Judul buku: Nada yang tak Pernah Usai
Penulis: Tjutju Herawati, Mustiar Ar, Edi Susilo dkk
Penerbit: Lisa Publisher
Cetakan pertama: 2025
Tebal: viii+43 hlm
Milenianews.com, Ngobrolin Buku– Membaca puisi demi puisi yang dirangkai dalam buku ini hati kita seperti dibelai oleh melodi rindu yang tak pernah usai. Meski merupakan antologi bersama, puisi-puisi yang disajikan dalam buku ini membawa pesan dengan sentuhan yang sama: rindu.
Rindu yang melebur seluruh rasa dalam untaian bait dan sajak. Rindu akan nada indah semesta, rindu cinta yang menunggu dan tak kesampaian, rindu negeri yang indah dan jadi pusat peradaban, rindu ketika cinta tak menemukan cinta lagi, rindu kepada yang tak pernah tahu bahwa dia adalah sosok yang ditungggu, bahkan rindu yang terhempas ketika tak ditakdirkan bersama.
Mari Simak puisi “Nada Indah Semesta” karya Tjutju Herawati:
“…
…
Suara alam menjadi saksi kehidupan,
Air gemulai menari di antara bebatuan.
Rintangan bukan halangan,
Meliuk dan merentak hingga tiba di tujuan.
Irama kehidupan harmoni dalam ciptaan-Nya,
Semuaa berpadu dalam nada indah semesta.
Air kehidupan pun mengalir menuju hilir,
Ikhlas memeluk indahnya takdir.”
Simak pula puisi “Ketika Luka Menemukan Cinta lagi” karya Nisrina Nafsiyanah Muthmainnah:
“…
Tapi cinta, meski rapuh, tak lekas mau pergi,
Di sela marah, gema riuh rindu masih tetap bernapas.
Beribu kebaikan takkan terhapuskan,
Oleh salah satu yang mencuri damai hati.
Kini perlahan ego menepi memulihkan hati,
Aku memaafkan, ia menunduk mulai mengerti.
Permulaan ini jadi kisah abadi, lebih tulus dari janji,
Akhir bahagia dari luka yang terobati.”
Puisi karya Dwi Kurniawan Putra berikut ini sangat romantis. Judulnya “Kepala yang Tak Tahu, di Suramadu, Aku Menunggu”:
“Di ujung malam Surabaya, aku berdiri di tepian laut,
Menatap jembatan yang memeluk bulan,
Seperti harapan yan tak sampai-sampai,
Angin laut membawa dingin, namun hatiku lebih beku dari riak ombak.
Antara ingin melangkah atau menunggu,
Antara berjuang atau menyerah perlahan.
Di sana, bulan tergantung di puncak menara,
Menyala lembut di dada gelap langit.
…”
Getir tapi romantis, itulah yang dituangkan oleh Nur Iwan dalam puisinya yang berjudul “Ketika Kita tidak Ditakdirkan”:
“Merpati kita pernah terbang dalam mimpi yang sama,
Lalu jatuh di persimpangan takdir yang berbeda.
….”
Tapi pada saat yang sama, seberat apapun rindu dan sepahit apapun cita-cita dan cinta yang tidak kesampaian, getar optimisme tetap menguar dari pena para penyair yang karyanya dirangkum dalam buku ini.
Misalnya puisi karya Juli Sugianingsih, S.Pd yang berjudul “Kau Runtuhkan Aku, Kubangun Mahakarya”:
‘’…….
Kau hempaskan aku hingga menjadi serpihan tak bersisa,
Namun tidak serpihan itu menjelma doa dan daya.
Aku belajar bahwa luka bukan akhir segalanya,
Tetapi Rahim yang melahirkan makna dan cahaya”
Optimisme juga terasa dalam puisi “Lilin di Tengah Mentari” karya Roasih yang menggambarkan semangat perjuangan seorang guru:
“….
Meski badai kadang menghadang,
Waktu mengikis tenaga dan bayang
Namun, semangatku terus menjulang,
Karena cinta ini tak pernah hilang.
…”
Masih tentang perjuangan seorang guru, Nabilah Indah Zakiah mengukir puisi berjudul “Guru Bukan Beban Negara”:
“Guru bukan beban,
Guru itu pahlawan kehidupan.
Seseorang yang memberi pengetahuan,
Orang yang sangat berperan.
….
Jika kami dianggap beban,
Dalam negara tak akan ada sarjana.
Dan ingatlah satu kata,
Kami guru, bukan beban negara.”













