serius soal imajinasi kemerdekaan, nasionalisme dan arus pergerakan politik kaum muda masa 1920-an.

Maka, dialah peletak dasar tafsir sekaligus mimpi kemerdekaan via lagu, sementara Chairil Anwar via puisi. Duo muda yang tak ada bandingannya kala itu. Duo muda yang goretannya melampaui SARA dan garis batas merdeka-dari menjadi merdeka-untuk. Lagu itu jadi puncak-puncak dari kesadaran nasionalisme dan kesanggupan mengabaikan nasib diri demi Indonesia.

Walau namanya begitu harum, hidupnya sering sakit dan penuh derita ketimbang mendapat keberlimpahan harta, pujian, dan penghargaan. Karakternya kuat dan teliti. Mentalnya crank dan melawan. Lakunya puitis dan imajinatif. Cintanya berliku dan bergelombang. Perjalanan pemberontakannya penuh bahaya dan berujung pada kemenangan.

Lagu kebangsaan Indonesia Raya pastilah lagu terlaris sepanjang masa di Indonesia. Lagu yang dinyanyikan barisan umat, umur, profesi dan seluruh warganegara. Sesungguhnya, lagu ini tersaji untuk mengungkapkan ide-imajinasi Indonesia yang merdeka, sudah dilantunkan sejak masa 1920-an. Isinya: bangun jiwa; bangun badan.

Bagi WR Supratman, membangun jiwa itu antitesa dari kolonialisme. Projek itu merupakan pondasi. Program itu merupakan kegiatan utama. Sebab, dengan jiwa yang kuat, nasionalis dan menempatkan kemerdekaan negara di atas nasib diri, maka merdeka baru nyata. Merdeka jiwa-raga.

Maka, membangun jiwa-raga ini menyiratkan makna, bahwa jiwa terlebih dahulu yang harus dibangun. Yakni membangun jiwa kebangsaan, ruh nasionalisme, semangat berbangsa dan bernegara, serta mental spiritual dengan sangat prima, harus menjadi prioritas utama. Setelah jiwa terbangun, baru membangun badan-raga (fisik-infrastruktur). Pembangunan fisik ini meliputi banyak hal, antara lain teknologi, industri, dan kemapanan atau kemandirian warganegara.

Tetapi, harus diyakini bahwa keduanya, yakni membangun jiwa dan raga, adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dengan harapan, generasi penerus yang akan datang, semakin baik dalam melanjutkan cita-cita kemerdekaan.

Praktek bangun jiwa itu senapas dengan revolusi mental. Sebuah kerja raksasa untuk mencetak manusia Indonesia yang berintegritas, bekerja keras, dan punya tradisi gotong royong. Bangun jiwa dan revolusi mental itu merupakan gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala.

Lahirlah jiwa yang merdeka, cara pandang baru, pikiran jenius, sikap kesatria, dan perilaku progresif karena berorientasi ke luar plus ke depan pada kemajuan dan hal-hal yang mandiri, modern, martabatif sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu memenangi serta memimpin semesta.

Mengingat program nasional membangun jiwa dan praktik revolusi mental semakin relevan bagi bangsa Indonesia yang saat ini tengah menghadapi lima problem pokok negara yaitu; hilangnya moral elite nasional; merosotnya wibawa negara; panen intoleransi dan gerak fundamentalisme agama; hancurnya sendi-sendi perekonomian nasional; pergantian konstitusi asli.

Lima problem pokok itu bersumber dari satu hal: khianat warisan pemikiran jenius pendiri bangsa. Padahal, kita hidup seperti sekarang karena jasa, pikiran, karya dan laku mereka. Tanpa mereka, tak ada Indonesia. Merekalah yang berikrar agar kita berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Dus, pembrontakan via musik dan lagu Indonesia Raya harusnya menghasilkan negara yang melindungi, menyejahterakan, mencerdaskan, mengamankan seluruh warga negara; membuat negara bebas aktif, menghadirkan agensi dan UU berbasis kepentingan nasional untuk menghasilkan negara-rakyat sejahtera.

Musik magis ini berpesan agar pemerintah membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, tepercaya, anti KKN dengan memberikan prioritas pada upaya memulihkan kepercayaan publik pada institusi-institusi demokrasi dengan melanjutkan konsolidasi demokrasi melalui reformasi sistem kepartaian, pemilu, dan lembaga perwakilan.

Sayang, kita sudah lama melupakan ide dan gagasan WR Supratman. Kita memang menyanyikan lagunya, tapi mengkhianatinya dengan tega. Akhirnya panen kepariaan di mana-mana.

Tak ingin jadi Malingkundang yang terkutuk, kami kreasikan kursus online bertema, “Pikiran Jenius Para Pendiri Bangsa.” Program dahsyat yang dikerjakan oleh dua lembaga: Pusaka Indonesia dan Nusantara Centre dihadirkan demi terealisasinya pikiran besar para pendiri republik. Ayok gabung yang tertarik.

Penulis: Yudhie Haryono, Rektor Universitas Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *