Cerpen  

Sewangi Bisik Seledri

sewangi bisik seledri

Tak ada angin, tak ada hujan, Denisa menemukan dirinya diberhentikan dari TK tempatnya mengajar yang terletak di jantung Kota Bogor itu. Ia jelas terkejut, apalagi tidak ada pembicaraan apapun sebelumnya dari kepala sekolah.

Karena hal itu, ia pun menemui kepala sekolah pagi ini.

“Saya mau minta penjelasan, Bu,” kata Denisa pada kepala sekolah, “kenapa saya dipecat? Apakah kinerja saya jelek? Atau saya melakukan kesalahan yang tak termaafkan?”

“Bukan saya yang memutuskan, Bu Denisa,” sahut ibu kepala sekolah.

“Lalu, siapa yang memutuskan?” tanya Bu Denisa.

Terdengar suara seseorang dari pojok ruangan. “Saya.”

Denisa menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria berdiri di sana, menatap lurus ke arahnya. Sontak langsung saja kepala sekolah memperkenalkannya.

“Bu Denisa, kenalkan, ini Pak Faiz. Anak ketua yayasan,” katanya.

Tanpa basa-basi, Denisa langsung bertanya pada pria tersebut. “Kenapa saya dipecat, Pak?”

Pria itu tak langsung menjawab.

Faiz menghela napas sebelum membuka mulut, “Saya ingin memberi jawaban, tapi tidak di sini. Kiranya maukah kalian ikut saya ke Puncak? Saya akan menjelaskannya di sana,” tanyanya ke Denisa dan kepala sekolah.

“Mengapa harus bertele-tele? Tidak bisakah Pak Faiz menjawabnya sekarang di sini?” Denisa agak emosi.

“Kalau begitu terserah Anda. Jika tidak mau ya tidak apa-apa. Tapi saya tidak mau menjawab alasan Anda dipecat.”

Melihat suasana yang mulai memanas, kepala sekolah mencoba menengahi, membujuk Denisa untuk mengikuti keinginan Faiz. “Saya rasa tidak ada salahnya kita ikuti Pak Faiz untuk ke Puncak, Bu. Mudah-mudahan di sana segalanya jadi jelas.”

Denisa berpikir sejenak. Diam-diam bergumam dalam hati, “Awas saja jika kalian berniat menjebakku. Gini-gini aku pemegang karate sabuk hitam.”

“Bagaimana, Bu Denisa?” tanya Faiz kemudian.

“Baiklah.”

“Kalau begitu kita naik mobil saya,” kata Faiz sambil menunjuk Mercedes Tiger hitam yang terparkir anggun di depan kantor yayasan.

Mereka pun berjalan menuju mobil Faiz.

“Siapa yang mau duduk di depan? Silakan,” kata Faiz setelah ia masuk ke dalam mobil duluan.

“Kami duduk di belakang saja, Pak,” sahut kepala selolah.

Mercy Tiger itu keluar dari gerbang sekolah menuju jalan tol. Dan dalam waktu kurang lebih 15 menit kendaraan roda 4 itu sudah keluar melalui pintu tol Gadog, bersiap memasuki Kawasan Puncak. Melewati Cipayung, Cisarua, Ciloto, Cimacan, Cipanas.

Di sepanjang perjalanan mereka tidak banyak bicara. Hingga akhirnya mobil berbelok ke Sate Maranggi Sari Asih di Pacet, Cipanas.

“Ibu-ibu, kita mampir dulu ya di sini. Rugi kalau ke Puncak enggak makan sate maranggi di sini,” ujar Faiz.

Faiz memesan lima belas tusuk sate daging murni dan lima belas tusuk sate daging campur lemak. Ia juga memesan enam uli bakar dan tiga gelas minuman jeruk hangat.

“Ada banyak yang jualan sate maranggi di sepanjang kawasan Puncak dari Bogor sampai Cianjur. Tapi menurut saya, salah satu yang paling enak adalah di Sari Asih ini. Racikan oncom dan tauconya paling top. Enggak heran banyak langganan dari berbagai kota yang mampir ke tempat ini,” tutur Faiz sambil menunjuk sebuah sedan mewah berplat nomor D (Bandung).

Denisa dan ibu kepala sekolah hanya mendengarkan.

“Warung sate maranggi ini buka dari pagi sampai lewat tengah malam. Konon kabarnya, sehari bisa habis sampai tiga ribu tusuk,” tambah Faiz, ingin berbagi cerita walau tahu tak ada yang meresponnya.

Kemudian mereka menikmati makanan masing-masing. Begitupun Denisa yang diam-diam masih terus memikirkan alasan Faiz memecatnya.

Melihat raut wajah Denisa yang tampak berpikir, Faiz mencoba mengajaknya berbicara, “Bagaimana bu Denisa? Enak sate marangginya? Semoga berkenan ya.”

“Enak, Pak. Terima kasih,” sahut Denisa tersadar dari lamunan.

Usai puas menikmati sate maranggi, mereka meneruskan perjalanan sekitar lima ratus meter. Sampailah mereka di dekat Masjid Al-Ikhlas yang berada di depan Restoran Rindu Alam 3.

Faiz membelokkan mobilnya ke jalan masuk dan berhenti di depan kebun seledri yang luas. Itu adalah lahan pertanian milik keluarga Faiz yang dibeli sepuluh tahun lalu. Semula lahan itu dikelola oleh masyarakat sekitar. Namun, sejak Faiz lulus dari IPB University lima tahun lalu, ia yang mengelola lahan pertanian tersebut, dibantu oleh beberapa penduduk sekitar. Lahan itu ditanami berbagai tumbuhan, antara lain: seledri, labu siam, bawang daun, dan wortel. Di antara semuanya, yang paling sering ditanam dan paling luas lahannya adalah seledri.

Faiz mengajak Denisa dan ibu kepala sekolah duduk di rumah panggung yang berlokasi di pintu masuk sawah. Mereka disambut oleh sepasang suami-istri yang menjaga rumah panggung tersebut  sekaligus membantu mengolah sawah.

Pasutri itu menghidangkan teh panas, kopi panas, dan singkong goreng yang masih hangat.

“Jadi, Bu Denisa mau tahu alasan saya memecat Bu Denisa?” tanya Faiz selepas menyeruput kopi panas.

Denisa menganggguk. “Iya, Pak. Tentu saja”

“Karena Anda terlalu cantik untuk menjadi guru TK,” terang Faiz sambil tersenyum.

Denisa tertegun.

“Sejak pertama kali saya datang ke sekolah kita dan melihat Anda menangani anak-anak dengan penuh cinta, kasih sayang, dan kelembutan… saya langsung mengambil kesimpulan bahwa Anda tidak cocok jika hanya jadi guru TK di Kota Bogor ini.”

Denisa bingung, seperti tidak siap akan fakta yang baru saja didengarnya ini.

“Kalau saya tidak cocok jadi guru TK, lalu menurut Pak Faiz, saya cocoknya jadi apa?” tanya Denisa penasaran.

“Anda cocoknya jadi istri saya,” kata Faiz tiba-tiba. Suaranya menggema di tepian sawah itu.

“Maaf, Pak Faiz. Saya tidak bisa menerima tawaran Anda,” sela Denisa.

“Ini bukan tawaran, Bu Denisa. Lebih tepatnya, lamaran,”

“Apapun namanya. Cita-cita saya jadi guru. Bukan jadi menantu pengusaha,” tegas Denisa.

Faiz menarik napas panjang. Ia menatap wanita di hadapannya yang juga balas menatapnya.

Sungguh teguh hati gadis ini,” bisik Faiz dalam hatinya.

Faiz menghembuskan napas, menatap Denisa dengan lembut. “Baiklah. Tapi bisakah kita ke petakan sawah di tepi jalan itu? Saya ingin menunjukkan sesuatu.”

Denisa melihat ke arah yang dimaksud Faiz sebelum akhirnya mengiyakan. Mereka kemudian berjalan beriringan dengan Faiz di depan. Sementara ibu kepala sekolah hanya menatap dari tempat duduknya,

Faiz dan Denisa tiba di depan sebuah papan yang ditutup kain warna hitam.

“Bu Denisa, tolong buka kain penutup papan ini,” pinta Faiz.

Agak ragu, Denisa membuka kain penutup tersebut. Dia terkejut saat membaca tulisan yang tertera di sana:

MOHON DOA RESTU

DI SINI AKAN DIBANGUN TK DENISA

Denisa menggigit bibirnya sambil memejamkan mata. Impiannya sederhana: mempunyai sekolah TK sendiri. Ini adalah cita-citanya dan bahkan jika sudah menikah pun, ia akan meminta izin kepada suaminya untuk mendirikan sekolah TK. Ia ingin mengabdikan dirinya untuk anak-anak yang merupakan bunga masa depan bangsa. Hal ini pun pernah ia ceritakan pada kepala sekolah dalam sebuah perbincangan ketika ia dan semua guru mengantar anak-anak mengunjungi sebuah kebun pertanian.

“Bu Denisa, teruslah menjadi guru TK. Tapi, maukah Ibu menjadi guru TK di desa ini? Didiklah anak-anak di sini agar menjadi orang-orang hebat yang mampu mengguncangkan dunia. Ajarilah mereka agama, ilmu, dan adab,” Faiz bertanya, “Bagaimana? Apakah Anda bersedia?”

Tanpa sadar, Denisa mengangguk. Air matanya menitik. “Insya Allah, Pak Faiz,” katanya.

“Alhamdulillah. Terima kasih, Bu Denisa.”

“Sama-sama, Pak Faiz.”

“Panggil saya Faiz, Bu Denisa.”

“Fa-iz. Kang Faiz,” suara Denisa bergetar.

Faiz tersenyum dan mengajak Denisa ke tepi dangau.

“Maukah Bu Denisa duduk sejenak di tepi dangau ini?”

Denisa mengangguk. “Dengan satu syarat,” pintanya.

“Apa syaratnya, Bu Denisa?” tanya Faiz penasaran.

“Panggil saya Denisa,” kata Bu Denisa sambil tersenyum.

“Baiklah, Bu Denisa—eh… Denisa,” kata Faiz.

Dan begitulah. Keduanya duduk bersisian di tepi dangau sambil memandang hamparan kebun seledri yang menghijau.

Dengan tatapan menerawang, Faiz berkata, “Desa Ciputri merupakan salah satu pusat sayuran seledri di Cipanas, Puncak. Sejak aku datang ke desa ini lima tahun yang lalu, aku selalu terpesona oleh wangi seledri yang diterbangkan oleh angin Gunung Gede. Hal itu selalu sukses membuatku jatuh cinta dan sangat menikmati tinggal di desa ini.  Aku sering duduk di dangau ini sambil memandang hamparan seledri yang menghijau bagaikan permadani raksasa sejauh mata memandang. Dan di saat demikian, aku merindukan seorang wanita yang dengan senang hati  membuatkan segelas kopi untukku, ditemani rengginang dan kue cincin atau di sini biasa disebut kue ali.”

Denisa tersenyum menanggapi. “Apakah wanita itu juga seorang petani?”

“Pastinya.”

“Bagaimana kalau wanita itu adalah seorang guru TK?” tanya Denisa sambil melemparkan senyuman paling manis yang pernah dilihat oleh Faiz.

“Petani sekaligus guru TK,” ralat Faiz membalas senyuman Denisa.

Sungguh, betapa ingin Faiz mencubit hidung Denisa yang bangir. Namun wanita itu belum halal baginya. Ia harus sabar menunggu beberapa waktu lagi.

Penulis: Irwan Kelana

Profil Penulis: Irwan Kelana adalah seorang cerpenis, novelis dan jurnalis. Telah menerbitkan 35 judul buku, yang terdiri dari novel, antologi cerpen, biografi tokoh, profil perusahaan, dan buku Islam. Sebagai penulis dan wartawan, ia telah memenangkan 20 kali lomba cerpen, novel, karya tulis dan karya jurnalistik tingkat nasional. Profesi wartawan dan penulis mengantarkannya keliling Indonesia dan 20 negara di empat benua. Ia pun kerap diundang memberikan ceramah jurnalistik maupun pelatihan sastra di berbagai kampus PTN dan PTS, pondok pesantren, sekolah maupun ormas di dalam dan luar negeri, termasuk memberikan pelatihan sastra dan jurnalistik di Al-Azhar University, Cairo lima kali (April 2003, Oktober 2003, 2005, 2008 dan 2013). Ia pun diundang menjadi dosen tamu di IPB University, UGM, UIN Jakarta, Institut  Ilmu Al-Qur’an (IIQ Jakarta), dan Institut Agama Islam (IAI) SEBI Depok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *